Diary Kiat (Tips)

Mendadak Jualan dan Tips Berdagang

Photo by Streetwindy from Pexels

Bagi teman-teman saya di Facebook atau pun WhatsApp, barangkali akhir-akhir ini terkaget-kaget, karena saya mendadak jualan buku, daster, dan batik. Saya mempromosikan tiga produk itu melalui status di Facebook dan WhatsApp stories.

Sebenarnya keinginan untuk berjualan bukan hal yang baru. Saya terinspirasi dari teman-teman, seperti Zaki Senafal, Rossi Attaki, Yudhi Burhanudin Nur, dan masih banyak lagi. Mereka istiqamah di jalan dagang.

Namun, bagi saya, kendala dan tantangannya banyak. Pertama adalah pekerjaan sehari-hari dari Pukul 08 hingga 05 yang menyita sebagian besar waktu. Kedua, karena tak ada waktu, maka tak ada pula produk yang bisa saya hasilkan atau beli. Ketiga, masih bingung dari mana memulai.

Akhirnya, keinginan berdagang itu pun hanya tinggal angan-angan, hingga satu ketika, kita semua berada pada situasi krisis karena pandemi yang entah kapan akan berakhir ini.

Berikut ini, kurang lebih alasan, metode, dan pembelajaran selama seminggu saya belajar berdagang dan membuat teman-teman terkejut, karena mendadak berjualan.

Pertama adalah kondisi membingungkan yang kita semua hadapi. Mengutip kawan saya  Odzie MuSthafa IbRahim, kelas menengah ini, “Dibilang misquen tapi punya rumah dan punya mobil. Namun, dibilang kaya tapi punya cicilan di mana-mana.”

Saya kira, apa yang disampaikan Odzie benar sekali. Kendati saat ini masih aman, karena dibantu tabungan, tetapi kalau krisis terus berlangsung, mungkin saya pun akan mulai kesulitan. Sebabnya, pendapatan konstan, bahkan menurun. Namun, di sisi lain pengeluaran tetap atau bahkan bertambah.

Menurut tokoh panutan saya, Pak Tung Desem Waringin, situasi yang saya hadapi tersebut, bisa jadi karena saya tidak memiliki financial literacy atau pengetahuan keuangan. Saya bergantung pada active income untuk membeli dan berhutang banyak hal. Padahal, mereka yang memiliki pengetahuan keuangan akan memanfaatkan passive income dan menghindari berhutang.

Contoh passive income tersebut di antaranya adalah memiliki bisnis, menyewakan properti, dan lainnya. Intinya, kita tidak bekerja, tetapi pemasukan terus mengalir.

Nah, untuk melakukan hal itu, maka kemampuan pemasaran menjadi satu keahlian yang perlu dimiliki. Namun, menurut Neil Patel, seorang ahli pemasaran internet, kita memerlukan 4Ps jika akan melakukan marketing. 4Ps tersebut adalah: product (produk yang kita jual), price (harga produk kita), place (tempat berjualan produk), dan promotion (upaya promosi yang kita lakukan).

Saat saya ingin memulai berdagang, 4Ps itu tak ada satu pun yang saya miliki. Product tak saya hasilkan dan tak ada waktu untuk menghasilkannya. Price pun tak ada, karena kan tak ada produknya. Place pun hanya sebuah rumah di daerah yang sunyi dan makin sepi karena lockdown yang menyebabkan banyak portal di sekitar rumah ditutup. Sementara promotion, mau promosi apa wong produknya saja tak ada.

Kemudian saya membaca sebaris kalimat dari Simon Sinek, seorang penulis buku dan motivator, di emailnya yang saya terima setiap hari kerja. Dia bilang, “It doesn’t matter when we start. It doesn’t matter where we start. All that matters is that we start.” Kalau diterjemahkan kurang lebih, “Nggak penting kapan dan di mana kita mulai! Yang paling penting adalah kita memulai.”

Oleh sebab itu, maka mulailah saya berjualan.

Pertama-tama, saya menulis buku dan menjualnya di Google Play Books. Buku tersebut saya beri harga 25 ribu. Murah sekali, bahkan lebih murah daripada secangkir kopi di kedai ternama. Namun, kendati murah, tentu isi bukanya tidaklah murahan, haha.

Harga di situ hanyalah pemancing agar kawan-kawan yang menginginkannya benar-benar memiliki niatan untuk membaca. Jika ada sedikit pengorbanan, maka akan merasa sayang jika tidak dibaca.

Kondisi yang berbeda akan terjadi, saya kira, jika buku itu dibagikan secara percuma. Karena percuma, saya khawatir file buku itu hanya disimpan di pojok folder di komputer teman-teman semua, tanpa pernah dibaca.  

Kemudian, saya pun melanjutkan berjualan dengan produk lainnya.

Ternyata mencari produk tak susah-susah amat. Anda tinggal buka Facebook, Instagram, WhatsApp Stories, dan voilla buanyak buanget orang-orang yang berdagang dan sepertinya hampir semua sekarang ini berjualan.

Tinggal Anda cari apa yang sedang hits dan laku, lalu mulailah ikut berjualan.

Namun, jika Anda tak punya produk, maka bisa menjadi makelar. Tugasnya sederhana, yaitu mempertemukan antara penjual yang memiliki produk dan pembeli yang membutuhkannya. Inilah kemudian yang saya lakukan.

Kebetulan saya memiliki teman yang punya toko batik di Pasar Beringharjo dan sedang sulit saat ini, karena pembeli dan wisatawan yang ke sana pun menurun drastis. Otomatis hal itu membuat omzet penjualannya pun turun. Saya hubungi dia, “Bisa nggak saya ikut jualan produkmu?” Tanya saya suatu ketika.

Kemudian dia bilang, “Bisa.” Dan setelah itu mulailah dikirimkannya foto-foto daster batik. Akhirnya, saya pun berjualan daster batik, hahaha.

Kemudian, saya kembali melanjutkan aktivitas untuk mencari produk lainnya lagi agar tidak monoton.

Sewaktu membuka-buka WhatsApp stories, sampailah di kontak kakak angkat saya yang jualan bahan batik. Saya pun kemudian menghubunginya dan menyampaikan maksud untuk ikut menjualkan produknya.

Kakak yang baik tentu menyambut hangat. Akhirnya, dia pun mengirimkan gambar produknya dan saya pun mulai berjualan bahan batik.

Untuk produk, sejauh ini baru tiga produk itu yang saya jual. Apakah teman-teman punya produk lain yang memerlukan penjual? Saya bisa membantu lho, hahaha.

Strategi Pemasaran

Oke, sekarang kita memasuki tahap pemasaran. Menurut Pak Tung Desem Waringin dalam bukunya ‘Marketing Revolution’, ada dua cara pemasaran, yaitu mengingatkan dan menawarkan.

Langkah yang saya tempuh adalah langsung menawarkan barang, langsung menjual, atau istilah kerennya ‘direct selling’. Saya menggunakan metode terus terang. Saya tak berputar-putar, langsung to the point menjelaskan spesifikasi barang yang dijual, harganya, dan juga lokasinya. Saya kira ini tiga informasi inilah yang dibutuhkan dan diminta oleh para pembeli. 

Selanjutnya mengenai media penawaran. Untuk media penawaran ini, saya memanfaatkan feed Facebook dan juga WhatsApp stories. Oleh karena itu, saya mohon maaf, jika teman-teman di Facebook dan WhatsApp merasa terganggu dengan perubahan tiba-tiba di feed dan stories saya.

Dari informasi mengenai penawaran secara langsung dan medianya tersebut, apakah semuanya berhasil? Ternyata tidak dan iya, sebab ada beberapa barang yang laku terjual berasal dari promosi di Facebook dan ada lagi barang lainnya yang laku terjual dari promosi di WhatsApp stories.

Pembelajaran dari Proses Berjualan

Sebelum saya lupa, motivasi saya untuk berjualan juga berasal dari tetangga saya. Izinkan saya bercerita sedikit tentang hal itu di sini.

Seperti sudah disebutkan di atas, lingkungan kami tinggal cukup kecil. Kami hanya tinggal di jalanan sepanjang kurang lebih 50 meter. Jumlah rumahnya sekitar 20 rumah. Warga yang tinggal kira-kira tak sampai 60 orang.

Saat ini, makin sedikit warga yang melintas di jalanan itu, karena di ujung-ujungnya diportal dan hanya ada satu pintu untuk keluar dan masuk. Pendek kata, ini termasuk pasar yang sangat kecil untuk berjualan.

Namun, tetangga saya tersebut, mari kita sebut saja Bang O, dia tetap mencoba berjualan kaleng-kaleng biscuit, sirup, dan makanan kecil di depan rumahnya. Produk-produk ini sepertinya kelanjutan dari usaha jualannya dengan metode yang sama sebelum lebaran lalu. Bedanya, saat itu ada pula timun-timun suri yang diletakkan di meja dagangannya.

Saya perhatikan tak banyak yang beli barang dagangan Bang O. Namun demikian, banyak warga di lingkungan kami yang silaturahim di kios kecil Bang O tersebut. Entahlah, mungkin itu hikmah dari usaha Bang O.

Nah, dari situlah, kegigihan Bang O yang berjualan di lingkungan sepi, saya pun terpicu untuk melakukan hal serupa, yaitu berdagang. Meskipun barang, metode, dan tempat berjualannya berbeda. 

Simon Sinek dalam email hariannya yang lain berkata, “The best way to find out if it will work is to do it. Don’t complain, contribute.”

Jika perkataan Simon itu diterjemahkan secara serampangan kira-kira artinya adalah bahwa jalan terbaik untuk mengetahui suatu hal berhasil guna atau tidak adalah dengan melakukannya. Apakah jualan kita akan laku atau tidak adalah dengan melakukan proses jualan itu sendiri. Lakukan, kurangi mengeluh, dan terus berkontribusi.

Yann Girard, seorang penulis dan motivator menyampaikan, “Jika Anda berupaya keras untuk menghasilkan keuntungan dari berjualan sebuah produk kepada ratusan orang, Anda pun masih akan tetap berupaya keras ketika  menjual produk tersebut kepada ribuan orang, puluhan ribu orang, hingga jutaan orang. Masalahnya sama, hanya jumlahnya yang berbeda. Jadi, jualanlah yang benar di pasar yang sedikit itu, kemudian pasar yang besar pun akan mengikuti kemudian‚Ķ.”

Lebih lanjut, Yann mengingatkan (saya terjemahkan dengan perubahan):

Semua orang dapat mulai membuat Blog.

Atau mulai menulis buku.

Atau mulai menjadi Youtuber.

Atau mulai bisnis daring (online).

Bagian paling sulit bukan lagi memulai.

Bagian paling sulit adalah berkomitmen.

Dan terus istiqamah atau setia pada komitmen tersebut.

Itulah pesan dari Yann, jadi sekali lagi, apa pun yang Anda mulai, menjaga komitmen menjadi hal yang paling sulit.

Namun, komitmen mungkin akan terasa kian berat jika keuntungan tak kunjung didapat.

Di sini, saya kembali teringat pesan dari Pak Tung Desem Waringin di bukunya mengenai faktor kali. Awalnya, Pak Tung menanyakan, “Menurut Anda, apa yang membuat Bill Gates menjadi orang terkaya di dunia?”

Pak Tung menjelaskan, bahwa penyebab Bill Gates sangat kaya adalah faktor kali. Bill membuat suatu produk yang kemudian dipasang di jutaan komputer yang eloknya tak diproduksinya sendiri. Biarpun tak memproduksi, tetapi produk Bill tersemat di berbagai komputer yang justru dihasilkan oleh orang lain. Inilah yang dimaksud faktor kali.

Nah, dalam Anda berjualan, maka faktor kali pun memainkan peranan yang penting. Barangkali keuntungan Anda tak besar, tetapi terjadi berkali-kali. Akhirnya, keuntungan pun akan berkali-kali lipat.

Saya ingin menutup tulisan panjang dari yang niatnya pendek ini dengan pesan Yann Girard. Kembali saya terjemahkan sesuka hati, sebagai berikut:

Jika kita benar-benar ingin, kita selalu dapat melakukan hal lebih sedikit lagi.

Kita selalu dapat menjadi orang yang lebih mudah berteman.

Lebih suportif.

Lebih menolong.

Dan seiring waktu, semua hal yang lebih sedikit itu akan menjadi hal yang lebih besar.

Nah, jadi kapan Anda akan belanja lebih produk saya? Hahaha….

Leave a Reply