Diary

Lebaran yang biasa-biasa saja

Source: Screenshoot dari Google Translate

Ada satu kata dalam Bahasa Inggris yang sangat saya sukai, yaitu mundane.

Jika Anda membuka Google Translate, maka dapat ditemukan makna kata tersebut, yaitu duniawi, biasa, dan keduniaan.

Kata mundane tersebut benar-benar menemukan maknanya pada lebaran atau Hari Raya Idul Fitri tahun 2020 ini.

Pertama, kita semua disibukkan oleh hal-hal duniawi, seperti hari-hari kemarin. Namun, kali ini lebih lagi dengan adanya virus Korona Baru yang membutuhkan perhatian kita.

Sebuah hal duniawi yang sangat menyita perhatian kita dengan berbagai konsekuensinya.

Namun, hal ini ditambah lagi dengan berkurangnya hal-hal non-duniawi yang biasanya sibuk kita lakukan, karena anjuran untuk beribadah di rumah.

Ini termasuk rangkaian ibadah menjelang lebaran yang di tahun-tahun sebelumnya selalu giat dilakukan, seperti shalat Tarawih, Iktikaf, shalat berjamaah, shalat Ied, dan lainnya.

Ritual-ritual sebelum dan setelah lebaran pun tak bisa dilakukan tahun ini, seperti mudik, buka puasa bersama, saling bersilaturahim, sungkem, dan lainnya.

Kedua berbagai kondisi yang terjadi saat ini menyebabkan lebaran tahun ini menjadi begitu biasa-biasa saja. Ini terutama terjadi pada saya dan keluarga.

Kami tak mudik ke kampung halaman di Magelang, Jawa Tengah. Kami di rumah saja, hari pertama lebaran diisi dengan mencuci baju dan membersihkan rumah, karena yang biasa membantu kami tak datang.

Hari kedua pun begitu juga, mengepel dan menyeterika menjadi kegiatan. Hari ketiga, dapat jatah piket dan masuk kantor.

Seingat saya, silaturahim hanya dilakukan ke empat rumah di sekitar dan dua di antaranya pun tak sampai masuk ke dalam rumah. Kami hanya bertandang dan menghaturkan setoples nastar. Saat berkunjung itu pun, kami menggunakan masker dan pulangnya langsung mandi.

Selain dengan tetangga tersebut, silaturahim lainnya kepada sanak saudara dilakukan secara daring menggunakan WhatsApp Video Call. Memang ini tidak ideal, tetapi semoga metode ini cukup mewakili kerinduan kita semua pada sanak keluarga di tempat-tempat yang berjauhan.

Selain itu, silaturahim juga kita lakukan melalui beranda-beranda Facebook. Saya membuat status idul fitri dan teman-teman bertandang. Pun sebaliknya, saya pun mengucapkan selamat idul fitri dan memohon maaf lahir dan batin melalui status dan beranda teman-teman.

Namun demikian, karena algoritma Facebook, barangkali ada juga status teman yang tak sempat di-like atau di-comment. Saya mohon maaf karena hal itu.

Selanjutnya, makna yang ketiga dari mundane adalah keduniaan. Di baris yang sama jika Anda lihat di Google Translate, padanan dari kata tersebut adalah temporal atau sementara.

Harapan saya dan barangkali kita semua, semoga yang kita alami saat ini berlangsung sementara saja. Kemudian kita dapat kembali ke kehidupan yang sudah kita jalani seperti sedia kala secara normal.

Saya pribadi, kurang begitu sreg dengan jargon ‘new normal‘ dan berbagai konsekuensinya. Bagaimana dengan Anda sendiri? Pilih mana, normal ataukah new normal?

Btw, sekali lagi mumpung masih suasana lebaran, izinkan saya mengucapkan:

Selamat Idul Fitri 1441 H
Mohon maaf lahir dan batin

Salam sehat dan tetap semangat!

Leave a Reply