Categories
Penanggulangan Bencana

Papan Guyub Sembako

Inisiatif Papan Guyub Sembako dilakukan oleh warga di Yogyakarta. Seperti apa inisiatif tersebut?

Tulisan ini pertama kali tayang di Republika.

Saat yang sulit karena pandemi tak menyurutkan niatan warga untuk berbagi. Teman saya, Hervina Anggraheni mempunyai cerita untuk Anda.

Di Dusun Purwodadi, Desa Pakembinangun, Kecamatan Pakem, Kabupaten Sleman, Yogyakarta, warga dusun itu melakukan gerakan bernama ‘Papan Guyub Sembako’.

Tampilan Papan Guyub Sembako (Koleksi Pribadi Hervina)

Slogan dari gerakan ini adalah ‘Ambil secukupnya, Taruh seikhlasnya, Sedekah tidak harus mewah.’

Di sebuah bangunan mirip gazebo atau gubug kecil di tengah Dusun Purwodadi, aneka keperluan sehari-hari itu ditata dengan rapi. Awalnya, tempat yang digunakan hanya sederhana saja, memakai meja kecil tiang dan beratapkan sebuah payung. Kemudian warga bergotong royong membuat papan guyub sembako.

Papan Guyub Sembako di Masa-Masa Awal (Koleksi Pribadi Hervina)

Di sana ada sayur mayur, buah-buahan, beras, tepung terigu, telur, tahu, tempe, minyak goreng, gula, teh, susu dan lainnya. Selain itu, ada pula barang-barang kebutuhan sehari-hari, seperti sabun mandi, pasta gigi, sabun cuci piring, detergen, dan lainnya.

Tiap pagi, warga yang berniat untuk membagikan beberapa barang menaruh sembako itu di gubug. Tak lama kemudian, datang warga yang membutuhkan dan mengambil seperlunya aneka sembako dari gubug itu. Tak jarang, sambil menaruh barang, warga itu pun mengambil beberapa barang yang bisa diperlukan.

Dalam perkembangannya, mereka yang menyumbang sembako tak hanya berasal dari Dusun Purwodadi. Namun, warga di perantauan pun turut memberikan sumbangan. Mereka mentransfer sejumlah uang dan kemudian dibelikan berbagai bahan untuk ditaruh di papan. Bahkan, ibu yang berjualan sayur keliling dengan mobilnya juga pernah memberikan sayur mayur untuk Papan Guyub Sembako.

Beberapa barang kebutuhan yang tersaji di Papan Guyub Sembako

Media sosial turut mendukung gerakan warga ini. Sejak informasi mengenai Papan Guyup Sembako sering diunggah di Facebook, makin banyak warga dari tempat lain yang berpartisipasi. Kemudian Komunitas Jogja Berbagi juga turut serta berpartisipasi.

Gerakan Papan Guyub Sembako dilakukan untuk membantu warga agar bisa bertahan hidup di tengah Pandemi COVID-19.

Ide awalnya pun sekadar meniru gerakan serupa yang banyak beredar di media sosial. Misalnya saat warga menaruh sembako di pagar-pagar rumah dan dapat diambil oleh warga lainnya.

Bedanya, sembako yang terkumpul dan dibagikan di Dusun Purwodadi itu dikumpulkan di tengah dusun. Gerakan Papan Guyup Sembako ini diawali oleh warga sendiri di dusun tersebut.

Tantangan dalam melakukan gerakan ini pada masa-masa awal adalah saat warga malu-malu untuk mengambil sembako. Mereka awalnya berusaha untuk berpartisipasi dengan mengisi berbagai sembako di papan.

Namun, lambat laun banyak warga yang menyadari agar tak perlu malu. Mereka ada yang datang sambil membawa sembako dan kemudian membawa kembali keperluan mereka ke rumah dengan cara mengambil sembako dari papan itu.

Mereka yang mengambil pun menyadari untuk tidak berlebihan. Diambilnya barang-barang sembako seperlunya saja. Mereka harus mengingat orang lain dan tak egois.

Dalam perjalanannya, gerakan Papan Guyub Sembako pun berkembang dengan adanya kegiatan ‘Makan Bareng’. Alih-alih berupa bahan mentah sembako, di depan Papan Guyub Sembako tengah dusun menjadi tempat untuk berbagi makanan siap saji. Bisa berbeda menu setiap harinya. Misalnya nasi goreng, bakmi godog, nasi uduk lengkap, dan lontong opor.

Mereka yang makan bersama di tengah dusun itu kebanyakan membawa wadah sendiri. Namun, kalau sudah dikemas tinggal diambil. Hanya sebagian warga yang makan agar tak menyebabkan kerumunan. Mereka juga menerapkan secara ketat protokol-protokol kesehatan yang sudah ditentukan oleh pemerintah.

Grup WhatsApp kampung pun berperan penting untuk menyebarluaskan informasi apa saja yang ada di papan. Seorang warga yang rumahnya dekat dengan papan akan mengambil foto dan kemudian mengirimkannya ke grup, saat pagi, siang, atau sore hari manakala ada update tambahan barang-barang di papan.

Di masa-masa sulit ini, ada saja berbagai inisiatif yang membuat kita berdecak kagum. Masyarakat di Dusun Purwodadi, misalnya, mereka tetap ingin berbagi, kendati kondisinya pun terkadang tak kalah sulitnya.

Leave a Reply