Penanggulangan Bencana: Rencana Kelanjutan Bisnis di Tengah Merebaknya Covid-19

Seiring merebaknya virus SARS-CoV-2 yang menyebabkan penyakit Covid-19, maka berbagai bisnis terancam kelanjutannya. Krisis yang dialami para pengusaha tersebut seringkali juga terjadi saat bencana alam. 

Sudahkah para pebisnis memiliki Rencana Kelanjutan Bisnis atau Business Continuity Plan?

Di negara tetangga Singapura, Enterprise Singapore didukung oleh Singapore Business Federation menerbitkan panduan untuk Rencana Kelanjutan Bisnis dalam menghadapi virus Korona yang bisa diakses di Websitenya.

Dalam panduan tersebut, mencakup beberapa hal dalam dunia usaha yang berisiko manakala wabah merebak, seperti:

  • Pengelolaan sumber daya manusia.
  • Fungsi-fungsi dan proses bisnis.
  • Pengelolaan pemasok dan pelanggan.
  • Komunikasi: internal dan eksternal.

Panduan Rencana Kelanjutan Bisnis juga membantu perusahaan untuk:

  • Meminimalkan risiko kesehatan kepada karyawan. 
  • Meminimalkan tempat usaha menjadi simpul atau pusat penyebaran penyakit. 
  • Memastikan rencana kelanjutan bisnis bisa dijalankan seandainya karyawan harus absen, dikarantina, atau terinfeksi. 
  • Memastikan berbagai pilihan alternatif untuk pemasok dan pelanggan, sehingga bisnis dapat terus berjalan. 

Beberapa hal yang menarik, misalnya dalam pengelolaan sumber daya manusia adalah adanya atau dipilihnya seorang Manajer khusus yang melanjutkan bisnis dalam situasi sulit.

Tugas manajer tersebut adalah untuk memastikan seluruh karyawan familiar dengan rencana kelanjutan bisnis dan mereka bisa patuh mengikuti rencana tersebut. Sang Manajer juga harus membangun rencana keberlanjutan kepemimpinan saat absennya pengambil keputusan dan para pemimpin.

Berkaitan dengan proses dan keberlanjutan usaha, maka perlu adanya prioritas aktivitas yang harus terus berjalan, termasuk menentukan karyawan-karyawan yang penting.

Bisa juga mengatur jadwal Tim A dan Tim B yang bekerja secara bergantian untuk menjaga kesehatan karyawan serta menghindari penularan wabah penyakit.

Adapun persoalan pemasok dan pelanggan, maka harus diidentifikasi siapa saja pemasok yang penting, sehingga bisnis dapat terus berjalan.

Demikian juga dengan pelanggan, perlu mendapat prioritas dan dipastikan kebutuhan mereka dapat terpenuhi. Selanjutnya, manajer perlu menentukan alternatif baik untuk pelanggan dan pemasok untuk memastikan tetap berjalannya usaha.

Setelah semua hal tersebut disiapkan, langkah terakhir adalah menyangkut komunikasi.

Perlu ditentukan, siapa koordinator yang akan mengkomunikasikan rencana keberlanjutan bisnis dan kebutuhan usaha Anda.

Komunikasi internal juga diperlukan agar karyawan memahami peran dan tugasnya saat situasi krisis. Komunikasi juga perlu dilakukan untuk memberikan informasi kebijakan, tindakan-tindakan, dan kemungkinan dampak yang bisa terjadi pada karyawan. Tak kalah penting adalah menentukan metode komunikasi kepada karyawan, apakah melalui pertemuan dalam jaringan (online) tanpa tatap muka atau cukup dengan sarana komunikasi, seperti WhatsApp.

Sementara itu, untuk komunikasi eksternal, terlebih dahulu perlu ditentukan para pihak (stakeholders) yang terkait dengan bisnis Anda. Misalnya, siapa saja pemasok bahan baku, pemberi layanan, dan juga pelanggan.

Setelah diidentifikasi para pihak tersebut, kemudian ditentukan pesan-pesan kunci atau penting yang berbeda-beda kepada setiap pihak. Hendaknya disampaikan pula rencana kontijensi yang akan diambil di tengah merebaknya Covid-19 ini.

Seluruh upaya tersebut pada akhirnya harus disesuaikan dengan situasi terkini menyangkut wabah dan juga kebijakan serta saran dari pihak berwenang.

Artikel ini pertama kali tayang di Kumparan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to Top
%d bloggers like this: