Penanggulangan Bencana: Evakuasi di Lokasi Bencana dengan Sister Village

“Di masa bencana, ruang-ruang kemanusiaan menemukan ladang persemaian.” Demikian penutup berita berjudul ‘Tetap Berbagi dalam Keterbatasan’ di Harian Kompas (27/12/2018). Dalam artikel tersebut, dikisahkan bagaimana warga di Desa Tembong dan Sukarame, Kecamatan Carita, Kabupaten Pandeglang saling berbagi. Kondisi serupa juga terjadi di Desa Way Muli, Kecamatan Rajabasa, Kabupaten Lampung Selatan. 

Di dua lokasi tersebut, warga yang rumahnya berada di tempat lebih tinggi menerima warga yang tinggal di dataran lebih rendah dan menjadi korban tsunami dan gelombang pasang yang melanda kawasan pesisir Selat Sunda pada 22 Desember 2018. Di rumah-rumah sederhana, warga yang datang dalam kondisi panik karena tsunami dan kuyup karena hujan diterima dengan tangan terbuka. Tuan rumah dan pendatang pun saling berbagi dan menyesaki ruang tamu dan bagian lain rumah yang tak seberapa luas. 

Situasi setelah bencana mempertemukan mereka yang semula tak saling kenal dan menyatukan mereka dalam satu rumah. Bisa jadi mereka saling bertukar cerita tentang petaka dan kepanikan yang baru saja bisa dilalui. Dikisahkan pula, bagaimana pendatang memakai pakaian tuan rumah yang sedang dijemur dan menyantap hidangan sekadarnya yang disajikan. 

Dalam bencana, ikatan sosial terbentuk menjadi sebuah modal sosial yang dapat meringankan derita. Namun, fenomena tersebut tidak hanya terjadi di pesisir Selat Sunda. Di beberapa belahan negeri ini yang rentan bencana kisah serupa pun terjadi. Bahkan, di lereng Gunung Merapi kita mengenal gerakan Sister Village. 

Di pinggang Merapi yang masuk ke dalam wilayah Kabupaten Magelang, tercatat 19 desa membentuk Sister Village pada tahun 2013. Desa-desa tersebut berada di dalam Kawasan Rawan Bencana (KRB) III Merapi yang sangat rawan bencana jika Gunung Merapi meletus. Guna mengantisipasi letusan, maka desa-desa tersebut berpasangan dengan desa lain yang berada di luar KRB III. Ini adalah respon yang dilakukan warga dan pemerintah di wilayah Kabupaten Magelang sebagai antisipasi potensi letusan Gunung Merapi tanggal 22 Juli 2013. 

Cara kerja Sister Village cukup sederhana. Manakala Gunung Merapi ditingkatkan statusnya menjadi Awas dan evakuasi harus dilakukan, maka 19 desa di KRB tersebut akan melakukan evakuasi ke desa-desa pasangannya. Misalnya, 19 desa yang berada di Kecamatan Sawangan, Srumbung, dan Dukun, Kabupaten Magelang akan mengevakuasi diri ke desa pasangannya yang berada di Kecamatan Muntilan, Srumbung, Mungkid, Pakis, Candimulyo, dan Mertoyudan, Kabupaten Magelang. Ada desa yang dievakuasi ke desa tetangga dalam satu kecamatan dan ada pula yang dievakuasi ke desa lain di kecamatan yang berbeda. Bahkan, perkembangan terakhir, Sister Village sudah berkembang antar kabupaten, misalnya desa-desa di KRB III yang berada di wilayah Boyolali memiliki pasangan dengan desa-desa di wilayah Kabupaten Magelang. 

Tentu saja, hubungan di antara desa tersebut tidak terjalin dengan sendirinya, tetapi melalui sejarah yang panjang. Sebagai contoh adanya hubungan perdagangan atau kekeluargaan di antara dua desa yang menjadi awal terbentuknya Sister Village. Hubungan dagang dan keluarga tersebut kemudian berubah menjadi saling menolong dan bergotong royong untuk mengurangi dampak bencana. 

Sister Village tersebut memiliki manfaat bagi pelaku penanggulangan bencana dan juga warga sendiri. Dengan adanya Sister Village, maka kepanikan pada saat evakuasi dapat dihindari, sehingga mempermudah upaya evakuasi. Selanjutnya, Sister Village juga mempermudah pendataan pengungsi, sehingga mempermudah pendistribusian logistik sesuai dengan jumlah dan kebutuhan penyintas. Bagi warga, dengan mengetahui tujuan ke desa penyangga akan mampu mengurangi risiko terpisahnya anggota keluarga. 

Evakuasi warga sudah jamak dan sering dilakukan pada beberapa jenis bencana, seperti erupsi gunungapi, tsunami, gempabumi, banjir, dan longsor. Langkah evakusi ini dapat berjalan dengan baik jika tingkat ancaman bencana dan tujuan atau lokasi evakuasi sudah lebih dahulu diketahui. 

Peristiwa ini pernah terjadi pada saat krisis Gunung Agung di Provinsi Bali. Waktu itu, beberapa kali PVMBG mengubah status Gunung Agung dan melebar-sempitkan radius bahaya. Sebagai konsekuensi, proses evakuasi dilakukan berselang-seling dengan proses pemulangan penyintas. Sebagai contoh, pada periode Awas pertama dari 21 September sampai dengan 29 Oktober, boleh dikatakan warga tidak siap untuk melakukan evakuasi, sehingga terjadi kepanikan dan kebingungan ke mana harus mengungsi. Setelah tinggal di lokasi pengungsian, di akhir periode ini warga diperkenankan kembali ke rumah masing-masing. 

Namun, rupanya Gunung Agung kembali menunjukkan peningkatan aktivitas, sehingga periode Awas kedua yang dimulai pada tanggal 28 November 2016 diberlakukan. Keputusan ini menyebabkan proses evakuasi dilakukan lagi kepada sebagian warga yang sudah pulang ke rumah masing-masing. Pada periode evakuasi kedua ini, kondisi sudah jauh berbeda, yaitu ketika masyarakat sudah tidak lagi panik dan tahu ke mana harus melakukan evakuasi. Bahkan, pada periode ini, Gubernur Bali menyampaikan perlunya dibentuk kegiatan semacam Sister Village di Bali. 

Melihat uraian dan manfaat Sister Village di beberapa tempat tersebut, maka langkah ini adalah upaya yang tepat untuk diberlakukan dan diadopsi di daerah rawan bencana lainnya, termasuk di daerah pesisir Selat Sunda yang berisiko terdampak tsunami akibat aktivitas Gunung Krakatau. Jika langkah ini dilakukan, maka warga yang harus mengevakuasi dirinya sudah tahu ke mana mereka harus pergi. Sementara itu, warga yang berada di tempat tujuan pun tidak terkejut manakala harus menerima saudaranya yang berbondong-bondong datang. 

Di Gunung Agung, masyarakat bahkan tetap dapat melakukan aktivitasnya untuk membuat kerajinan tangan meskipun saat itu harus tinggal di lokasi pengungsian. Dengan demikian, gangguan terhadap mata pencaharian warga pun dapat dikurangi. Sementara itu, siswa-siswi sekolah pun tidak terganggu karena di sekitar tempat evakuasi sudah disiapkan sekolah terdekat yang akan menampung peserta didik yang harus dievakuasi. Kondisi tersebut juga terjadi untuk fasilitas lain seperti jalan, kesehatan, dan pasar yang tetap dapat berjalan sebagaimana mestinya meskipun di tempat evakuasi. 

Beberapa persiapan perlu dilakukan guna mendukung pelaksanaan Sister Village di suatu tempat yang berisiko bencana. Pertama adalah membangun jejaring komunikasi yang baik antara warga di desa terdampak dengan warga di desa pasangannya. Hal ini penting untuk memperlancar proses evakuasi. Dengan komunikasi yang baik, maka warga di desa yang akan melakukan evakuasi siap untuk berangkat, sementara mereka yang tinggal di desa pasangannya siap untuk menerima.

Jejaring komunikasi yang telah berdiri dan eksis dapat menjadi contoh. Di sekitar Gunung Agung saat ini kita mengenal komunitas Pasebaya, di Merapi ada Pasag Merapi, sementara di Gunung Kelud kita mengenal komunitas Jangkar Kelud. Komunitas yang dibangun oleh warga di lereng-lereng pegunungan aktif ini semula berbagi informasi mengenai aktivitas gunungapi itu sendiri. Namun, kini informasi yang dibagikan di antara anggotanya lebih beragam dan tidak hanya melulu menyangkut aktivitas gunungapi. 

Langkah kedua yang perlu disiapkan adalah penyediaan berbagai fasilitas yang diperlukan di lokasi tujuan evakuasi jika memungkinkan. Perlu adanya tempat evakuasi yang memadai dilengkapi dengan kebutuhan dasar, seperti toilet, fasilitas sekolah, kesehatan, peribadatan, dan lainnya. Langkah ketiga adalah melakukan latihan evakuasi dengan skenario terburuk bencana yang mungkin terjadi. Kemudian, langkah terakhir adalah melakukan evaluasi terhadap rencana evakuasi dan pelaksanaannya, serta Sister Village secara keseluruhan agar dapat dilakukan berbagai upaya perbaikan.

Dengan melakukan langkah-langkah tersebut untuk membangun dan mewujudkan Sister Village di daerah bencana, diharapkan proses evakuasi saat terjadinya bencana dapat dilakukan dengan lebih baik. Proses evakuasi yang tertib, lancar, dan manusiawi secara tidak langsung akan dapat mengurangi jumlah korban jiwa akibat bencana. 

Namun, yang lebih penting adalah memberikan kesempatan kepada alam untuk mencapai keseimbangannya. Seperti di Krakatau saat ini, dengan menghindari zona bahaya, maka kita memberikan kesempatan kepadanya untuk menggeliat, menggelorakan lautan, dan kemudian memiuhkan ombak di pantai tanpa menyebabkan korban jiwa. Kita terima peringatan darinya sebagai fenomena alam yang mesti terjadi agar kita bisa hidup harmoni bersama ancaman bencana. 

Sebagai tambahan, guna melihat bagaimana perwujudan sister village, Anda bisa melihat di aplikasi A SIKK (Aplikasi Sistem Informasi Kebencanaan Kabupaten) milik BPBD Kabupaten Magelang di alamat: http://sikk-bpbdmagelang.info .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to Top
%d bloggers like this: