Kepemimpinan: ‘Krisis’ dalam Pandangan 3 Pemimpin Perempuan

Tulisan ini pertama kali tayang di Kumparan

Executive Director AHA Centre, Adelina Kamal, bersama para pemimpin perempuan dalam acara Leaders Talk (AHA Centre).

Saat krisis terjadi karena konflik dan kejadian bencana, perempuan seringkali menjadi korban. Dalam Disaster and Gender Statistics, perempuan banyak menjadi korban karena berbagai hal, seperti ketidaksamaan (inequality), kondisi ekonomi, kurangnya keterampilan, dan lainnya. Hasilnya, 14 persen perempuan menjadi korban lebih banyak karena krisis daripada laki-laki.

Namun, pada saat yang sama, perempuan juga bisa menjadi para pemimpin dalam kerja-kerja kemanusiaan. Dalam pelatihan AHA Centre Executive (ACE) Programme yang diselenggarakan oleh AHA Centre, 3 orang pemimpin perempuan hadir dalam Leaders Talk pada Jumat, 9 Agustus 2019. Ketiganya adalah:

  • Country Director of Christian Aid Philippines: Alexandra Jing Pura.
  • Country Director of HelpAge International Bangladesh: Rabeya Sultana.
  • Head of Disaster Risk Management for Asia Region-Plan International: Vanda Lengkong.

Berikut ini beberapa pelajaran dari para narasumber, saat para perempuan memimpin organisasinya masing-masing dalam menghadapi krisis.

Alexandra Jing Pura

Alexandra Jing Pura (AHA Centre).

Di awal kariernya, Jing berada dalam organisasi yang didominasi oleh para pria dan sangat hierarkis. Dia kemudian ingin mempromosikan kepemimpinan yang feminis, meskipun banyak tantangan yang harus dihadapinya dan memerlukan kerja sama.

Perempuan dalam kerja kemanusiaan berhubungan dengan ketidakseimbangan kekuatan (power imbalance). Gagasan mengenai kekuatan ini dapat dibedakan menjadi tiga, yaitu:

  • Power within, kekuatan dalam diri atau kapasitas diri;
  • Power with, kekuatan untuk bekerja sama dengan orang lain;
  • Power to, kekuatan untuk melakukan suatu hal.

Dengan mengetahui berbagai gagasan mengenai kekuatan, maka dalam suatu krisis–seperti penanggulangan bencana–diperlukan orang-orang yang dapat bekerja dengan berbagai pihak. Orang-orang semacam itu, biasanya seorang perempuan. Menurut Jing, pemimpin perempuan saat menghadapi stres perlu menjaga keseimbangan antara pikiran, tubuh, dan hatinya. Dia harus setia pada tugasnya untuk peduli serta konsisten pada upayanya untuk melakukan pendampingan.

Perlunya pengakuan akan peran perempuan sebagai cerminan keberagaman untuk mengetahui situasi secara lebih baik.

Dalam situasi krisis, di mana peran pria lebih dominan, maka Jing berpesan perlunya pengakuan akan peran perempuan sebagai cerminan keberagaman untuk mengetahui situasi secara lebih baik. Para pria disarankan untuk melihat berbagai prasangka (bias) yang ada dalam diri mereka sendiri. Sebaliknya, pada situasi yang penuh perseteruan, maka tak jarang terjadi perundungan dan guyonan terhadap perempuan. Dalam kondisi demikian, maka perempuan perlu bersuara.

Jing mengingatkan perlunya kebijakan menjaga keamanan (safe guarding policy) untuk menghindarkan ancaman terhadap perempuan, seperti pelecehan seksual. Oleh sebab itu, perlu perhatian dari para pengambil keputusan, termasuk untuk beberapa isu sensitif, seperti LGBT. Selain itu, kode etik (code of conduct) organisasi juga perlu menjadi perhatian.

Berbagai capaian dan kiprah Jing sebagai pemimpin perempuan dalam situasi krisis diinspirasi oleh para pemimpin perempuan di akar rumput yang berjuang untuk perempuan-perempuan lainnya.

Perempuan perlu menghadapi emosinya kemudian mengubahnya menjadi perhatian atau kepedulian kepada komunitas.

Jing, dalam satu sesi mendapatkan pertanyaan yang cukup sulit dari peserta, “bagaimana seorang pemimpin perempuan berdamai dengan emosinya?” Jing pun menjawab, “bahwa perempuan perlu menghadapi emosinya kemudian mengubahnya menjadi perhatian atau kepedulian kepada komunitas dengan memberikan pendampingan pada aspek sosial dan ekonomi.”

Salah satu persoalan dalam kepemimpinan yang didominasi pria adalah manakala para perempuan diam. Hal ini mengarah pada sedikitnya sumber daya yang dialokasikan untuk perempuan. Namun, keadaan ini akan segera berubah, seiring semakin banyaknya pemimpin perempuan.

Rabeya Sultana

Rabeya Sultana (AHA Centre).

Pada tahun 2000, Rabeya menerima sepucuk surat dari para pekerja seks yang didampinginya. Dalam surat tersebut, para pekerja itu mengucapkan terima kasih karena berbagai keterampilan dan pendampingan yang diberikan oleh Rabeya, seperti bernegosiasi, menuntut hak, dan lainnya.

Visi Rabeya adalah perubahan (transformative vision) yang melibatkan rekan-rekan kerja dan klien. Selain itu, seorang pemimpin memiliki banyak pengikut yang tak jarang akan memberikan kritik. Bagi pemimpin seperti Rabeya, kegagalan juga memberikan peluang untuk belajar.

Saat menjadi transformativeleaders atau pemimpin perubahan, maka Rabeya menyarankan agar seorang pemimpin tidak sekadar mengedepankan emosi dalam mengambil keputusan, tetapi lebih mendasarkan keputusan itu kepada pengetahuan. Selain itu, transformative leadersjuga memberikan ruang kepada orang lain untuk menjadi pemimpin.

Rabeya memandang krisis sebagai tempat untuk belajar. Saat krisis, perempuan terutama perlu untuk percaya diri, mandiri, dan sadar. Hasilnya, perempuan tidak lagi bergantung pada orang lain, tetapi pada dirinya sendiri. Seringkali, perempuan bekerja sama dalam satu organisasi dan bila sudah berhasil, maka perempuan juga perlu merayakan kesuksesan tersebut.

Seorang pemimpin perempuan menghadapi tantangan dalam setiap langkahnya.

Rabeya berpendapat bahwa perempuan yang juga seorang ibu adalah manajer terbaik di dunia. Guna menjadi manajer terbaik, maka perempuan perlu membangun dirinya dalam hal:

  • Sikap dan kepribadian.
  • Pengembangan diri seperti penguasaan teknologi informasi dan berbagai keahlian lain.
  • Pengetahuan menjadi seorang pemimpin.

“Seorang pemimpin perempuan menghadapi tantangan dalam setiap langkahnya,” kata Rabeya. Tantangan tersebut berasal dari internal dan eksternal. Oleh sebab itu, pemimpin perempuan harus mampu bertindak benar pada saat yang tepat, termasuk berkomunikasi pada saat yang tepat. Perempuan juga disarankan untuk selalu tersenyum. Selanjutnya, perempuan juga perlu memahami kemampuan dan kekuatannya sendiri.

Rabeya mempercayai bahwa ‘sharing is caring‘ atau berbagi adalah peduli. Karena itu, dia menganjurkan agar kebahagiaan dibagi, pun kesedihan. Dengan begitu, maka kebahagiaan dan kesedihan akan tertanggungkan.

Manakala terjadi krisis dan peran perempuan dipertanyakan di antara para pria, maka Rabeya menyampaikan perlunya saling menghormati dan kerjasama, serta pelembagaan peran perempuan. Guna melakukan hal ini, maka diperlukan penajaman kapasitas perempuan agar mereka dapat berperan lebih.

Menyangkut kritik, Rabeya menyampaikan adanya dua kritik, yaitu positif dan perbaikan. Namun, untuk melihat kritik dari perspektif ini memerlukan latihan untuk menerima kritik secara positif. Kita perlu menerima kritik negatif hanya dalam rangka upaya perbaikan. Kepada kritik semacam itu, maka janganlah terburu-buru untuk merespons, tetapi berilah sedikit waktu untuk berpikir. Jadilah pemimpin untuk proses berpikir Anda sendiri, pesan Rabeya kepada para perempuan.

Mengambil keputusan tanpa emosi artinya suatu keputusan berdasarkan analisis.

Dalam suasana krisis, beberapa tantangan terjadi, seperti mengelola emosi orang-orang yang terdampak konflik atau bencana. Termasuk di dalamnya membuat perbedaan antara menyelamatkan nyawa atau melanjutkan kehidupan. Sebagai pemimpin, tentu menjadi tantangan pula bagaimana mengelola keuangan dari berbagai donor. Tak ketinggalan adalah menjaga inklusivitas saat memberikan pendampingan kemanusiaan.

Dalam salah satu sesi, Rabeya mendapatkan pertanyaan lanjutan dari peserta, “Bagaimana mengambil keputusan tanpa emosi, padahal kita tahu bahwa perempuan sangat dipengaruhi oleh emosinya?”

Menurut Rabeya, pertama kali seorang pemimpin perempuan perlu menyadari dan mensyukuri fakta bahwa dirinya mampu menyelamatkan orang lain. Selanjutnya, mengambil keputusan tanpa emosi artinya suatu keputusan berdasarkan analisis. Artinya, sebelum keputusan diambil, perlu dianalisis apa kira-kira yang akan dihasilkan dari keputusan tersebut. Untuk melakukan hal ini, maka diperlukan visi jauh ke depan.

Rabeya juga ditanya mengenai konflik kepentingan antara dirinya sebagai seorang ibu dan pemimpin perempuan. Dia pun menjelaskan, bahwa perempuan memiliki dua fungsi, yaitu produktif sebagai ibu dan strategis sebagai seorang pemimpin perempuan. Menjaga keseimbangan di antara keduanya sangat penting untuk dilakukan, yaitu dengan selalu pulang ke rumah tanpa rasa bersalah karena menjalankan peran dalam pekerjaan.

Tak kalah penting adalah dengan senantiasa menjaga waktu-waktu yang berkualitas dengan keluarga. Baginya, kesuksesan terbesar seorang perempuan adalah manakala mampu menolong perempuan lain yang membutuhkan.

Perempuan harus mampu menghadapi berbagai ketidaknyamanan, kurang percaya diri, malu-malu, dan lebih mempercayai kemampuan serta pengetahuan mereka.

Pemimpin perempuan menurut Rabeya mendapatkan posisinya bukan karena dia perempuan, tetapi karena kemampuannya. Para pemimpin perempuan perlu mengawali berpikir sebagai manusia dengan kemampuan dan bukan sebagai seorang perempuan. Oleh sebab itu, menurutnya tidak ada batasan dalam belajar. Dia menyarankan perlunya belajar dari berbagai generasi.

Kepada para perempuan, Rabeya mengingatkan bahwa seringkali hambatan datang dari diri perempuan sendiri karena kurang percaya diri. Perempuan harus mampu menghadapi berbagai ketidaknyamanan, kurang percaya diri, malu-malu, dan lebih mempercayai kemampuan serta pengetahuan mereka.

Selanjutnya, Rabeya menyinggung bahwa hubungan di antara para pekerja kemanusiaan laksana jejaring laba-laba. Setiap orang berangkat dan memiliki latar belakang yang berbeda-beda dalam hal kebudayaan, pendidikan, dan pengalaman dalam hidup. Namun, orang-orang tersebut saling berhubungan dan hendaknya saling menghormati satu dengan yang lainnya. Kunci dalam pergaulan dengan berbagai latar belakang adalah dengan selalu rendah hati dan mendengarkan. Saat harus menyelesaikan persoalan, maka perlu membicarakan sistem untuk menyelesaikan persoalan tersebut dan tidak terjebak pada pembicaraan menyangkut pribadi orang per orang.

Vanda Lengkong

Vanda Lengkong (AHA Centre).

Bagi Vanda, seorang pemimpin harus mampu bersekutu dengan orang lain (align), memberikan motivasi (motivating), dan memberikan seperangkat arahan (directions). Semua ini diawali dari empat kuadran dalam hidup Vanda, yaitu:

  • Masa kanak-kanak, di gereja;
  • Remaja, di sekolah dalam kegiatan OSIS hingga berjualan barang;
  • Kuliah, pernah terlibat dalam demonstrasi 1998;
  • Profesional muda, besarnya pengaruh mentor.

Vanda menyampaikan bahwa seorang pemimpin tidak tercipta secara instan. Dia adalah sosok yang rendah diri dan terus menerus belajar. Vanda mengingatkan satu pesan dari Mahatma Gandhi, “Hiduplah seolah-olah Anda akan mati besok. Belajarlah, seolah-olah Anda akan hidup selamanya.”

Selanjutnya, menurut Vanda, seorang pemimpin sejati tidak hanya memiliki pengikut, tetapi juga memberikan kesempatan kepada pemimpin-pemimpin baru lainnya.

Saat krisis melanda dan seorang perempuan menjadi pemimpin, dia tidak boleh dikuasai oleh emosi. Perempuan tersebut berada di lokasi krisis untuk menolong dan memberikan bantuan. Oleh sebab itu, dia perlu mengetahui kapasitas dirinya dalam menghadapi tantangan tersebut.

Kepada para pria yang bersama-sama bekerja dalam situasi krisis, Vanda berpesan perlunya kepemimpinan berdasarkan contoh (lead by example) serta pemberian kesempatan dan akses kepada perempuan. “Mari bekerja bersama-sama dan tidak saling berkompetisi. Mari sama-sama mendukung kesamaan gender,” kata Vanda.

Para perempuan perlu membuktikan kemampuannya melalui prestasi kerja karena aksi lebih berbicara daripada sekadar kata-kata.

Saat mendapatkan pertanyaan dari peserta, “Apa yang harus dilakukan para perempuan saat tidak ada kesempatan untuk mereka?”

Vanda pun menjelaskan, bahwa di organisasinya saat ini, Plan Internasional terdapat dukungan untuk peran-peran yang bisa dilakukan oleh perempuan. Semua itu berawal dari proses yang menyeluruh dalam perekrutan pegawai Plan Internasional semenjak dari proses perekrutan. Namun, dia juga menyarankan agar para perempuan membuktikan kemampuannya melalui prestasi kerja karena aksi lebih berbicara daripada sekadar kata-kata. Lakukan pekerjaan sebaik-baiknya dan penuh kehormatan.

Perempuan harus memperlihatkan kinerjanya, menunjukkan potensi dirinya, dan memperoleh pendidikan. Di sini, pendidikan bukan hanya dalam jalur formal, tetapi juga berbagai hal yang dapat meningkatkan pengetahuan. Selanjutnya, berbagai pengetahuan itu akan menjadi perangkat pengetahuan bagi para perempuan, sehingga mereka akan dihormati dan diperhitungkan.

Sementara mengenai tantangan dalam bekerja untuk kemanusiaan bersama para korban, Vanda menyarankan agar kita tidak boleh berhenti dan menyerah. Namun, tetap di sana memberikan pendampingan kepada para korban: siap untuk mendukung mereka dan menjadi pendengar yang baik.

oOo

Demikianlah beberapa catatan dari Leaders Talk para pemimpin perempuan. Semoga bermanfaat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to Top
%d bloggers like this: