Categories
Kepemimpinan Kiat (Tips)

Bagaimana Sebuah Keputusan Diambil?

Bagaimana proses pengambilan sebuah keputusan?

Photo by Andrea Piacquadio from Pexels

Menurut Simon Sinek dalam bukunya ‘Start With Why’, Keputusan dibuat dengan dua cara: rasional dan insting.

Proses pengambilan keputusan ini berada di dua bagian otak yang berbeda.

Pertama, keputusan secara rasional terjadi di bagian otak yang dinamakan neo-cortex. Bagian otak ini juga mengontrol bahasa.

Kedua, keputusan secara insting terjadi di bagian otak yang dinamakan limbic. Bagian otak ini juga berhubungan dengan perasaan.

Oleh sebab itu, kadang kita merasa sebuah keputusan sudah tepat. Namun, kita kesulitan menyampaikan alasannya.

Akhirnya saat menyampaikan ke orang lain, seringkali kita membuat rasionalisasi.

Misalnya, saat kita menemukan jodoh, maka kita merasa pas.

Adapun alasannya, biasanya kita akan berkata, bahwa dia bisa melengkapi saya.

Bagian rasional mencoba untuk memberikan berbagai alasan dan masukan. Namun, kelemahannya bagian ini membutuhkan waktu yang lama untuk menghasilkan sebuah keputusan.

Sementara itu, kenapa keputusan yang terjadi berdasarkan insting terasa benar?

Soalnya bagian limbic yang membuat keputusan tersebut juga mengontrol perasaan kita. Oleh karena itu, maka kita merasa keputusan yang diambil tersebut terasa benar.

Oleh sebab itu, keputusan yang diambil berdasarkan insting, selain lebih cepat diambil juga memiliki kualitas yang lebih baik.

Di sisi lain, keputusan yang diambil secara rasional biasanya membutuhkan waktu yang lama, sehingga justru meningkatkan risiko kesalahan pada keputusan yang nantinya diambil.

Sekarang bagi perusahaan, mereka yang tidak mengomunikasikan ‘why‘ atau alasan berdirinya perusahaan tersebut, biasanya memaksa kita untuk membuat keputusan berdasarkan rasio atau bukti empiris belaka.

Akibatnya, keputusan tersebut akan sulit diambil, membutuhkan waktu yang lama, hingga kadang kita merasa tak yakin dengan keputusan yang dibuat sendiri.

Pada akhirnya berbagai proses rasional ini justru menciptakan stres.

People don’t buy what you, they by why you do it.

Sebagai ilustrasi, mari kita bandingkan bagaimana pembeli atau pengguna Apple dan Harley Davidson membuat keputusan.

Sebelum melakukan pembelian, mereka sudah mempunyai keputusan akan membeli dua merek itu.

Mereka tinggal memilih tipe Apple mana yang akan dibeli dan jenis Harley mana yang akan dipinang.

Mereka tak lagi peduli dengan fakta, angka, dan spesifikasi. Semua itu tak menjadi dasar pengambilan keputusan mereka. Karena mereka sudah mempunyai keputusan itu sebelum mereka melakukan pembelian.

Inilah sebenarnya yang disampaikan oleh Simon Sinek, sebagai sebuah keputusan yang arahnya dari dalam ke luar.

Dari dalam, karena keputusan ini berasal dari why, yaitu komponen emosi dari suatu keputusan.

Kemudian dari luar, berupa komponen rasional yang menolong kita untuk merasionalisasi dan memberikan alasan dari tindakan-tindakan dan keputusan yang kita buat.

Sumber: ‘Start with Why’ oleh Simon Sinek dengan Perubahan

Leave a Reply