Categories
Diary

Diary: Sabtu, 11 April 2020

Apa hal menarik yang terjadi pada Sabtu, 11 April 2020 dari kacamata saya?

Sabtu ini menjadi hari kedua pemberlakuan Pembatasan Sosial Berskala Besar di Jakarta.

Satu fakta menarik saya temukan, bahwa orang sebenarnya tidak bekerja dari rumah, tetapi mereka di rumah dan mencoba untuk bekerja.

Lumayanlah percobaan bekerja saya, karena tulisan cepat-cepat itu bisa ditayangkan di Republika, yay! Thank you, Brader.

Hari ini saya ke pasar untuk membeli berbagai keperluan. Sebelumnya, saya harus bolak-balik membeli beberapa galon air, karena toko langganan tidak menyediakan fasilitas antar jemput selama pandemi Covid-19 berlangsung.

Di pasar, tak ada perubahan yang berarti, semua masih sama seperti hari biasa. Hanya para pedagang dan pembeli lebih banyak yang menggunakan masker. Namun, masker itu sebagian melorot di bawah hidung dan hanya menutupi mulut. Bahkan, ada juga pemakai masker yang mengenakan di bawah dagu, seperti janggut.

Beberapa komoditas, seperti daun bawang dan bawang merah mengalami kenaikan harga. Daun bawang kurus-kurus dan pendek. Sementara untuk bawang merah, pedagang mengeluh hanya dapat 2 kilogram dari pemasoknya.

Saat berpindah pasar, karena tak ada lele di pasar pertama, saya mendengar adanya perampokan yang terjadi kemarin pukul 1 siang. Kata penjual lele, perampok datang berempat naik sepeda motor dan menodongkan pistol.

Kios yang dirampok adalah pedagang perhiasan emas dan perak. Kios ini tepat berada di samping penjual lele. Tampak garis polisi melintang di pintu besi kios itu yang siang tadi tertutup.

Apa cerita darimu hari ini, Sob?

2 replies on “Diary: Sabtu, 11 April 2020”

Leave a Reply