Categories
Kepemimpinan Komunikasi

Komunikasi yang Terbuka Saat Krisis

Apa peran komunikasi yang terbuka saat krisis bagi para pemimpin dan komunikator?

“Perbedaan antara manajemen dan kepemimpinan ada pada komunikasi.” Kata Winston Churchill.

Saat terjadi berbagai ketidakpastian, pemimpin yang transparan atau terbuka selalu mampu membuat kita mempercayainya.

Ketika ancaman menjadi bencana, mereka yang terdampak tidak membutuhkan alasan, teori, atau omong kosong lainnya.

Yang paling penting adalah menyampaikan fakta dan membuat perencanaan untuk melakukan berbagai tindakan dan merespon krisis yang terjadi.

Sebuah artikel di ThriveGlobal menjelaskan prinsip-prinsip kepemimpinan pada saat krisis, sebagai berikut:

Keterbukaan dalam komunikasi berarti menyampaikan fakta, bukan asumsi, atau opini.

Terutama dalam masa-masa sulit. Sangat bijak untuk terbuka, mendengarkan, dan memahami keprihatinan berbagai pihak.

Semua itu dibutuhkan oleh seorang pemimpin dan komunikator untuk menjaga kepercayaan.

Rumus ABC

Rumus tersebut adalah jurus para pemimpin dan komunikator dunia untuk melakukan komunikasi pada saat krisis terjadi, yaitu dengan:

  • Accuracy
  • Brevity
  • Clarity

Sedikit penjabaran dari rumus tersebut adalah:

Accuracy berarti upaya untuk setepat/seakurat mungkin dalam menyampaikan informasi yang berkaitan dengan krisis.  

Brevity maksudnya singkat, tetapi padat. Hindari berbagai detail yang tidak perlu.

Clarity juga berarti kejelasan, artinya tidak ditutup-tutupi. Kemudian dilakukan upaya klarifikasi jika diperlukan.

Kita memahami jika seorang pemimpin tak memiliki semua jawaban. Namun, sungguh tak bisa diterima jika ada kebohongan atau memberikan jawaban yang keliru pada situasi yang tak kita pahami.

Tindakan tersebut justru akan membuat hilangnya kepercayaan kepada Anda sebagai seorang pemimpin.

Nilai dan Harapan

Keterbukaan dan transparansi perlu juga disampaikan mengenai harapan dan nilai-nilai yang Anda percayai, saat memimpin diri sendiri, keluarga, dan juga organisasi.

Hal ini memungkinkan terciptanya keterbukaan dalam pengambilan keputusan, mengurangi kebingungan, dan meningkatkan rasa memiliki, serta tujuan.

Beberapa contoh nilai yang bisa diantur, seperti:

Dalam keluarga menganut nilai: waktu berkualitas, kerja sama tem, saling menolong, dan kasih sayang.

Sementara itu dalam bisnis, nilai yang Anda anut adalah kebersamaan, efisiensi, inovasi, dan kreativitas.

Apa pun nilai yang Anda ikuti, termasuk jika ada perubahan, maka semua itu harus dikomunikasikan.

Saat nilai-nilai ini sudah tersampaikan, maka kita dapat mendengarkan berbagai suara. Ini dapat berupa apa yang Anda harapkan dari tim, dan apa yang diharapkan oleh tim kepada Anda.

Hal ini dapat terjadi di keluarga dan perusahaan. Dengan menyampaikan nilai-nilai secara jelas, maka dapat memperkuat budaya perusahaan dan meningkatkan produktivitas, meskipun situasi berubah dan adanya berbagai tantangan.

Peran Suara

Terakhir, para pemimpin dan komunikator perlu berlatih untuk menggunakan suaranya. Hal ini dilakukan agar tercipta efek yang menenangkan, kepercayaan, dan simpati.

Latihan ini diawali dengan berlatih dan berfokus pada pernapasan. Latihan ini bisa dilakukan dengan mengambil napas 4 hitungan, kemudian tahan dalam 4 hitungan, kemudian mengeluarkan napas dalam 4 hitungan, dan tahan selama 4 hitungan.

Orang akan mengingat perasaan yang timbul karena tindakan Anda. Jika Anda panik, maka mereka pun akan mengingat.

Jangan sampai emosi mengalahkan kata-kata Anda.

Bagian terpenting dari kepemimpinan adalah bahwa tindakan ini sebuah tindakan (aksi). Aksi ini dapat diawali hari ini, sekarang juga.

Leave a Reply