Categories
Komunikasi

Filter untuk Banjir Informasi

Di tengah banjirnya informasi, apa yang bisa kita lakukan?

“Its not information overload. It’s filter failure.”

Saya lupa lagi dari mana kutipan itu diperoleh, karena pada saat membaca entah apa dan di alamat web apa, tiba-tiba terbaca kutipan itu.

Setelah saya merenung-renung agak lama, rasa-rasanya benar juga kutipan itu.

Bukan informasi yang banjir, tetapi mungkin filter kita yang gagal membendungnya.

Misalnya di tengah tsunami informasi mengenai COVID-19, filter seperti apa yang kita gunakan?

Apakah kita akan menggunakan filter data, fokus pada data yang berubah-ubah tiap hari. Filter virus yang mengutak-atik mengenai virus dari awal hingga akhir. Filter vaksin, memantau terus segala hal yang berkaitan dengan perkembangan vaksin. Atau…..

Saya menggunakan filter COVID-19. Sudah sejak beberapa lama saya tak menggubris berbagai hal mengenai COVID-19 ini. Dari yang tadinya langganan koran, sekarang sudah tidak lagi. Dari yang semula rajin duduk di depan tv, sekarang hanya menemani anak nonton kartun.

Kenapa melakukan itu, Mas?

Menurut saya, kita sendiri yang perlu membatasi asupan informasi untuk diri sendiri. Ini semacam makanan untuk kita. Jika segala informasi ditelan, seperti apa runyamnya di bagian dalam tubuh sana?

Hingga tak jarang, kerumitan itu pun tercermin dalam sikap, tindakan, dan tingkah laku kita.

Pun demikian saat mendengarkan hal-hal negatif dan positif. Banyak hal yang tak sadar kita serap akhirnya memengaruhi diri sendiri.

Berhati-hatilah, terutama saat ini, ketika banyak hal negatif terjadi dan mungkin diri kita terpapar juga.

Leave a Reply