Tokoh

Tokoh: Muhadjir Effendy, Kapten atau Manajer

Artikel ini pertama kali tayang di Kumparan

Sebelumnya saya jarang sekali mengikuti dan mendengarkan pidato dari Menter Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Muhadjir Effendy. Beberapa waktu yang lalu, kesempatan itu datang manakala beliau menjadi pembicara kunci dalam sebuah acara.

Muhadjir bercerita mengenai penugasannya sebagai menteri yang berbeda-beda. Termasuk belum lama ini, setelah dirinya berpindah dari Menteri Pendidikan dan Kebudayaan menjadi Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan.  

Menurut Muhadjir, kendati sama-sama menteri, tetapi setiap penugasan berbeda. Dia membutuhkan waktu untuk mempelajari tugas-tugasnya.

Dalam acara tersebut, Muhadjir juga mencontohkan antara kapten dan manajer. Menurutnya, manajer, seperti Jose Mourinho hanya duduk di pinggir lapangan dan memberikan perintah-perintah kepada pemain.

Namun, seorang kapten berbeda. Kapten akan berada di tengah lapangan, dekat dengan permainan, berkeringat, berlari, dan berjuang bersama-sama dengan seluruh anggota timnya.

Inilah pelajaran kepemimpinan dari Muhadjir. Pilihan ada di tangan Anda sendiri, apakah akan menjadi manajer atau kapten.

Muhadjir dan Penanggulangan Bencana

Acara yang dihadiri Muhadjir dalah Rapat Koordinasi Nasional, BNPB pada Februari lalu. Dalam kesempatan tersebut, Muhadjir pun memberikan berbagai arahan.

Menurutnya, ada dua hal yang perlu dihindari dalam penanggulangan bencana, yaitu overlapping dan overloading.  

Overlapping terjadi manakala satu pekerjaan ditangani oleh banyak pihak, karena semua merasa harus ikut menangani.

Overloading sebaliknya, satu pekerjaan tak ada satu pun pihak yang bersedia untuk menangani.

Dalam melakukan upaya penanggulangan bencana, baik overlapping maupun overloading sebaiknya tidak terjadi. Sebab, yang rugi adalah mereka yang terdampak dan membutuhkan pertolongan serta penyelamatan jiwanya.

Namun, kondisi di lapangan pada saat bencana kadang berbeda karena berbagai faktor. Saat itu, informasi terbatas, data tak lengkap, komunikasi putus, hingga berbagai tantangan lainnya.

Dalam kondisi demikian, maka overlapping pun bisa terjadi. Namun, pesan Muhadjir overlapping itu haruslah terukur. Oleh karenanya, berbagai elemen yang terlibat dalam penanggulangan bencana harus berkolaborasi dan berkoordinasi dengan baik agar tidak terkejut dan panik manakala terjadi.

Berkaitan dengan keadaan bencana di Indonesia, Muhadjir mengingatkan challenge and response theory dari Arnold Toynbee.

Menurut teori tersebut, berbagai peradaban dapat maju dan sejahtera, karena mampu merespon tantangan dengan baik. Contoh dari kondisi ini adalah di Jepang yang memiliki tantangan berupa kondisi alam penuh dengan risiko longsor dan gempa, tetapi negaranya mampu maju.

Leave a Reply