Penanggulangan Bencana: Pesan dari Selandia Baru untuk Penanggulangan Bencana Asap

Tulisan ini pertama kali tayang di Kompasiana.

Peserta AHA Centre Executive Programme Angkatan ke-Enam di depan Wharenui (rumah adat suku bangsa Maori) di Kaikoura. Picture by: Sulawan Kewsanga (ACE Participants, Thailand).

Sejak tanggal 15 sampai dengan 29 September saya berada di Selandia Baru Bersama rekan-rekan dari 10 negara ASEAN dalam rangka pelatihan kepemimpinan dalam suatu kejadian bencana sebagai bagian dari AHA Centre Executive Programme Angkatan ke-Enam yang diselenggarakan oleh AHA Centre.

Pada minggu pertama, kami berada di Kota Christchurch dengan satu kali kunjungan lapangan ke Kaikoura. Kedua kota tersebut, pernah mengalami kejadian bencana gempa bumi pada tahun 2010, 2011, dan di Kaikoura pada tahun 2016.

Baik di Christchurch dan Kaikoura, udaranya bersih dan segar. Langit pun bersih, birunya tampak begitu sempurna.

Sementara itu, di tanah air tercinta, saya mengikuti kabar mengenai bencana asap yang terjadi di enam provinsi: Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan.

Saya membaca beberapa perkembangan bencana asap dari para sahabat di Facebook, di antaranya: Fitriyan Zamzami seorang wartawan yang berbagai halaman muka Koran Republika tentang seorang bayi berusia tiga hari di Riau yang meninggal karena virus akibat kabut asap yang membuatnya sesak napas.

Wartawan Kompas, Ahmad Arif pun menuliskan mengenai Jejak Asap dan Generasi yang Terancam Hilang dalam Kabut Asap. Sementara berbagai upaya yang dilakukan juga dapat ditemukan di beranda Facebook Badan Nasional Penanggulangan Bencana.

Sembari mengikuti setiap jadwal yang sudah ditentukan dalam pelatihan kali ini, saya terus-menerus mencoba mencari tahu apa yang bisa dilakukan oleh setiap kita untuk membantu mengurangi derita karena bencana asap ini.

Hingga kemudian sampailah saya di Kaikoura pada Kamis (19/09) kemarin. Di sana, kami diajak berkunjung ke kompleks Maori, suku bangsa asli yang tinggal di Selandia Baru.

Di Wharenui, rumah besar atau adat tempat orang berkumpul termasuk menerima tamu, kami belajar mengenai peran Maori dalam upaya penanggulangan bencana gempabumi di Kaikoura dari Raweri, orang Maori yang baik hati dan berkenan berbagi kepada kami.

Orang Maori dikenal sangat menjaga adat istiadat dan wejangan dari para leluhurnya hingga hari ini, termasuk di Kaikoura. Beberapa menjadi prinsip atau nilai-nilai yang dipegang teguh oleh orang Maori.

Di antara nilai-nilai tersebut, ada beberapa yang sangat berperan sebagai landasan mereka saat melakukan upaya penanggulangan bencana gempabumi di Kaikoura. Setelah saya renungkan, nilai-nilai tersebut pun dapat diterapkan untuk penanggulangan bencana asap.

Kaitiakitanga

Nilai Kaitiakitanga secara harfiah berisi perlindungan pada taonga (sumberdaya). Nilai ini mengajarkan orang-orang Maori untuk selalu peduli pada sesuatu, bisa masyarakat, lingkungan, atau hal lain yang penting untuk mereka. Kaitiakitanga pada akhirnya mengajarkan mengenai keberlanjutan (sustainability).

Dalam ilmu lingkungan, keberlanjutan dapat dicapai jika tercapai keseimbangan, keberlangsungan, dan manfaat untuk tiga P, yaitu People (masyarakat), Planet (lingkungan), dan Profit (keuntungan).

Jika kita menilik bencana asap yang terjadi dan melihat dampaknya, maka bisa kita simpulkan tidak berkelanjutan, karena beberapa faktor.

Kejadian ini merugikan masyarakat (people) dan menimbulkan kerusakan lingkungan (planet), meskipun mungkin menimbulkan keuntungan (profit) bagi beberapa pihak.

Oleh sebab itu, agar berkelanjutan, maka keuntungan tidak boleh hanya untuk salah satu pihak saja, tetapi perlu melibatkan pihak lainnya. Artinya baik Planet, People, and Profit mendapatkan keuntungan.

Kotahitanga

Nilai Kotahitanga mengandung maksud persatuan, semua orang melakukan hal yang sama pada saat yang sama. Dalam hal bencana asap, sepertinya persatuan ini masih belum tercipta, karena semua pihak belum bersatu padu untuk bersama-sama mengatasinya.

Selain sesi dengan Maori, di salah satu sesi yang lain datang pula seorang narasumber dari pemadam kebakaran Selandia Baru. Salah satu pesan yang saya ingat betul adalah, “Jangan mengkritik pemadam kebakaran saat mereka memadamkan api.”

Persatuan juga mengandung maksud, bahwa hal yang paling penting adalah masyarakat, masyarakat, dan masyarakat. Upaya penanggulangan bencana asap perlu dilakukan bersama-sama dengan seluruh elemen masyarakat, bukan sekadar petugas untuk masyarakat.

Kesehatan fisik dan terutama mental para petugas pemadam juga perlu mendapat perhatian. Mereka sudah bekerja sekuat tenaga untuk melakukan upaya tersebut.

Sedikit penghargaan untuk mereka tentu tidak ada salahnya. Bagi yang tidak bisa menyumbangkan tenaga, mungkin bisa mengurangi kritik dan justru memberikan apresiasi.

Sebab, jika kesehatan fisik dan mental mereka terganggu, maka akhirnya pelayanan mereka pun tidak akan maksimal atau setengah hati.

Dukungan dari berbagai pihak juga pada akhirnya akan mewujudkan persatuan dalam upaya bersama untuk mengatasi bencana asap dan mendukung pengamalan nilai Kotahitanga tersebut.

Mauri

Masih banyak lagi nilai-nilai yang dianut oleh Suku Bangsa Maori di Selandia Baru. Namun, Mauri mungkin tingkat tertinggi dari nilai-nilai tersebut. Mauri secara harfiah berarti inilah saya, inilah keunikan saya. Dalam penerapannya, Mauri bermakna inilah sumber kehidupan saya.

Secara lebih luas, maka setiap hal yang hidup menurut kepercayaan orang-orang Maori memiliki sumber kehidupan, termasuk pepohonan dan hewan. Oleh sebab itu, maka semua makhluk hidup perlu diperlakukan dengan penuh hormat.

Penghormatan di sini termasuk tidak membakar hutan yang penuh dengan pepohonan dan binatang, karena mereka pun punya sumber kehidupan.

Penghormatan di sini juga termasuk menghindarkan manusia dari bencana asap yang dapat mengganggu kehidupan manusia baik itu generasi yang hidup saat ini, maupun yang akan datang.

Penutup

Kalimat pengingat berikut ini dapat ditemukan di Christchurch City Centre dan saya memodifikasinya sedikit:

Kami, Anda, Saya, dan Kita semua bersama membangun masa depan, ketika semua keberagaman dalam masyarakat yang kita miliki akan menjadi perekat bagi ketangguhan menghadapi bencana untuk generasi saat ini dan generasi mendatang.

Kate, Pemimpin Badan Penanggulangan Kedaruratan Daerah (Disaster Emergency Council) di Kaikoura mengingatkan:

“I can do good things, you can do good things. We can do great things!”

Selanjutnya, Selandia Baru atau New Zealand dalam Bahasa Maori disebut Aotearoa.

Arti harfiah dari kata ini adalah ‘tanah dengan awan-awan putih yang panjang’. Nama ini merujuk pada pengalaman orang-orang Maori saat melakukan perjalanan dan kemudian menemukan Selandia Baru.

Namun, seperti kita ketahui, awan tak selamanya putih, terkadang mendung terjadi dan putih pun berubah menjadi gelap kelabu.

Pada saat itu terjadi, ada ujaran dalam Bahasa Inggris “Every cloud has a silver lining”. Kalimat ini mengandung pesan agar kita tidak berputus asa karena setiap masa yang sulit akan mengarah ke hal-hal yang lebih baik.

Bencana asap yang saat ini melanda bisa menjadi momentum untuk perbaikan itu, manakala setiap elemen bangsa bersatu padu menanggulanginya, ketika perlindungan terhadap lingkungan untuk kelestariannya dilakukan.

Karena setiap makhluk memiliki sumber kehidupan. Kita perlu melakukan hal ini sekarang, untuk generasi saat ini dan masa datang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to Top
%d bloggers like this: