Categories
Kiat (Tips) Komunikasi

Tiga Cara Mengubah Perilaku Orang Lain

Bagaimana caranya mengubah perilaku orang lain, misalnya untuk menghadapi pandemi COVID-19?

Sumber: needpix.com

Saat ini, pemerintah dan berbagai organisasi kesehatan mendapat tugas dan tantangan untuk mengubah perilaku masyarakat, misalnya bukan hanya meminta masyarakat untuk mempraktikkan sosial distancing, tetapi juga melakukannya selama beberapa hari hingga bulan.

Tidak mengejutkankan kemudian bahwa setiap pihak bergantung pada pendekatan tradisional untuk mengubah suatu perilaku. Cara yang ditempuh cukup sederhana, yaitu dengan memberi tahu apa yang harus dilakukan oleh masyarakat. Contohnya adalah dengan memberikan larangan untuk tidak pergi, jaga jarak 1 meter, cuci tangan, dan gunakan masker.

Banyak di antara kita yang telah mengikuti rekomendasi tersebut. Namun, memastikan bahwa setiap orang patuh dalam jangka waktu yang lama adalah suatu pekerjaan yang sulit. Beberapa orang masih juga kita temukan berkumpul, beribadah sesuai dengan perintah para pemukanya, dan tidak mengindahkan perintah untuk bekerja dari rumah.  Bahkan ada pula yang melakukan demonstrasi dan meminta bahwa dunia usaha perlu segera dibuka. Bahkan, lebih cepat daripada prediksi para ahli.

Berbagai kondisi tersebut menyebabkan upaya untuk mengubah perilaku yang berkesinambungan tidak terlalu efektif. Sebab, setiap orang merasa bahwa mereka sendiri yang seharusnya membuat pilihan-pilihan.  Kita ingin memutuskan sendiri saat melakukan suatu hal dan tidak ingin diperintah.

Dengan pemikiran seperti itu, ketika ada pihak lain yang memengaruhi pilihan atau keputusan, maka kita tidak akan serta-merta mematuhi pilihan atau perintah tersebut. Kita menolak pendekatan persuasif, sehingga tetap saja berkumpul bersama teman-teman, berbelanja lebih dari sekali dalam setiap minggu, termasuk mengkampanyekan tidak perlunya menggunakan masker. Kita menghindari melakukan apa yang diperintahkan karena tidak ingin ada orang lain yang mengontrol diri kita.

Radar dalam diri kita yang anti pada ajakan meningkatkan pertahanan dan kewaspadaannya, hingga memberikan peringatan. Bahkan yang paling parah adalah menghindari atau menolak saran atau perintah dari orang lain. 

Misalnya Gubernur telah menyampaikan atau memerintahkan untuk selalu berada di rumah, tetapi kita menganggap bahwa mereka terlalu berlebihan. Kemudian mungkin saja kondisi penyebaran virus memburuk di beberapa bagian dari sebuah negara, tetapi kita tidak mengenal satupun orang yang menderita atau terpapar dari virus tersebut. Di samping itu, banyak orang yang terpapar ternyata mereka baik-baik saja.

Jadi apa persoalannya? Orang-orang tersebut terus saja menyampaikan keberatannya, hingga kemudian pemerintah atau pihak yang berwenang kehilangan kekuatannya untuk mengajak dan pesan-pesan yang disampaikan pun tidak sampai kepada masyarakat.

Jika pesan pesan tersebut tidak berhasil dengan baik atau tidak menyadarkan masyarakat, maka apa yang bisa kita lakukan? 

Ternyata….

Daripada kita sibuk mengajak orang lain, lebih baik meminta mereka untuk mengajak dirinya sendiri. Cara ini diklaim lebih efektif.

Kemudian inilah tiga cara yang bisa dilakukan untuk meminta masyarakat melakukan hal yang perlu dilakukan dan untuk mengajak diri mereka sendiri.

Pertama adalah Menunjukkan Ketidaksesuaian

Anda dapat meningkatkan kesadaran, pemahaman, dan perasaan seseorang dengan mengontrol dan menunjukkan ketidaksesuaian antara pikiran mereka dan aksi yang dilakukan atau antara apa yang mereka sampaikan kepada orang lain dengan apa yang mereka sampaikan kepada diri sendiri.

Contohnya perintah untuk tetap tinggal di rumah bagi kebanyakan anak muda. Mereka mungkin akan menolak. Namun, kita bisa mencoba menanyakan apa saran dari mereka kepada lansia atau saudara mereka yang lebih muda.

Apakah mereka rela jika yang lanjut usia dan lebih muda keluar dari rumah dan berinteraksi dengan orang yang terinfeksi?

Jika mereka tidak rela, kenapa mereka berpikir bahwa keluar rumah itu hal yang aman untuk generasi muda?

Setiap orang sebenarnya mendambakan suatu konsistensi. Mereka ingin bahwa perilaku, pemikiran, dan tindakannya selaras. Jika kita bisa menunjukkan ketidakselarasan dalam pikiran dan tindakan mereka, maka itu akan mendorong anak muda untuk menyadari ketidaksinkronan antara pikiran dan tindakannya sendiri.

Contoh penerapan metode ini adalah para pekerja kesehatan di Thailand. Mereka menggunakan metode ini untuk kampanye anti merokok. Daripada menyarankan atau menyuruh para perokok untuk menghentikan atau menunjukkan bahwa kebiasaannya itu adalah suatu hal yang buruk, mereka meminta seorang anak kecil menghampiri perokok di pinggir jalan dan meminjam korek api.

Tidak mengejutkan, perokok itu justru mengatakan kepada anak kecil, “Jangan!”. Bahkan, banyak di antara para perokok yang memberikan kuliah kepada anak kecil baik cowok ataupun cewek mengenai bahaya dari merokok.

Kemudian anak kecil itu akan pergi. Namun, sebelum berputar menjauh anak itu memberikan sebuah catatan kepada perokok. Isinya kurang lebih adalah, “Anda mengkhawatirkan saya, tetapi kenapa tidak mengkhawatirkan diri sendiri?

Kemudian di bagian bawah catatan tersebut diberikan nomor call center yang dapat dihubungi oleh para perokok yang membutuhkan bantuan. Setelah tayangnya kampanye tersebut, panggilan ke nomor call center tersebut meningkat hingga 60%.

Cara kedua adalah dengan mengajukan pertanyaan

Ketimbang membuat suatu statement atau pernyataan, pemerintah dapat mengajukan pertanyaan. Seringkali, pesan yang disampaikan kepada masyarakat bersifat langsung. Misalnya: makanan cepat saji membuat anda gemuk, mengemudi dalam pengaruh obat-obat terlarang dapat membunuh orang lain. Namun, dengan menyampaikan beberapa hal yang sifatnya memaksa itu justru terkadang membuat orang merasa terancam.

Pesan tersebut dapat diubah ke dalam format suatu pertanyaan. Misalnya, apakah Anda merasa bahwa makanan cepat saji bagus untuk tubuh Anda? Jika jawabannya ‘tidak’, maka saat ini mereka berada dalam posisi yang sulit.

Anda mendorong mereka untuk mengartikulasikan pendapatnya. Mereka mempertaruhkan nama baiknya sendiri untuk mengakui bahwa hal tersebut tidak bagus. Kemudian apabila mereka telah melakukan hal itu, maka akan menjadi makin sulit untuk melakukan pembenaran pada berbagai kebiasaan yang buruk.

Pertanyaan mengubah peran dari pendengarnya. Daripada mereka membuat pendapat tandingan atau memikirkan berbagai alasan kenapa tidak setuju dengan suatu keputusan, mereka justru sibuk mengatur jawaban atas pertanyaan yang Anda sampaikan. Mereka menjadi perlu mengatur perasaan dan pendapat terhadap persoalan yang sedang dibahas.  Perubahan peran sebagai metode menyampaikan pesan akan meningkatkan keterlibatan dari berbagai pihak.

Tindakan tersebut akan mendorong orang untuk berkomitmen terhadap keputusan yang sudah disampaikan. Sebab meskipun orang tidak mau atau tidak bersedia mengikuti anjuran pemerintah, pemimpin, atau contoh orang lain, mereka akan bersedia untuk mengikuti pendapat mereka sendiri.

Jawaban dari pertanyaan yang diajukan bukanlah sembarang jawaban, melainkan jawaban mereka sendiri. Jawaban tersebut juga menjadi suatu cara untuk merefleksikan pemikiran mereka sendiri, kepercayaan, dan berbagai pilihan lainnya dalam hidup. Kemudian, jawaban itu juga menimbulkan dorongan untuk melakukan suatu tindakan.

Dalam konteks krisis yang dihadapi oleh manusia di seluruh penjuru dunia saat ini, pertanyaan yang mungkin muncul adalah seberapa buruk hal yang akan terjadi padamu? Bagaimana jika saudara atau kerabatmu mendapatkan penyakit atau sedang sakit?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut terbukti mampu mewujudkan suatu tindakan. Upaya ini ternyata lebih efektif daripada memberikan perintah dalam menghasilkan komitmen jangka panjang atau jangka menengah untuk berbagai upaya seperti social distancing atau praktik  untuk menjaga higienitas.

Cara ketiga adalah meminta  seseorang untuk melakukan sesuatu yang lebih sedikit baik itu intensitasnya ataupun kualitasnya.

Misalnya saja saat kita bertemu dengan orang yang menderita penyakit kolesterol karena hobinya menyantap makanan tertentu, maka ketimbang memerintahkan dia untuk berhenti sekaligus, kita dapat membuat suatu permintaan agar yang bersangkutan mengurangi secara bertahap. Misalnya biasanya membeli 10 porsi makanan berkolesterol tinggi untuk dimakan, esok hari dia bisa mengurangi menjadi tujuh porsi, esoknya lagi berkurang menjadi lima, kemudian tiga, dan akhirnya kosong.

Dalam krisis kesehatan seperti saat ini, maka organisasi kesehatan akan membuat suatu keputusan, misalnya setiap orang harus tetap berada di rumah selama kurang lebih 2 bulan lagi. 

Pendekatan yang bisa dilakukan kepada orang yang telah terlanjur melakukan praktik selama bertahun-tahun adalah dengan mengurangi permintaan di bagian awal dari kondisi yang biasanya terjadi

Cara lain yang bisa dilakukan adalah dengan mengurangi permintaan atau Anda dapat membuat permintaan yang sedikit di bagian awal dan selanjutnya meminta hal lebih besar. Buatlah  permintaan dari yang semula sedikit lebih dahulu  kemudian berangsur-angsur menjadi semakin banyak. Anda juga dapat membagi pekerjaan yang sangat besar ke dalam beberapa bagian yang lebih kecil dan lebih mudah dikelola.

Apakah Anda diminta untuk mendorong orang agar mempraktikkan pembatasan sosial, belanja seminggu sekali, mencuci tangan, menggunakan masker, atau melakukan perubahan kebiasaan secara lebih luas?

Seringkali untuk melakukan hal itu kita menggunakan pendekatan yang biasa, yaitu dengan memberikan perintah. Sebab kita selalu berasumsi hal itu akan berhasil untuk mengingatkan orang. Bahkan jika ditambah dengan menampilkan lebih banyak fakta, data, dan alasan yang muncul. 

Contoh lainnya, menyarankan pembatasan atau karantina seringkali tidak sesuai disampaikan untuk proses yang dilakukan dalam jangka panjang. Apalagi  jika permintaan yang disampaikan tidak dilengkapi dengan tanggal, bulan, serta dari siapa perintah atau permintaan tersebut.

Namun, upaya tersebut justru menjadi langkah mundur dalam proses pembatasan penyebaran COVID-19. Sebab, masyarakat akan kembali tidak patuh dan upaya Anda pun akan sia-sia.

Jika Anda memahami beberapa hal yang menjadi penghalang perubahan hingga menimbulkan penolakan, maka perlu dilakukan suatu taktik untuk mengatasi persoalan tersebut. Jika itu dilakukan, semoga kita dapat melakukan perubahan terhadap apapun dan siapapun

Sumber: HBR

Leave a Reply