Categories
Tokoh

Tokoh: Analisis Spasial Temporal Tembang Lord Didi

Apa yang membuat lagu-lagu Lord Didi begitu meng-ambyar-kan jiwa?

Entah kenapa, manakala mendengarkan setiap tembang Didi Kempot rasa yang ditimbulkan beraneka rupa. Namun, umumnya rasa yang timbul adalah hangat dan akrab. Kendati pun, seperti kita tahu, lagu Didi lebih banyak mengenai patah hati, penantian, jarak, dan kemuraman yang lain.

Lord Didi, menurut saya telah berhasil meng-ambyar-kan perasaan pendengarnya dengan baik. Lagunya menjadikan patah hati dan penantian menjadi suatu hal yang lumrah dan banyak temannya. Pertanyaannya, bagaimana Didi melakukan hal itu?

Menurut saya, Didi berhasil mengamplifikasi ambyar-nya perasaan pendengarnya melalui lagu-lagunya dengan cara memasukkan unsur spasial (tempat) dan temporal (waktu) dalam tiap lagunya.

Seperti kita ketahui, lagu-lagu Didi acap menyebut tempat-tempat di sekitaran Karesidenan Surakarta dan sekitarnya, hingga ke Semarang, dan Yogyakarta. Tersebutlah Pantai Klayar, Pantai Parangtritis, Stasiun Balapan, Terminal Tirtonadi, Tanjung Perak, Tanjung Mas, dan masih banyak lagi.

Selain tempat, Didi pun rajin memasukkan unsur waktu ke dalam lagunya. Seringkali dia menggunakan ‘wingi’ dan ‘sesok’. Namun, wingi atau kemarin dan sesok atau besok dalam konteks Didi sama dengan penggunaan dua kata itu dalam Bahasa Jawa.

Wingi di situ bukan kemarin dalam Bahasa Indonesia yang berarti sehari lalu. Pun sesok di sana, bukan esok hari seperti maknanya dalam Bahasa Indonesia.

Wingi dan sesok dalam lagu Didi mengandung kelenturan dan relativitas, serta menghindari suatu kepastian. Wingi entah kapan dan sesok entah kapan itu bisa mulur mungkret kadang jauh dan kadang dekat.

Lantas, bagaimana kombinasi spasial dan temporal tersebut dimanfaatkan Didi untuk memperhebat efek lagunya pada jiwa-jiwa yang galau?

Dalam psikologi, dikenal adanya environmental psychology, ini adalah hubungan timbal balik antara suatu lingkungan atau tempat dengan seseorang. Artinya, suatu tempat dapat begitu bermakna bagi orang tertentu, tetapi tidak bagi orang lain.

Dari psikologi lingkungan, kemudian kita mengenal place attachment atau kemelekatan terhadap suatu tempat. Inilah penyebab lanjutan, kenapa suatu tempat begitu bermakna bagi seseorang. Hal ini terjadi karena ada bonding atau ikatan antara orang tersebut dengan lingkungan tertentu.

Selanjutnya dari sisi waktu, dengan menggunakan wingi dan sesok yang bisa mulur dan mungkret seperti sudah dijelaskan di atas, Didi secara sengaja telah bermain-main dengan kenangan dan harapan.

Bagi wingi kenangan, maka suatu peristiwa menjadi semacam nostalgia yang tetap hangat kendati telah lama berlalu dan terasa seperti baru kemarin. Sementara, bagi sesok harapan, maka penantian akan terjadinya suatu peristiwa betapa pun lamanya akan dinanti dengan suka cita.

Akhirnya, tempat-tempat yang disebutkan oleh Didi dalam lagunya hanyalah jembatan untuk kenangan dan harapan bagi tiap-tiap orang. Masing-masing dari kita memiliki lokasi-lokasi sendiri yang serupa dengan Terminal Tirtonadi atau Stasiun Balapannya Didi. Tiap kita juga punya sesok dan wingi-nya masing-masing yang mungkin serupa dengan sesok dan winginya Didi.

Inilah agaknya yang menjadi pesan sejati dari Lord Didi, bahwa kita tak sendiri dalam penantian, kesendirian, ditinggalkan, diberi harapan, dikecewakan, dan di-ambyar-kan. Justru, berbagai ketidaknyamanan itu perlu dirayakan dengan se-ambyar-ambyar-nya di tempat-tempat dan waktu-waktu yang jauh dan dekat.

Artikel ini pertama kali tayang di Kompasiana:
https://www.kompasiana.com/dewantoedi/5e4779e1097f3632443124c2/analisis-spasial-temporal-lagu-lord-didi?page=all#section1

Leave a Reply