Diary Kiat (Tips)

Kenapa Kita Perlu Segera Bertindak?

Photo by Jessica Lewis on Unsplash

“There is no path till you walk it,” Ethan Hawke

Sebuah kutipan dari Ethan Hawke tersebut menyadarkan saya mengenai perlunya untuk bertindak.

“Tidak ada jalan sampai kita melaluinya.” Kata Ethan.

Saya kemudian teringat suatu masa ketika saya mengikuti pendidikan latihan dasar untuk menjadi pecinta alam pada saat saya berada di bangku kuliah.

Saat itu saya harus berjalan menembus semak belukar dengan vegetasi yang begitu padat dan tidak terlihat adanya satu pun jalan yang bisa ditembus.

Saya berdiri paling depan, kemudian di belakang saya ada anggota tim berjumlah 3 orang. Setelah itu barulah para mentor atau senior yang mengawal kami.

Saat itu panduan kami adalah titik koordinat yang harus kami tuju. Adapun yang ada dalam genggaman kami adalah kompas yang masih manual.

Tentu saja kami tidak diperkenankan membawa telepon genggam dan saat itu juga belum marak penggunaan Google Maps.

Karena itu, panduan kami adalah titik koordinat yang kami tahu arahnya sekian derajat dari Utara melalui kompas di genggaman.

Jalan yang harus dilalui untuk menuju ke titik koordinat itu tidak pernah saya ketahui sebelumnya. Mungkin saja ada jalan memutar yang tidak banyak semak belukarnya, yang mulus beraspal dan mudah dilalui.

Namun, kami tidak mengetahui hal itu. Sumber daya yang kami miliki pun sangat terbatas, hanya berupa peta yang menunjukkan koordinat, kompas yang menunjukkan arah perjalanan, dan parang sebagai pembuka jalan.

Dengan beberapa peralatan sederhana itulah kami menembus semak belukar untuk mencapai titik tujuan.

Pada awal memasuki semak belukar yang lebat itu, kami masih bersemangat menebasnya menggunakan parang. Sedikit demi sedikit kemudian jalan pun mulai terbuka, sehingga saya, anggota tim, dan para senior bisa melewatinya.

Namun, setelah sekian lama berjalan kami tidak tahu sudah sampai di mana, sudah sejauh apa, dan seberapa dekat lagi dengan tujuan yang harus dicapai.

Sementara itu, di depan semak belukar masih begitu padat, bahkan kian tinggi. Kadang juga ada duri. Tangan yang memegang parang itu rasanya sudah kebas. Sepertinya tenaga sudah tak ada lagi yang tersisa dan rasa putus asa mulai menghantui.

Namun, kami tak boleh dan tidak bisa menyerah karena itu misi yang harus diselesaikan.

Akhirnya, kami pun menemukan beberapa metode untuk menembus belukar itu. Salah satunya adalah dengan berjalan di depan bergantian untuk menebas semak belukar sementara yang lain terus-menerus memperhatikan arah perjalanan kami di kompas dan peta.

Akhirnya, ketika sore menjelang, kami pun tiba di akhir batas dari semak belukar dan sampai di sebuah hamparan rumput yang cukup luas.

Kemudian setelah kami melihat tanda-tanda alam di sekitar dan mencocokkannya dengan tampilan yang ada di peta, kami pun sadar bahwa saat itu telah sampai di tempat tujuan.

Tentu saja kami bergembira mengingat berbagai perjuangan yang telah kami lalui. Namun, kegembiraan itu secukupnya, tidak berlebihan, tidak juga bersorak-sorai dengan gegap gempita mengingat tenaga kami pun sudah habis.

Ketika teringat peristiwa itu, kemudian membaca kutipan dari Ethan Hawke, saya baru menyadari bahwa saat itu, kami harus melangkah menyingkirkan hambatan dan membuat jalan baru untuk menuju ke lokasi yang diinginkan.

Dari peristiwa di masa lalu dan kutipan dari Ethan Hawke yang baru saja saya baca di tahun ini, rupanya dalam kehidupan tidak terlalu banyak perubahan dan prinsip-prinsip dasarnya masih tetap sama.

Jika kita ingin mencapai suatu tujuan, maka belum tentu ada jalan yang terbuka lebar untuk menuju ke sana. Bahkan, seringkali yang terlihat jelas adalah berbagai hambatan dan tantangan yang menghadang kita di sepanjang perjalanan.

Akhirnya, pilihan kita hanyalah meneruskan perjalanan dengan beberapa sumber daya yang kita miliki sejauh mungkin dan mencoba semakin mendekati titik tujuan atau pilihan kedua, yaitu mengurungkan niat untuk mencapai tujuan dan memilih berputar, kembali ke tempat dari mana kita berasal.

Pada saat saya merefleksikan fenomena ini, maka kutipan dari Hawke tersebut benar-benar terjadi.

Tujuan saya adalah untuk berbagi dengan orang lain, membantu mereka dengan memberikan berbagai inspirasi agar orang lain dapat mencapai potensi terbesarnya dalam kehidupan.

Namun, saya belum mengetahui bagaimana cara melakukan hal itu atau dengan kata lain bagaimana cara menuju ke tujuan tersebut.

Yang saya ketahui hanyalah dengan membagikan pengetahuan yang saya miliki melalui blog yang saya kelola sendiri.

Namun, upaya-upaya tersebut tidak cukup berhasil karena semakin ke sini orang semakin jarang yang membaca blog. Pengunjung pun tak kunjung bertambah banyak, meskipun setiap hari hampir 100 orang selalu mampir.

Hingga kemudian saya mendapat sebuah masukan dari seorang teman. Dia bilang saat ini sudah tidak banyak orang yang membaca blog.

Perkataan dari teman saya tersebut terus terngiang dan kemudian saya mencoba melihat apa yang dilakukan tokoh-tokoh idola saya, seperti Simon Sinek, Jay Shetty, Yuval Harari, dan lainnya.

Satu hal yang sama di antara mereka adalah bahwa mereka menggunakan berbagai metode untuk menyebarluaskan ide dan layanan yang mereka tawarkan.

Saya melihat keberadaan mereka di berbagai situs dan di berbagai platform media sosial. Pendek kata, di hampir di semua tempat saya melihat kehadiran mereka.

Meskipun barangkali kita mengenal Simon Sinek sebagai seorang penulis buku dan motivator, tetapi kita bisa melihatnya ada di Twitter, ada di Facebook, ada di Instagram, dan ada juga di YouTube.

Setelah melihat fenomena itu, maka mulai muncul kesadaran dalam diri saya, bahwa mungkin saya pun harus turut serta beradaptasi dengan tuntutan para pengguna internet atau netizen saat ini.

Mereka tak hanya ingin diminta untuk membaca blog. Mereka memilih berbagai platform yang akrab dengan mereka saat ini.

Platform itu adalah seperti yang sudah disebutkan di atas, yaitu YouTube, Instagram, Twitter, Facebook, dan lainnya.

Kemudian, setelah melihat fenomena tersebut saya pun berkeinginan untuk bisa seperti mereka, hadir di banyak tempat dan mudah ditemui di mana saja di berbagai platform yang juga mereka gunakan.

Namun, hambatannya sangat besar, karena selama ini saya lebih familiar dengan dunia tulis menulis.

Saya tidak mengetahui satu pun strategi bermain di media sosial secara efektif. Kemudian bagaimana memproduksi konten, selain konten di blog saya?

Artinya masih banyak hal yang tidak saya ketahui jawabannya. Beberapa pertanyaan menjadi tantangan dalam perjalanan saya, seperti:

Bagaimana cara membuat suatu video yang baik untuk YouTube?

Bagaimana cara meraih perhatian di Instagram?

Bagaimana memanfaatkan berbagai fitur di Twitter?

Dari beberapa pertanyaan tersebut, intinya adalah hambatan yang harus saya hadapi jika saya akan mengikuti para tokoh tersebut cukup besar.

Namun, jika saya benar-benar ingin mencapai tujuan dan juga mewujudkan cita-cita untuk menginspirasi orang lain, membagikan pengetahuan, menyampaikan kisah yang mungkin bermanfaat, maka mau tidak mau saya harus mampu menyajikan berbagai hal melalui bermacam platform yang orang lain gunakan.

Oleh karena, itu saya pun nekat membuat suatu video hanya berdasarkan sebuah paparan yang sederhana. Isi video itu pun saya ambil dari blog saya.

Berbekal pengetahuan mengubah PowerPoint menjadi suatu video lengkap dengan narasi yang saya lihat di channel Om Yahya. Saya pun nekat membuat video menggunakan Power Point dan memasukkan suara saya sendiri ke dalam video tersebut.

Akhirnya, jadilah beberapa video yang sangat sederhana karena hanya berisi paparan yang sangat singkat dan suara saya di belakang atau latar belakang menjadi semacam narator yang menjelaskan paparan yang sedang disaksikan oleh para pendengar atau pemirsa.

Setelah video tersebut jadi, kemudian saya mengunggahnya di channel YouTube, tetapi sebelumnya tentu saya harus membuat channel yang baru karena terus terang saya belum pernah memiliki satupun.

Setelah itu saya pun tergoda untuk mencoba hal lain, yaitu menggunakan platform Instagram. kemudian saya juga rutin setiap hari menerbitkan tulisan di blog dan kemudian meneruskannya di Facebook, kemudian saya juga membagikan sebagai story di WhatsApp atau sebagai post baru di Instagram.

Bagi saya, semua hal itu itu masih baru dan belum pernah saya lakukan sebelumnya. Namun, lambat-laun saya pun mulai belajar mengetahui apa yang sudah sesuai dan apa yang masih kurang.

Selain itu, saya pun mengajak adik saya di kampung untuk berpartner dan menjadi kawan dalam perjalanan atau journey untuk menginspirasi dan bermanfaat bagi orang lain.

Dari fenomena tersebut, barangkali ada beberapa pelajaran yang dapat kita petik, yaitu terus berjalan menuju ke tujuan, meskipun sumber daya dan pengetahuan yang kita miliki sangat terbatas.

Persis seperti pada saat saya mengikuti Diklatsar. Saya sudah mengetahui ke mana tujuannya, di mana lokasi koordinatnya, kemudian arah perjalanan kita.

Kemudian setelah berjalan, perasaan khawatir, gentar, dan takut untuk melanjutkan perjalanan itu pun terjadi.

Pendek kata, rasanya lebih mudah untuk segera berputar arah, kembali ke tempat kita berasal ketimbang harus bersusah payah menembus berbagai rintangan dan tantangan untuk menuju ke tempat tujuan kita.

Namun, jika saya mengingat betapa membahagiakan saat sudah tiba di lokasi tujuan, maka kemudian saya pun berpikir, dan akhirnya memutuskan untuk terus berjalan, meskipun masih belum jelas seperti apa wujud dari lokasi tujuan tersebut.

Rasa bahagia itulah yang menyebabkan saya terus berusaha meluangkan waktu, tenaga, dan pikiran untuk merintis jalan menuju ke lokasi tujuan tersebut.

Saya kira, langkah pertama yang paling penting saat ingin meraih suatu impian, cita-cita, dan alasan kita hidup adalah segera melakukan tindakan.

Kita tidak bisa menunggu terlampau lama, sehingga semak belukar yang menghadang kita justru akan semakin padat dan akhirnya sukar untuk ditembus.

Saat ini yang paling penting bagi saya dan mungkin juga Anda yang sedang merintis adalah membuat suatu tindakan agar semakin dekat ke lokasi tujuan, menghilangkan berbagai aral yang melintang, dan terus melakukan tindakan.

Apakah anda tahu lokasi dan ke mana tujuan dari perjalanan hidup Anda sendiri?

Leave a Reply