Categories
Diary

Ulah Kucing Bagian 2

Apa yang terjadi kali ini dengan para kucing di sekitar rumah saya itu?

Photo by Steffi Pereira on Unsplash

Setelah tulisan berjudul ‘Genderang Perang untuk Kucing’ saya kemudian menyadari. Ada dua kekuatan besar di dunia ini, yaitu pecinta kucing dan pembencinya.

Seperti banyak hal lain di negeri ini, ternyata selalu ada yang suka dan ada yang tidak suka.

Anyway, cerita kedua ini, diupayakan sungguh-sungguh seobjektif mungkin agar tidak memicu kontroversi, seperti banyak hal lain di negeri ini.

Sejak Sabtu malam, kucing-kucing di sekitar rumah kami terus bersuara. Suaranya seperti bayi kecil yang menangis mencari susu ibunya.

Malam kian larut dan suara-suara kucing itu terdengar makin menyeramkan.

Kami pun kemudian tertidur….

Pagi harinya, saat kami terbangun, suara kucing itu kembali terdengar. Kali ini bersahut-sahutan, tandanya tak hanya satu kucing yang mengeluarkan suara itu.

Pagi beranjak siang dan suara kucing itu kian riuh. Kini, tak hanya suara, tetapi juga bunyi gelodakan dari atas genteng. Kucing itu berlarian dan berkejaran ke sana kemari.

Karena penasaran, saya pun melangkah keluar rumah. Rupanya, kucing-kucing itu benar-benar berkejaran.

Aneh sekali tingkah mereka. Seekor kucing putih ukurannya agak kecil dikejar-kejar oleh empat ekor kucing berbagai warna dengan ukuran yang agak besar.

Saya lihat Pak A dan entah siapa sedang berjalan-jalan menikmati sinar matahari. Saya pun mengangguk, menyapanya.

Kemudian, kami semua melihat rombongan kucing yang tadinya berkejaran itu.

Mereka, kucing-kucing itu berhenti di depan rumah Bang O. Di sekitar tempat Bang O biasa meletakkan barang dagangannya.

Si kucing putih kecil sedang dinaiki oleh seekor kucing putih lain yang agak besar. Mereka sedang kawin!

Adapun kucing-kucing agak besar lainnya, seperti menonton, mungkin menunggu gilirannya. Aih, ngeri kali, kan?

Siang beranjak sore dan malam menjelang seiring matangnya pepes ikan bikinan istri di dapur.

Kucing-kucing masih terus berparade ngeang ngeong menyeramkan suaranya. Terkadang, jika mereka sedang bermalas-malasan di depan rumah, saya pun mencoba mengusirnya dengan semprotan air.

Kemudian mereka pergi sebentar, tetapi tak lama kemudian sudah kembali lagi di sekitar halaman. Melanjutkan aktivitas berkejaran di depan rumah dan juga di atas genteng. Begitu terus….

Tadi pagi, karena hari Senin saya bangun pagi sekali. Di dapur kami menemukan sebungkus ikan pepes yang tinggal kepala dan tulang belulangnya.

Ah, rupanya kucing-kucing itu pun telah masuk dan mencuri pepes ikan….

Padahal, istri saya sudah melakukan berbagai tindakan pencegahan. Pepes-pepes ikan yang terbungkus itu sudah ditutup menggunakan tudung saji dan di atasnya diletakkan pemberat berupa cobek berdiameter sekitar 30 cm yang berat sekali.

Apakah semua makhluk memang menjadi berbahaya dan beringas ketika musim kawin tiba?

Leave a Reply