Review: Kutipan dari Sapiens-nya Harari

Source: Gramedia.com

Saya mengalami kesulitan antara harus menawarkan atau melarang rekan-rekan untuk membaca Sapiens karya Harari ini.

Namun, atas nama ilmu pengetahuan serta untuk meningkatkan pengetahuan dan menambah wawasan, izinkan saya berbagi beberapa kutipan yang saya anggap menarik dari Sapiens.

Sekali lagi, saya ingatkan: bagi pembaca yang ragu-ragu atau lemah iman, maka urungkanlah niat Anda untuk terus membaca. Berhentilah dan cukup baca sampai di sini. Saya tidak bertanggung jawab atas risiko yang ditimbulkan nanti setelah Anda membaca.

Bagi yang ingin terus membaca, mari kita diskusikan beberapa poin yang menarik berikut ini:

1. Kemampuan terbesar manusia adalah bergosip dan berimajinasi.

Binatang mampu mendeteksi bahaya, hanya jika mereka melihat dengan jelas datangnya bahaya tersebut. Sebagian bangsa monyet, mampu mendeteksi bahaya dan memperingatkan kawan-kawannya.

Namun manusia, mampu menceritakan ancaman yang belum jelas bentuknya. Misalnya, di kelokan sungai sekitar sekilo dari sini seseorang melihat sesuatu yang tampak seperti harimau.

Kemudian dia akan berlari dan menceritakan penglihatannya yang sekilas itu kepada kelompoknya. Apakah benar yang dilihat itu harimau atau hanya seolah-olah mirip harimau? Yang pasti, kelompok itu kini berlari dan menyelamatkan diri.

Adakah selain harimau, sesuatu yang sebenarnya hanya ada dalam imajinasi bersama manusia?

2. Dalam sebuah suku, para wanitanya mempraktikkan poliandri. Mereka akan kawin dengan pemburu terbaik, orang terpintar, lelaki terkuat, pria terbijak, dan lainnya. Mereka berharap dengan melakukan itu akan mendapatkan anak yang mewarisi sifat-sifat paling dari Bapaknya.

Sempat kaget juga pas baca bagian ini. Namun, zaman dulu mungkin bukan barang yang aneh.

Saat itu mereka belum tahu mengenai sel sperma, ovum, dan proses pembuahan hingga menjadi janin. Di sisi lain, meteka menghadapi bahaya yang tak mudah untuk ditaklukkan dari lingkungan sekitarnya.

Namun, rupanya praktik poliandri tersebut hingga sekarang masih ada di Suku Indian. Sayang, saya lupa suku apa dan juga lupa di halaman berapa Harari menyinggung perihal tersebut.

Kini, coba dibandingkan alasan di balik praktik poliandri dengan poligami yang marak terjadi.

3. Setiap masyarakat manusia sangatlah kompleks. Oleh karena itu, kita tidak boleh mengutuk atau mengidealkan berdasarkan pengetahuan yang dangkal.

Seringkali kita terpukau pada kebudayaan lain karena hal-hal yang menakjubkan atau mengherankan. Dengan mudah kemudian kita menjadikan kebudayaan tersebut sebagai kiblat atau layak untuk dihujat.

Padahal, seperti disampaikan Harari, suatu masyarakat dengan kebudayaannya adalah sesuatu yang sangat kompleks, sehingga perlu banyak penyelidikan, pengenalan, dan pengetahuan untuk memahami dinamika yang terjadi pada masyarakat tersebut.

4. Bagi hewan domestikasi, revolusi pertanian adalah bencana paling mengerikan.

Sejak revolusi pertanian, manusia kemudian mengenal domestikasi hewan. Hanya sedikit sebenarnya hewan yang dipelihara oleh manusia jika dibandingkan dengan keanekaragaman hayati di alam. Jenis hewan tersebut kini bahkan semakin menyusut larena hanya ayam dan sapi serta anjing yang dipelihara secara massif oleh manusia. Dua jenis hewan pertama menjadi faktor produksi dan bukan makhluk hidup. Sementara yang ketiga lebih dimanfaatkan untuk rekreasi dan afeksi.

Sebagai faktor produksi, ayam dan anjing dipelihara untuk meraih keuntungan sebanyak-banyaknya. Misalnya mereka dipelihara di kandang sempit untuk memaksimalkan ruang dan juga produksi. Ayam pun demikian, dipelihara dengan memberikan banyak hormon agar bisa segera dipanen dalam waktu sangat singkat.

Pendek kata, hewan yang di-domestikasi tidak menjalani kehidupan seperti seharusnya di alam. Mereka disiksa dengan berbagai rekayasa demi kepentingan manusia.

5. Tatanan universal umat manusia dibentuk oleh: moneter, politik, dan religius.

Apa sejatinya yang menyatukan manusia atau kelompok manusia? Menurut Harari, jawabannya adalah kebutuhan akan uang, kekuatan politik, dan kesalehan beragama.

6. Dasar dari sains modern adalah menerima kenyataan akan ketidaktahuan.

Seringkali kita merasa bangga karena mengetahui suatu hal. Namun, yang membuat perubahan justru ketidaktahuan. Sebab, pengetahuan baru seringkali menimbulkan pertanyaan-pertanyaan baru, ye kan?

7. Bangsa Eropa bersemangat untuk menggambarkan dunia secara lengkap. Namun, dalam melakukannya, mereka membiarkan ada daerah kosong dalam peta yang digambar. Daerah kosong tersebut menjadi wilayah yang harus diselidiki.

Hal ini berbeda dengan bangsa-bangsa lain yang enggan melakukan perluasan wilayah ke tempat-tempat yang jauh. Umumnya, bangsa-bangsa di dunia menaklukkan tetangga sekitar.

Namun, bangsa Eropa justru berinvestasi pada pelayaran, ilmu pengetahuan, dan termasuk di dalamnya melengkapi peta yang masih kosong.

8. Keberhasilan bangsa Eropa adalah karena kombinasi dari sains dan imperialisme.

Sebenarnya jika dibandingkan dengan bangsa lain, seperti Tiongkok atau negara-negara di Timur Tengah, bangsa Eropa pada awalnya termasuk tertinggal. Namun, mereka mengembangkan ilmu pengetahuan dan juga penaklukkan di lokasi-lokasi yang jauh.

Alhasil, manakala tatanan dunia baru tercipta, mereka menjadi pihak yang paling siap menyambutnya. Bahkan, mereka menjadi salah satu kreator perubahan tersebut.

9. Negara adidaya dapat dikalahkan jika pergulatan lokal mampu menjadi perjuangan global.

Hal ini terjadi misalnya pada isu seperti hak asasi manusia atau perubahan iklim. Berawal dari isu lokal yang kemudian berubah menjadi permasalahan besar umat manusia.

10. Yang memungkinkan bank dan seluruh ekonomi bertahan dan berkembang adalah kepercayaan kita akan masa depan. Kepercayaan itu merupakan satu-satunya penopang bagi sebagian besar uang di dunia.

Saat ini, tahukah Anda apa jaminan dari uang yang beredar? Rasanya menjadi benar apa yang disampaikan Harari, kita percaya bahwa masa depan akan datang dengan lebih baik. Oleh karenanya, kita berani mengambil kredit dan bank pun sukarela memberikan kredit untuk kita.

11. Sumberdaya ekonomi paling penting adalah kepercayaan akan masa depan, dan sumberdaya ini terus menerus terancam oleh penjahat dan penipu.

Bukankah uang yang beredar saat ini tidak ada nilainya? Itu hanyalah selembar kertas. Namun, karena imajinasi kolektif manusia akan masa depan menghadirkan kepercayaan, maka saat ini manusia menerima begitu saja kekuatan selembar kertas yang bergambar.

Manusia satu dengan yang lain percaya, bahwa uang dari selembar kertas yang beredar saat ini masih akan diterima dan dapat dimanfaatkan di masa yang akan datang.

12. Egoisme adalah altruisme.

Kini kita melihat bahwa para pribadi super kaya menjadi mereka yang paling dermawan. Mereka membesarkan egonya sendiri dan seiring dengan itu membesarkan pula inisiatif dan sumbangannya untuk kemanusiaan.

13. Para produsen sengaja merancang barang-barang yang tidak tahan lama dan menciptakan model-model yang baru dan tidak diperlukan dari produk-produk yang sangat memuaskan dan kemudian harus kita beli agar tetap trendi.

Ini seringkali kita jumpai pada kendaraan. Rasanya baru kemarin mobil kita beli, tetapi dengan cepat produsen menggantinya dengan desain yang lebih baru.

Kebaruan ini kemudian secara otomatis membuat kendaraan kita yang masih bagus pun jadi tampak kuno. Akhirnya, kita merasa perlu untuk membeli desain baru tersebut, walaupun tidak ada yang keliru sebenarnya dengan kendaraan kita dari sisi performance-nya.

14. Kebahagiaan adalah menyinkronkan delusi pribadi mengenai makna dengan delusi kolektif yang dominan.

Pernahkah membayangkan jika hanya Anda sendiri yang percaya surga? Sementara kebanyakan orang tidak mempercayainya. Apakah Anda akan bahagia pada kondisi sepeeti itu?

15. Akar penderitaan sejati adalah pengejaran tiada akhir dan tanpa arti terhadap perasaan-perasaan sementara, yang menyebabkan kita terus menerus tegang, gelisah, dan tidak puas.

Beberapa waktu yang lalu secara tidak sengaja saya menonton televisi. Kala itu, seorang koki berkelana untuk mencoba berbagai masakan dari seluruh dunia. Satu ketika, sampailah dia di wihara para Biksu di Korea.

Oleh para Biksu, diberikanlah seragam yang kemudian harus dipakai oleh Sang Koki. Selepas memakai, koki itu pun keluar dari kamar. Tak lama, dia pun kembali berjumpa dengan Biksu yang memberikan seragam itu.

“Apakah Anda nyaman memakainnya?” Tanya Sang Biksu.

“Ya, saya nyaman memakainya.” Jawab Sang Koki.

“Sekali lagi saya tanyakan, apakah Anda nyaman memakainnya?” Ujar Sang Biksu lagi. “Saya menanyakan lagi untuk memastikan bahwa Anda nyaman. Sebab, menurut kepercayaan kami, jika Anda nyaman, maka semesta pun akan terasa nyaman. Namun, jika tidak, maka dunia pun menjadi tidak nyaman.”

Dari ilustrasi tersebut, Harari benar bahwa penderitaan terjadi karena berbagai pengejaran tanpa henti terhadap perasaan-perasaan sementara.

16. Tiga metode yang akan menggantikan seleksi alam oleh AI adalah rekayasa biologis, cyborg, dan anorganik.

Kita sudah mengenal kloning. Saat ini kita juga telah menjadi cyborg yang tidak bisa lepas dari gawai. Kemudian kita juga mengetahui adanya virus komputer yang bukan organik, tetapi bisa tumbuh dan berkembang biak. Apakah manusia akan selamat menghadapi gelombang seleksi alam baru tersebut?

17. Tahap sejarah berikutnya bukan hanya teknologi dan organisasi, tetapi juga faktor mendasar manusia yaitu identitas dan kesadaran manusia.

Saat ini kita menghadapi berbagai persoalan identitas, seperti siapa sebenarnya sosok pribumi di Indonesia? Seringkali, persoalan identitas juga menjadi bahan dan modal yang dipergunakan, misalnya saat kontestasi pemilu.

Nah, agar isu identitas berhasil guna, maka kesadaran manusia diubah. Kemudian kita memasuki masa pascakebenaran, ketika berita bohon marak dan mempengaruhi kesadaran manusia; mengaburkan mana fakta-realita dan imajinasi-karangan semata.

18. Pertanyaan terbesar manusia kini dan masa datang adalah kita ingin menjadi apa? Kemudian pertanyaan yang lebih membingungkan lagi adalah kita ingin menginginkan apa?

Setelah berbagai tahap perkembangan manusia, maka seperti apa nantinya sosok sapien atau manusia tersebut? Tak ada seorang pun yang saat ini mampu menjawabnya.

Namun, sebelum kita menentukan akan menjadi seperti apa, maka kiranya penting juga untuk menelisik, sebenarnya apa hal yang paling kita inginkan?

2 Responses

  1. Kenapa harus dilarang baca buku ini, Mas? Aku pribadi sih kalau bisa aku sebar-sebarkan ke banyak orang di sekelilingku biar mereka mengalami disonansi kognitif dan jadi banyak belajar. Hahaha…

    Btw, aku sudah baca bukunya, tapi aku lupa dengan sebagian besar isinya. Itu karena aku tidak membuat reading journal-nya. Ehm… Apa aku harus baca ulang ya?

    1. Bukan melarang, sekadar memberikan peringatan bagi yang tidak kuat iman ahaha.

      Seringkali juga gitu, aku suka lupa isi sebagian besar buku yang kubaca, makanya ini poin-poin terus dikembang-kembangkan sendiri.

      Thanks for your comment Kim!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to Top
%d bloggers like this: