Selamat Hari Anak Sedunia dan Kesiapsiagaan Bencana

Tanggal 20 November adalah Hari Anak-Anak Sedunia. Perlu kiranya kita mempersiapkan mereka untuk hadapi bencana.

Anak-anak di seluruh dunia termasuk dalam kelompok rentan saat bencana dan konflik. Oleh karenanya, perhatian pada anak-anak juga diperlukan, terlebih untuk persiapan sebelum terjadi bencana, pemenuhan hak-hak mereka pada saat tanggap darurat (emergency) bencana, dan kebutuhan mereka pascabencana.

Ada satu pelajaran menarik setelah tsunami tahun 2011 di Jepang. Orang-orang mengenalnya sebagai ‘The Kamaishi Miracle’ atau keajaiban Kamaishi. Berikut ini kurang lebih kisahnya:

Zona Kamaishi dikenal rawan bencana, benerapa tsunami pernah melanda wilayah ini dari generasi ke generasi. Dari orang-orang tua, warga Kamaishi belajar ‘tsunami tendenko’. Ide ini kurang lebih artinya perlindungan diri sendiri dan segera bergabung dengan kelompok-kelompok di tempat-tempat yang sudah ditentukan.

Fakta bahwa banyak anak-anak, orang tua, dan anggota keluarga mampu menerapkan tsunami tendenko adalah karena penerapan prinsip tersebut dalam latihan.

Siswa-siswa sekolah diperkenalkan dengan Peta Selamat, yang terinspirasi dari tsunami tendenko dan kemudian diformalkam di seluruh kota. Dokumen ini kemudian didistribusikan ke seluruh keluarga dan harus ditempel di daun pintu yang mudah terlihat jika bencana terjadi. Ini menjadi penanda bahwa rumah tersebut dalam keadaan kosong dan penghuninya sudah mengungsi ke tempat yang ditentukan.

Pada 11 Maret 2011, siswa sekolah setidaknya sudah tiga tahun mendapatkan pelatihan. Mereka lebih siap daripada generasi terdahulu dalam menghadapi bencana.

Manakala gempa melanda pada pukul 14.46 beberapa anak sudah meninggalkan sekolah. Antara pukul 14.50-14.55 siswa di SD Unosumai sudah mengevakuasi diri di lantai 3.

Di seberang jalan, siswa SMA Kamaishi Higashi memutuskan untuk melakukan evakuasi dan mengajak anak-anak SD untuk mengungsi bersama.

Bersama-sama, mereka menuju tempat evakuasi yang berjarak 500 meter dari sekolah. Mereka tiba sekitar pukul 15.05, namun segera menyadari bahwa tebing tempat evakuasi berada akan runtuh.

Mereka pun memutuskan untuk berpindah lagi ke panti jompo. Pada pukul 15.20, tempat evakuasi pertama benar-benar runtuh.

Melihat keruntuhan tersebut, mereka pun memutuskan untuk berpindah lagi ke tempat ketiga. Akhirnya, berkat inisiatif ini, sekitar 600 siswa SD, SMA, dan warga lainnya bisa selamat.

Dari kisah ini, maka pesannya adalah: latihan seyogyanya mendahului bencana.

Jika Anda peduli, mohon bantu sebarkan pesan ini. Terima kasih.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to Top
%d bloggers like this: