Diary Kiat (Tips)

Setelah Sebulan Berdagang

Berikut ini beberapa pengalaman saya setelah kurang lebih sebulan berjualan.

Saya akan membagi tulisan ke dalam tiga sub bagian besar, yaitu capaian, kehawatiran atau tantangan, dan pelajaran atau lessons learned.

Capaian

Kita mulai dari berita baiknya dulu, ya.

Dalam waktu sebulan saya berdagang daster batik, telah terjual 56 potong. Artinya, sekitar dua potong saya jual tiap hari. Tentu saja, dalam kenyataannya tidak benar begitu. Tidak benar dua potong setiap hari.

Kadang kala ada hari di mana pembeli banyak atau pembeli sedikit, tapi dia beli banyak item. Sering juga hari-hari lewat begitu saja tanpa ada yang beli.

Dari capaian awal tersebut, saya kira cukup berhasil. Sebab, sebelumnya saya tak pernah punya pengalaman berdagang.

Kekhawatiran dan Tantangan

Nah, sekarang kita berpindah ke hal-hal yang menjadi kekhawatiran dan tantangan.

Saya kira berdagang benar-benar hal yang menantang. Tidak terbayang jika itu menjadi satu-satunya sumber pendapatan. Kekhawatiran terbesar adalah saat tak seorang pun datang bertandang atau menyapa untuk kemudian membeli.

Dan kondisi itu terjadi juga pada saya. Lebih banyak hari dilewati tanpa ada yang beli daripada ada yang membeli.

Dari kekhawatiran tersebut, kemudian muncul tantangan lain, yaitu menjaga semangat atau niatan untuk berdagang. Ini sepertinya jauh lebih sulit.

Dalam satu tulisan yang lain saya pernah bilang, “Memang tidak masuk akal untuk memulai sesuatu jika Anda tidak yakin akan sukses. Apalagi pada saat itu ada berbagai pilihan lain yang terbuka untuk Anda.”

Kondisi itu pun terjadi pada saya. Kenapa harus capek-capek dan pusing berdagang, jika saya memiliki banyak pilihan lainnya?

Namun, satu fakta kiranya tak dapat dielakkan, yaitu ketika saya mencoba hal lain itu, maka perasaan tidak puas dan khawatir tentu akan muncul kembali. Demikian berulang-ulang, seperti berbagai hal lain yang pernah saya coba.

Oleh sebab itu, maka saya teringat pelajaran di tulisan yang sama, yaitu “Anda memiliki pilihan untuk menemukan berbagai kesenangan, tantangan, kegagalan, hingga berbagai hambatan dalam upaya kita melampaui harapan-harapan sendiri.”

Lessons Learned

Nah, sekarang kita memasuki tahap pelajaran dari sebulan berdagang.

Di sini akan saya jabarkan berbagai kesenangan, kegagalan, tantangan, hingga hambatan yang muncul dari upaya sebulan berdagang. Meskipun untuk tantangan dan kekhawatiran serta hambatan sedikit banyak sudah saya sampaikan di bagian sebelumnya.

Sebelumnya mohon maaf untuk para senior yang sudah berjuta-juta tahun berdagang dan tentu memiliki pengalaman yang jauh lebih banyak. Di sini saya sekadar berbagi hal-hal yang benar-benar saya alami. Tujuannya lebih sebagai catatan pribadi dan barangkali bermanfaat untuk teman-teman yang juga baru akan memulai upaya ini.

Kreatif

Sebulan berdagang mengajarkan saya untuk bisa kreatif. Hal ini terutama terjadi di sisi pemasaran.

Saya mengandalkan status WhatsApp dan Facebook untuk mempromosikan dagangan. Keduanya sangat bergantung pada tulisan. Syukurlah, saya sendiri sudah memiliki pengalaman dalam dunia tulis menulis.

Namun demikian, pada saat-saat awal, saya pun mengalami kebingungan.Saya berkutat pada pertanyaan-pertanyaan, seperti: Apa yang harus saya lakukan dengan produk yang akan saya pasarkan? Bagaimana saya membuat tulisan yang membuat orang ingin membeli?

Akhirnya, saya pun terjebak pada upaya yang sangat sederhana dan dilakukan oleh para pemasar yang lain. Upaya tersebut adalah sekadar memberitahukan mengenai produk yang kita perdagangkan, tanpa ada upaya lainnya.

Kendati saya pun melengkapi beberapa informasi, seperti spesifikasi produk dan juga harga, tetapi ternyata itu belum cukup menarik orang untuk membeli. Sepertinya mereka membutuhkan informasi lainnya.

Kemudian sedikit demi sedikit saya pun memahami, bahwa mereka membutuhkan informasi bagaimana caranya membeli produk. Oleh sebab itu, saya pun menjelaskan cara melihat, memilih, dan kemudian menentukan pilihan pada produk tertentu, hingga proses pembayaran.

Lama kelamaan, saya mencoba lagi metode lain, yaitu membungkus promosi menggunakan cerita. Saya pun membuat beberapa cerita pendek yang ujung-ujungnya menawarkan dagangan. Anda dapat menemukan beberapa cerita itu, seperti: Perempuan Bergincu Merah Muda, Lelaki Pelindung Putrinya, dan terakhir Arya Kamandanu dan Sakawuni di Pagi Hari.

Apakah cerita-cerita tersebut mendatangkan atau meningkatkan penjualan? Terkadang iya, terkadang tidak.

Namun demikian, satu hal yang pasti adalah, ada teman yang menunggu-nunggu cerita-cerita tersebut, hahaha.

Akhirnya, saya pun berniat untuk meneruskannya. Terus membagikan kisah-kisah sambil promosi. Apabila ada yang kemudian membeli, maka itu bonus. Namun, jika tidak, maka saya telah menghibur orang lain dengan satu cerita.

Nah, untuk menyusun sebuah cerita sambil promosi, tentu bukan pekerjaan yang mudah. Di sini diperlukan kreativitas yang tinggi. Otak harus bekerja keras untuk mengubah satu produk menjadi sebuah cerita. Dengan begitu, maka otak kita pun tak berhenti bekerja dan terus dipacu untuk kreatif menghasilkan cerita.

Calon Konsumen

Di poin ini dan poin berikutnya, saya sebenarnya menerapkan apa yang diajarkan Tung Desem Waringin dalam bukunya ‘Marketing Revolution’.

Pak Tung, panggilan akrab Tung Desem Waringin, mengajarkan agar kita mendatangkan dan mendahulukan calon konsumen. Sebab mereka inilah yang kelak di kemudian hari berpotensi besar menjadi konsumen.

Bagaimana mendahulukan calon konsumen? Tentu banyak yang bisa dilakukan. Dan pelajaran bagi saya sendiri adalah agar bersikap baik kepada semua orang.

Sebagai pedagang, tentu kita tidak ingin dicap sebagai pedagang yang buruk, bukan?

Oleh karena itu, pelayanan kepada konsumen haruslah nomor satu. Saya kira ini yang paling sulit dilakukan dan pelajaran paling berharga dari para pedagang.

Tidak peduli bagaimana kondisi Anda, apakah itu sedang susah atau senang, tetapi saat bertemu calon konsumen, maka tetap pelayanan, informasi, dan penampilan terbaiklah yang harus ditunjukkan.

Saya kira ini pelajaran penting dalam marketing, karena saat menghadapi orang lain dengan baik, maka mereka akan lebih mendengarkan, memerhatikan, dan barangkali bisa membeli produk yang kita tawarkan.  Anda bisa mengganti produk itu dengan berbagai hal lain yang coba ditawarkan, misalnya jasa Anda, ide-ide Anda, atau bahkan ketidaksetujuan Anda.

Bisa, Ada, Boleh

Tiga kata itu juga pelajaran dari Pak Tung. Beliau menyampaikan, sebagai seorang pedagang, hendaknya kita selalu memberikan tiga jawaban itu kepada calon konsumen.

Anda tidak bisa seenaknya berkata tidak bisa, tidak ada, dan tidak boleh. Namun, sebaliknya….. Anda harus selalu dapat menyampaikan: bisa, ada, dan boleh.

Contoh kasusnya seperti ini:

Saat ada konsumen menanyakan, “Bisakah saya mendapatkan produk ini?”

Jawaban Anda haruslah “Bisa.” Namun, bagaimana kalau ternyata tidak bisa? Misalnya karena produk itu telah habis. Di sinilah kepiawaian Anda diuji untuk memberikan jawaban yang memuaskan pelanggan.

Kemudian di saat lain calon pelanggan akan menanyakan, “Bolehkah saya mendapatkan harga yang sedikit berbeda?”

Nah, sekarang Anda tahu, kan, apa jawaban yang paling tepat untuk pertanyaan itu?

Kiranya tiga poin itu dulu yang bisa saya sampaikan sebagai pelajaran dari sebulan berdagang ini. Semoga dapat bermanfaat.

Pertanyaan

Selanjutnya, saya memiliki beberapa pertanyaan mengenai berdagang dan semoga ada pembaca yang memahami dan berkenan membantu saya. 

Pertanyaan pertama: bagaimana membuat atau melakukan stock opname yang efektif?

Stock opname adalah informasi ketersediaan, ada atau tidaknya, suatu barang yang kita tawarkan.

Ini sebenarnya kesulitan kami, karena stock opname belum dilakukan dengan baik, maka cara berjualan kami masih sangat tradisional. Idealnya bisa seperti di marketplace, ketika pembeli mengetahui ketersediaan barang yang diinginkannya.

Namun, karena stock opname belum dilakukan dengan baik, maka saya harus berkomunikasi berulang-ulang dengan supplier untuk mengetahui ada atau tidaknya suatu barang.

Pertanyaan kedua: adakah di antara teman-teman yang memiliki pengalaman melakukan ekspor suatu barang?

Jadi ceritanya begini: beberapa waktu lalu, seorang teman yang tinggal di Samoa, sebuah negara di Kepulauan Pasifik menanyakan beberapa item daster batik yang saya perdagangkan. Dia tertarik untuk membeli beberapa.

Akhirnya, saya pun melihat peluang eksport terbuka lebar. Namun, karena saya tidak memiliki pengalaman sebelumnya, maka cara yang saya tempuh pun tradisional. Cara tersebut adalah mengetahui berapa harga kirim paket internasional hingga ke negara tujuan.

Setelah dilakukan semacam penelitian, maka diketahui bahwa harga satu kali pengiriman seberat dua kilogram setara dengan 100 kali harga barang yang saya jual. Misalnya, harga barang 10 ribu, maka ongkos kirimnya bisa  mencapai satu juta.

Nah, saya kemudian penasaran, bagaimana cara melakukan eksport barang dengan harga yang lebih murah, sehingga tidak memberatkan pembeli nantinya?

Sepertinya itu dua pertanyaan yang mengganggu pikiran saya dari upaya berdagang ini. Sangat diapresiasi jika ada teman-teman yang mengetahui apa jawaban dari dua pertanyaan tersebut.

Akhirnya, itulah sekelumit pengalaman saya yang tak terlalu berharga dalam kurun waktu sebulan melakukan dan belajar berjualan.

Semoga ada manfaatnya untuk teman-teman sekalian dan terima kasih banyak sudah berkenan membaca.

Oya, jika Anda penasaran apa yang saya perdagangkan, maka Anda bisa klik di sini.

Semoga sukses, salam dahsyat, salam luar biasa, salam tangguh, dan salam olah raga!

Leave a Reply