Categories
Refleksi

Berkurban Saat Menjadi Korban

Mungkinkah kita berkorban saat menjadi korban?

Embun, Bening, dan Kambing.

Hari Minggu kemarin, Embun, Bening, dan saya menemui Pak Ustadz dan memintanya untuk menemani kami mencari kambing yang akan dikurbankan pada hari raya Idul Adha tahun ini.

Ini adalah pengalaman pertama bagi kami untuk mencari kambing sendiri.  Biasanya kami hanya menitipkan sejumlah uang dan orang lain yang akan mencarikannya.

Di Minggu siang yang panas itu, medan yang kami tempuh cukup sulit.  Kandang kambing itu berada di samping empang.  Nah, empangnya sendiri berada di samping rel kereta api.

Dengan mengendarai sepeda motor, kami bertiga bersama Pak Ustads dan salah satu koleganya yang berjualan kambing menuju ke lokasi kandang.

Bagi saya, medan yang harus dilalui bukan menjadi persoalan, tetapi bagi Bening menuju ke lokasi kandang itu menjadi tantangan tersendiri.  Kami harus melewati beberapa orang yang sedang memancing di empang.  Kemudian jalannya pun tak rata,  bahkan Bening sempat jatuh dan lututnya berdarah.

Namun, setelah sampai di kandang dan melihat kambing-kambing itu mereka kegirangan.  Mereka juga penasaran ingin melihat kambing yang lumayan banyak dan berdesakan di kandang yang sempit itu.

Kemudian sore kemarin kambing  yang mereka pilih akhirnya diantar ke masjid tempat  pemotongan hewan kurban.

Saya tahu akan sulit untuk menerangkan makna berkurban bagi anak kami yang baru berusia 5 setengah tahun seperti Embun dan Bening.  Mungkin sama sulitnya dengan mengartikan berkurban kepada orang dewasa di tengah berbagai kesulitan yang kita semua hadapi saat ini.

Namun, mungkin ada makna lain yang bisa kita petik saat berkurban di masa seperti ini.

Barangkali saat ini setiap orang menjadi korban dari situasi yang serba sulit karena pandemi Covid-19.  Nah, dalam situasi yang sulit tersebut, kita diperintahkan untuk berkurban pada hari raya Idul Adha tahun ini.

Ketika orang rela berkurban, maka dia akan bersedia melakukan berbagai hal yang tadinya sulit.  Di khotbah hari Jumat minggu lalu dan pada saat pelaksanaan shalat Idul Adha, seringkali disampaikan mengenai ketaatan Nabi Ibrahim yang mengurbankan putranya Nabi Ismail sebagai wujud cinta dan juga kepatuhan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa.

Peristiwa tersebut menunjukkan kepada kita bahwa mereka yang rela berkurban akan bersedia melakukan apapun untuk menunjukkan cinta dan ketaatan kepada sesuatu atau hal lain di luar diri mereka sendiri.

Dalam kondisi sulit seperti saat ini, maka kerelaan untuk berkurban benar-benar diuji.

Barangkali Anda menghadapi kesulitan ekonomi karena berbagai hal yang tidak bisa berjalan dengan normal pada situasi pandemi ini.  Misalnya, dalam kondisi biasa, maka Anda memiliki penghasilan-penghasilan tambahan yang lebih banyak, sehingga mampu menyisihkan sebagian di antaranya untuk berkurban.

Namun, tahun ini kelebihan dan tambahan itu mungkin tidak terjadi….

Meskipun di sisi lain, kita juga melihat bahwa banyak orang yang mengorbankan rezekinya untuk beberapa hobi yang saat ini marak.  Sebut saja orang-orang mempunyai hobi bersepeda,  bercocok tanam,  memasak,  atau hobi lainnya.

Pada kondisi demikian, kita benar-benar diuji, apakah akan merelakan rezeki yang sudah sedikit itu untuk berkurban dengan cara membeli hewan kurban untuk ikut merayakan Idul Adha dan menunjukkan kepatuhan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa?  Ataukah kita tidak rela mengorbankan rezeki kita  dan mempergunakannya untuk memenuhi hobi kita?

Bisa jadi Anda mempunyai beragam alasan untuk itu dan itu sah-sah saja, karena sejatinya rezeki adalah hak Anda sendiri untuk menggunakannya.

Namun, jika tahun ini Anda ingin berkurban meskipun bukan  dalam bentuk hewan kurban,  maka ada beberapa hal yang dapat Anda lakukan.

Misalnya saja kita dapat berkorban untuk orang lain.  terutama untuk kesehatan orang lain dengan cara tetap berada di rumah, kerja dari rumah, beribadah dari rumah, dan belajar di rumah.

Kemudian Anda pun bisa  berkorban dengan mematuhi berbagai protokol kesehatan yang sudah dianjurkan, seperti menjaga jarak, mencuci tangan, menggunakan masker, dan membatasi diri untuk berkerumun.

Semua hal itu memang sulit dilakukan dan karena itu memerlukan pengorbanan untuk melakukannya.

Selain itu, Anda pun dapat membantu orang lain dengan mengorbankan materi, waktu, dan juga mungkin keahlian.

Misalnya saja Anda mencoba membantu teman dengan membantu menjual beberapa barang dagangan mereka.  Mungkin Anda pun dapat memberikan dukungan kepada teman yang memiliki ide, layanan, atau produk dengan membantu menawarkannya kepada orang lain.

Atau jika Anda tidak mempunyai kesempatan tersebut, mungkin Anda mempunyai keahlian tertentu yang dapat menolong orang lain.  Bisa jadi keahlian Anda tersebut sangat bermanfaat bagi orang lain, katakanlah Anda mampu menulis, Anda dapat membagikan keahlian menulis itu kepada orang lain,   kemudian  Anda mampu menggambar,  maka Anda bisa melatih menggambar untuk orang lain.

Pendek kata Anda  membagikan keterampilan kepada orang lain yang dapat bermanfaat bagi mereka.

Mungkin Anda juga bisa mengorbankan waktu untuk menghubungkan orang lain yang saat ini sedang kesulitan kepada kawan-kawan lain yang membutuhkan bantuan tenaga atau keahlian.

Saat ini di situs LinkedIn, banyak usahawan atau mereka yang telah sukses membantu para pencari kerja dengan menghubungkan kepada perusahaan atau usahawan lainnya yang membutuhkan tenaga.

Saya kira itu pun adalah contoh pengorbanan yang dapat kita lakukan  pada masa yang sulit ini.  Jadi apa rencana Anda untuk berkorban tahun ini?

Ah ya, selamat merayakan Idul Adha.

Leave a Reply