Categories
Penanggulangan Bencana

Empat Assessments dalam Penanggulangan Bencana

Apa saja assessment atau kajian yang biasa dilakukan dalam upaya penanggulangan bencana?

Upaya penanggulangan bencana tak pernah lepas dari berbagai assessment atau kajian.

Kegiatan assessment akrab bagi insan penanggulangan bencana yang bekerja untuk NGO, LSM, maupun lembaga pemerintahan.

Secara umum, kajian atau assessment dilakukan untuk mengetahui apa yang diperlukan dalam setiap tahap penanggulangan bencana. Oleh sebab itu, di setiap tahap memiliki kajiannya masing-masing. Tahapan ini, seringkali disebut juga sebagai siklus penanggulangan bencana, yang terdiri dari masa prabencana, saat terjadi bencana, dan pascabencana.

Tulisan ini mungkin belum mencakup seluruh assessment atau kajian yang biasa dilakukan dalam siklus penanggulangan bencana. Namun, setidaknya tulisan ini memperkenalkan empat dari banyak assessment yang biasa dilakukan dalam upaya penanggulangan bencana.

Mari, kita langsung mulai saja:

1. Kajian Ancaman (Hazard)

Kajian atau assessment bencana dilakukan sebelum terjadinya bencana. Tujuannya untuk menentukan sejauh mana kemungkinan atau kecenderungan dari satu kejadian bencana terjadi di suatu daerah. Kajian ini juga dilakukan untuk mengidentifikasi langkah-langkah pengamanan yang diperlukan untuk mengidentifikasi dan memitigasi bencana.

2. Kajian Risiko Bencana

Kajian risiko bencana adalah tindak lanjut dari kajian bencana yang telah disebutkan pada poin pertama. Apabila pada kajian bencana hanya menilai kemungkinan terjadinya suatu bencana, maka pada kajian risiko bencana dinilai pula kecenderungan kerugian dan korban bila bencana tertentu terjadi di suatu wilayah. Selain kedua hal tersebut, penilaian juga dilakukan pada layanan, mata pencaharian, dan lingkungan yang berisiko terdampak bencana.

Oleh sebab itu, seringkali kajian risiko bencana melibatkan tiga komponen utama, yaitu bencana itu sendiri (hazard), keterpaparan (vulnerability), dan kapasitas (capacity).

Formula atau rumus yang sering digunakan adalah Risiko = (HazardxVulnerability)/Capacity.

3. Kajian Kebutuhan Bencana

Kajian ini seringkali dinamakan Rapid Need Assessment (RNA) atau Kajian Kebutuhan Bencana Secara Cepat. Waktu dilakukannya kajian ini adalah sesaat setelah suatu bencana terjadi. Tujuan RNA adalah untuk melokalisir area terdampak dan kebutuhan korban.

Secara singkat, RNA terdiri dari informasi mengenai jenis kerusakan yang terjadi. Kemudian perkiraan rumah tangga yang terdampak suatu bencana, baik korban jiwa dan kerugian harta benda. Tak kalah penting adalah lokasi di mana warga yang terdampak tersebut berada.

Informasi-informasi tersebut sangat penting untuk mengetahui apa saja kebutuhan warga terdampak. Oleh sebab itu, untuk melakukan RNA diperlukan informasi demografi, jumlah penduduk, komposisi penduduk, kelompok usia penduduk, gender, dan lainnya. Informsi ini sekali lagi terkait dengan kebutuhan mereka pada saat terjadi bencana dan upaya pemenuhan kebutuhan-kebutuhan tersebut.

4. Kajian Kebutuhan Pascabencana

Ini adalah kajian terakhir yang dilakukan pasca terjadinya suatu bencana menjelang proses rehabilitasi dan rekonstruksi.

Kajian ini terdiri dari Damage and Losses Assessment atau DALA. Kajian melakukan estimasi beberapa hal, seperti perhitungan akibat bencana pada aset fisik dan gangguan pada aliran dana/cash flow akibat bencana.

Setelah itu, dilakukan pula kajian kebutuhan pemulihan manusia (Human Recovery Need Assessment (HRNA)).

Dari DALA dan HRNA kemudian dibungkus dalam satu kajian kebutuhan pascabencana atau Post Disaster Need Assessment (PDNA). Kajian kebutuhan pascabencana inilah yang kemudian diterjemahkan dalam rencana rehabilitasi rekonstruksi pascabencana.

Dari PDNA, kemudian dilakukan langkah lanjutan, yaitu:

Pertama adalah menentukan intervensi yang perlu dilakukan dalam waktu singkat untuk memulai proses perbaikan pasca kejadian suatu bencana.

Kedua adalah menentukan kebutuhan anggaran untuk mencapai seluruh proses perbaikan, rekonstruksi, dan pengurangan risiko bencana.

Produk akhir dari proses pengkajian adalah program perbaikan, rekonstruksi, dan pengelolaan risiko yang komprehensif. Hasil kajian juga menjadi panduan dalam melakukan berbagai aksi setelah terjadinya suatu bencana.

Beberapa hal yang perlu dimasukkan dalam kajian kerusakan dan kerugian adalah perhitungan dan prioritas seluruh aktivitas yang diperlukan untuk mencapai perbaikan menyeluruh, termasuk kondisi sosial dan ekonomi. Dalam kajian ini juga perlu mempertimbangkan risiko bencana yang mungkin terjadi di masa yang akan datang pada suatu wilayah.  Berbagai detail mengenai pelaksanaan program, calon penerima bantuan, dan informasi lokasi spasial atau geografi keberadaan penerima bantuan juga perlu dimasukkan dalam hasil kajian.

Nah, itulah empat kajian yang seringkali dilakukan dan menjadi bagian dalam upaya penanggulangan bencana. Tiap-tiap kajian hendaknya juga memuat informasi siapa, harus melakukan apa, di mana (who is doing what and where?). Kemudian juga dilengkapi dengan informasi sumber daya yang dimiliki oleh tiap-tiap pihak yang terlibat.

Kendati serba singkat, semoga informasi mengenai berbagai kajian tersebut di atas mampu memberikan gambaran aktivitas yang perlu dilakukan dalam upaya penanggulangan bencana.

Semoga mampu memberikan sedikit pencerahan dan barangkali Anda memiliki informasi lain yang perlu ditambahkan, maka akan sangat diharapkan. Terima kasih sudah membaca.

Leave a Reply