Categories
Kebijakan Penanggulangan Bencana

Tiga Strategi untuk Mencegah Pandemi Di Masa Datang

Apa saja strategi yang perlu dilakukan untuk mencegah pandemi di masa datang?

Dalam merespon COVID-19 di tahun ini, mulai dari tes, kemudian perawatan rumah sakit, dan pemulihan ekonomi, diperkirakan merugikan perekonomian global sebesar 5,6 triliun dolar.

Sebuah studi yang dipublikasikan di majalah Science menunjukkan rencana untuk mengurangi risiko pandemi sebanyak 27% di masa yang akan datang. Rencana tersebut dilakukan dengan melakukan investasi selama 10 tahun. Upaya pencegahan tersebut diklaim 50 kali lebih sedikit dari biaya untuk merespon COVID-19 saat ini.

Dikembangkan oleh berbagai ahli, seperti kesehatan masyarakat, ekologi, ekonomi, dan epidemologi, strategi tersebut terdiri dari tiga hal, yaitu mengurangi deforestasi, pembatasan perdagangan hewan-hewan liar, dan pemantauan kepada virus-virus baru sebelum dia mulai menyebar.

Guna memahami kenapa perlindungan alam penting untuk menyelamatkan perekonomian global dan ribuan kehidupan, situs Conservation berbicara dengan 3 penulis penelitian tersebut, yaitu para peneliti dari  Conservation Internasional: Lee Hannah,  Jorge Ahumada, dan Patrick Roehrdanz.

Berikut ini terjemahan artikel dari Situs Conservation. Tiga strategi untuk mencegah penyebaran pandemi di masa yang akan datang adalah:

Strategi pertama: mengurangi deforestasi atau penggundulan hutan

Pada abad terakhir, setiap tahun ada dua virus yang dapat menyebar lewat udara. Jumlah tersebut mungkin akan terus meningkat di tahun-tahun yang akan datang.

Para ahli berpendapat bahwa deforestasi atau penggundulan hutan menjadi alasan dari peristiwa tersebut.

Penelitian menunjukkan bahwa perubahan penggunaan lahan akibat pembangunan dan juga perluasan lahan pertanian menjadi pendorong terjadinya penyakit yang baru. Ketika manusia merambah semakin dalam hutan-hutan yang masih perawan, mereka juga rentan berhubungan dengan binatang-binatang dan penyakit bawaan. Proses ini disebut sebagai limpahan virus atau virus spillover.

Virus yang melimpah dan berlebihan dapat terjadi pada berbagai kondisi, seperti perburuan hewan liar dan belanja di pasar hewan liar atau ikan.

Risiko terjadinya virus spillover juga akan semakin tinggi ketika negara-negara membabat hutan untuk membuat jalan, usaha pertanian, berbagai infrastruktur lainnya. Aktivitas tersebut akan menyebabkan suatu tepi atau perbatasan baru antara manusia dan hutan yang dapat meningkatkan risiko keterpaparan kepada mereka yang melakukan kontak dengan binatang dan kemudian penyakitnya dapat menginfeksi manusia

Laporan-laporan menunjukkan bahwa angka atau laju deforestasi meningkat 3% sejak tahun 2019. Planet Bumi mengalami hilangnya hutan seluas lapangan bola setiap 6 detik.

 Oleh karena itu, diperlukan suatu strategi untuk mengurangi deforestasi.

Sebenarnya hanya 10% dari hutan tropis yang menyebabkan penyebaran penyakit dan lebih dari separuhnya dapat menyebabkan risiko global penyebaran penyakit.

Terjadinya penyebaran virus dari hewan atau proses limpahan virus dari binatang ke manusia memerlukan investasi di masa depan untuk mengurangi deforestasi di hutan tropis. Langkah ini tidak hanya menyelamatkan hutan tropis, tetapi juga diperlukan untuk mencegah pandemi berikutnya.

Investasi antara 1,5 juta dolar hingga 9,6 juta dolar dapat mengurangi laju deforestasi  yang bertanggung jawab pada terjadinya tumpahan virus sebanyak 40% di area yang berisiko tinggi. Namun, strategi tersebut akan bervariasi tergantung dari kondisi politik, ekonomi, dan lingkungan.

Penelitian tersebut juga menjelaskan bahwa mengurangi deforestasi tidak merugikan pertumbuhan ekonomi. Justru menerapkan strategi yang berkelanjutan, seperti mengurangi subsidi kepada pertanian yang mendukung pembabatan hutan sebenarnya dapat menyelamatkan perekonomian suatu negara.

Sebagai contoh adalah apa yang terjadi di wilayah Alto Mayo di negara Peru. Wilayaha tersebut adalah sebuah area yang tadinya memiliki laju deforestasi yang sangat tinggi. Namun, saat ini dilindungi oleh lebih dari 848 keluarga petani lokal kopi yang mendapatkan keuntungan secara langsung dari penjualan karbon dan tanaman kopi yang berkelanjutan.

Kuncinya adalah mendukung pengurangan deforestasi kemudian pada saat yang sama memberikan dukungan berupa sumber pendapatan alternatif untuk para petani lokal yang dapat memberikan mereka keuntungan.

Secara keseluruhan, penelitian ini menunjukkan bahwa mengurangi laju deforestasi dapat menyelamatkan atau menghemat 3,7 juta dolar dengan mengurangi polusi gas rumah kaca dan mengurangi atau memitigasi kerusakan yang terjadi kemudian karena perubahan iklim. Investasi pada pengurangan laju deforestasi untuk mengontrol penyakit dapat dilakukan, jika upaya untuk mengurangi perubahan iklim diperhitungkan.

Kuncinya adalah sangat penting untuk mencegah berbagai penyakit yang akan datang. Hal ini dapat dilakukan apabila negara atau pebisnis memberikan insentif untuk melindungi hutan daripada merusaknya.  Oleh sebab itu, upaya ini  bukan hanya bagus untuk kesehatan masyarakat tetapi juga menurunkan laju perubahan iklim.

Strategi kedua adalah membatasi perdagangan hewan liar.

Para peneliti menyebut pasar yang menjual hewan-hewan liar laksana ranjang panas untuk penyakit, karena di tempat inilah asal dari berbagai penyakit termasuk wabah SARS pada tahun 2003.

Namun demikian, pasar hewan liar tersebut adalah puncak dari gunung es yang bernilai jutaan miliar dolar dan menjadi bagian dari perdagangan hewan liar secara global.

Didorong oleh permintaan  makanan yang berasal dari hewan liar  dan industri hewan peliharaan eksotis, maka pasar global untuk hewan liar menghasilkan sekitar 23 miliar dolar setiap tahunnya. Namun, hal ini menyebabkan kerugian pada kesehatan masyarakat.

Perdagangan hewan liar menyebabkan suatu spesies dapat memiliki kontak dengan spesies lainnya dan termasuk memicu jenis-jenis penyakit yang sebelumnya tidak akan pernah terjadi, ketika spesies-spesies tersebut tidak pernah melakukan kontak secara alami di alam liar.

Ketika binatang-binatang liar tersebut dijual belikan secara internasional, risiko merebaknya penyakit dapat menjadi suatu pandemi dan dapat terjadi peningkatan penyebarannya dengan pesat.

Berdasarkan penelitian terbaru, langkah pertama untuk mencegah hal itu adalah dengan melakukan pelarangan perdagangan nasional dan internasional beberapa spesies yang mempunyai risiko tinggi untuk menyebarkan penyakit, seperti kelelawar

Kemudian langkah keduanya adalah memastikan kebijaksanaan itu diterapkan dengan baik. Seiring dengan terjadinya krisis kesehatan masyarakat, Tiongkok menggumumkan di bulan Maret tahun 2020 tentang larangan menjualbelikan hewan liar dan mengonsumsi hewan-hewan tersebut.

Kebijakan tersebut rupanya mampu mengurangi permintaan hewan liar, bahkan di seluruh dunia. Namun, yang peling penting adalah bahwa penerapan lebih penting dari pelarangan itu sendiri.

Industri pertanian di Asia Tenggara seringkali digunakan sebagai saluran berbagai hewan liar yang diperjualbelikan secara ilegal ke pasar yang lebih luas atau internasional.

Oleh sebab itu, maka kita perlu memberikan dana kepada organisasi yang mengetahui bagaimana cara menelusuri dan menerapkan larangan jual beli hewan liar, sehingga mereka mempunyai dampak jangka panjang untuk pencegahan penyakit

Di tingkat global The Convention on International Trade in endangered species of fauna and flora (CITES) bertanggung jawab untuk melakukan pemantauan perdagangan hewan liar. Sementara WENs Adalah jaringan regional yang menerapkan peraturan di tingkat lokal.

Agar dapat secara efektif mencegah perdagangan hewan liar, maka anggaran dari organisasi-organisasi tersebut perlu ditingkatkan sekurang-kurangnya 250 juta dolar setiap tahun.

Strategi ketiga adalah meningkatkan deteksi virus lebih awal.

Pada 30 Desember 2019, kasus pertama covid 19 dikonfirmasi di Wuhan China. Sementara itu, penelitian terbaru mengungkapkan bahwa virus tersebut telah menyebar di Kota Wuhan tanpa terdeteksi sejak bulan November dan kemudian memicu pandemi saat tersebar ke seluruh penjuru dunia

Menurut Hannah, kunci untuk mencegah wabah senyap ini adalah dengan menginvestasikan dana pada program penelitian untuk mendeteksi penyebaran penyakit di sumbernya secepat mungkin setelah penyakit tersebut mulai merebak.

“Banyak terjadi peristiwa keterpaparan manusia pada berbagai penyakit karena hewan yang tidak dilaporkan di seluruh dunia.” Kata Hannah.  Oleh karena itu, kita perlu secara aktif melacak dan mencegah terjadinya tumpahan virus di area yang penuh dengan manusia dan di area di mana manusia melakukan kontak secara intensif dengan binatang liar. Hal ini termasuk di wilayah pertanian kemudian peternakan. Upaya ini perlu dilakukan sebab penyakit yang disebabkan oleh hewan seperti flu burung dapat muncul dari kontak antara manusia dengan ternaknya.

Berbagai organisasi seperti EcoHealth Alliance telah menjalankan program untuk memonitor penyakit karena hewan. Namun, mereka tidak mampu untuk melakukan pemantauan pada skala global karena keterbatasan dana.

Penelitian ini menyebutkan bahwa investasi sekurang-kurangnya 1,5 juta dolar di tiap agensi akan meningkatkan upaya pencegahan terhadap penyakit.

Dengan mengidentifikasi wilayah yang paling rentan terjadinya tumpahan virus, maka negara-negara di dunia dan masyarakat akan memperoleh keuntungan dari strategi pencegahan penyakit. Selain itu, akan diperoleh juga perlengkapan untuk mencegah kontak antara manusia dengan hewan ternak, infrastruktur  sanitasi yang efektif, dan program pendidikan.

Namun yang paling penting dilakukan, paling efektif, dan paling hemat untuk menanggulangi pandemi adalah dengan memastikan hal itu tidak terjadi.

Leave a Reply