Kepemimpinan Manajemen

Sepuluh Karakteristik Perubahan dari Rhenald Kasali

Pertama, perubahan begitu misterius karena tak mudah dipegang. Rhenald Kasali menulis, perubahan tersebut bahkan dapat memukul balik seakan tak kenal budi. Contoh pernyataan ini adalah ketika Soekarno, Soeharto, Abdurrahman Wahid, dan Megawati Soekarnoputri berkuasa karena perubahan, tetapi juga diturunkan karena perubahan.

Kedua, perubahan memerlukan seorang pembuat perubahan itu sendiri (Change Makers). Rata-rata pemimpin yang menciptakan perubahan tidak bekerja sendiri, tetapiĀ  ia punya keberanian yang luar biasa. Bahkan, sebagian besar pemimpin perubahan gugur di usia perjuangannya. Contoh dari para pemimpin perubahan itu di antaranya adalah Yesus Kristus, Muhammad, Mahatma Gandhi, Abraham Lincoln, Marthin Luther King, dan lain-lain.

Ketiga, tidak semua orang bisa turut serta bersama-sama melihat perubahan. Sebagian besar orang malah hanya melihat memakai mata persepsi. Hanya mampu melihat realitas, tanpa kemampuan melihat masa depan. Inilah kemudian yang menjadi persoalan besar perubahan, yaitu mengajak orang-orang melihat apa yang Anda lihat dan kemudian mempercayainya.

Keempat, perubahan terjadi setiap saat, karena itu perubahan harus diciptakan setiap saat pula, bukan hanya sekali-kali. Setiap perubahan kecil dilakukan seseorang, maka akan terjadi pula perubahan-perubahan lainnya. Berilah seseorang yang berpakaian sederhana sebuah pena yang bagus, maka ia akan memakai baju yang bagus untuk menyerasikan dengan penanya. Berikanlah lantai yang bersih, maka orang akan berhenti membuang sampah.

Kelima, ada sisi keras dan sisi lembut dari perubahan. Sisi keras termasuk masalah uang dan teknologi. Sedangkan sisi lembut menyangkut manusia dan organisasi. Keberhasilan sangat ditentukan oleh keseimbangan pengelolaan sisi keras dan sisi lembut. Keseimbangan tersebut berarti gabungan antara aspek efektivitas dan efisiensi serta pikiran dan makna simbolik.

Keenam, perubahan membutuhkan waktu, biaya, dan kekuatan. Dalam melakukannya diperlukan kematangan berpikir, kepribadian yang tegus, konsep yang jelas dan sistematis, dilakukan secara bertahap, dan adanya dukungan yang luas.

Ketujuh, dibutuhkan upaya-upaya khusus untuk menyentuh nilai-nilai dasar organisasi (budaya). Tanpa menyentuh nilai-nilai dasar, perubahan tidak akan mengubah perilaku dan kebiasaan-kebiasaan. Anda bisa melakukan reorganisasi, kata Rhenal Kasali, tetapi belum tentu bisa menangani nilai-nilai manusianya.

Kedelapan, perubahan banyak diwarnai oleh mitos-mitos. Salah satunya adalah mitos bahwa perubahan akan selalu membawa kemajuan dan perbaikan instan. Seperti pasien yang sakit, perubahan berarti menelan pil pahit, atau bahkan amputasi yang artinya perlu pengorbanan.

Kesembilan, perubahan menimbulkan ekspektasi, dan karenanya harapan dapat menimbulkan getaran-getaran emosi dan harapan-harapan yang bisa menimbulkan kekecewaan-kekecewaan. Oleh sebab itu, manajemen perubahan harus diimbangi dengan manajemen harapan agar para pengikut dan pendukung perubahan dapat terus membakar energi untuk terlibat dalam proses perubahan itu, kendati tujuannya meleset atau masih memerlukan waktu untuk dicapai.

Kesepuluh, perubahan selalu menakutkan dan menimbulkan kepanikan-kepanikan. Namun demikian, dengan teknik-teknik komunikasi dan perilaku yang baik, perubahan dapat dikelola menjadi sebuah pesta. Sebuah pesta yang menyenangkan dan hangat, dapat menimbulkan efek kebersamaan.

Catatan: Di dunia ini, pekerjaan paling sulit dalam perubahan adalah menggusur tokoh perubahan, karena seakan-akan dirinya sendirilah perubahan itu. Karismanya menyebabkan pengaruh yang luar biasa dan manakala ia terjatuh akan menimbulkan kegemparan.

Sumber: Change! Manajemen Perubahan dan Harapan, Rhenald Kasali, 2005, Jakarta.

Leave a Reply