Pelatihan: Komunikasi Risiko Bencana

Dari tanggal 24 sampai 28 Juni, TS, seorang teman kami melakukan pelatihan Komunikasi Risiko Bencana (Disaster Risk Communication) yang diselenggarakan di Bangkok, Thailand. Atas izin TS, berikut ini catatan darinya:

TS (baju gelap) bersama kawan-kawan melakukan aktivitas dalam pelatihan.

Pelatihan Komunikasi Risiko Bencana diselenggarakan oleh Asia Disaster Preparedness Centre (ADPC), Bangkok dan diikuti oleh peserta dari Indonesia, Thailand, Bhutan, Ethiopia, dan Swaziland. Peserta berasal dari berbagai unsur, seperti pemerintah, NGO, dan akademisi.

Beberapa poin yang disampaikan dalam pelatihan tersebut di antaranya adalah :

  1. Definisi komunikasi risiko adalah proses pertukaran informasi aktual saran ataupun opini antara ahli dan masyarakat yang berhadapan dengan risiko bencana.
  2. Arti penting komunikasi risiko adalah untuk dapat mendukung proses pencegahan dan mitigasi bencana, membangun kesiapsiagaan, diseminasi informasi saat bencana maupun menjaga proses recovery, mendukung pengambilan kebijakan yang efektif, dan meningkatkan partisipasi masyarakat dalam pengurangan risiko bencana.
  3. Prinsip-prinsip komunikasi risiko yang baik adalah : gunakanlah nama atau terminologi secara konsisten, hindari penggunaan akronim dan jargon, tentukan kanal media komunikasi apa yang akan dipakai dan pastikan itu dapat menyampaikan seluruh pesan kita, gunakan analogi yang familiar sesuai dengan target audiens kita, pastikan tidak ada yang terlewatkan, pahami norma atau persepsi publik yang ada, bangun kepercayaan secara resiprokal.
  4. Komunikasi risiko dapat berbeda bergantung pada fase bencana. Sebelum bencana komunikasi risiko menitikberatkan pada peningkatan kesadaran masyarakat terhadap risiko, memandu perilaku masyarakat, dan mengingatkan masyarakat akan bahaya. Saat kondisi darurat komunikasi risiko menitikberatkan pada informasi untuk menenangkan masyarakat. Pastikan masyarakat mendapat informasi yang benar dan mereka tidak sendirian menghadapi bencana. Komunikasi risiko pascabencana menitikberatkan pada pembangunan yang lebih baik. Pastikan ada komunikasi dua arah sehingga program rehabilitasi dan rekonstruksi benar-benar sesuai dengan kebutuhan mereka.
  5. Terdapat beberapa aspek penting yang harus diperhatikan ketika kita sedang merencanakan komunikasi risiko, yaitu: siapa yang mengirim pesan, pesan apa saja yang akan kita sampaikan, media atau kanal apa yang akan kita gunakan untuk mengirim pesan, siapa sasaran kita, dan bagaimana respon baliknya.
  6. Komunikasi risiko dapat lebih efektif jika isu yang diangkat mengusung ide baru, isu yang penting dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat, isu harus berguna dan dapat diterapkan oleh masyarakat, yang terakhir isu harus relevan dengan konteks sosial masyarakat.
  7. Strategi komunikasi risiko harus menjadi bagian integral dalam setiap program pengurangan risiko bencana, karena sangat penting untuk memandu dan mengarahkan perilaku masyarakat menjadi lebih proaktif terhadap pengurangan risiko bencana.

Demikian catatan dari pelatihan Komunikasi Risiko Bencana, semoga bermanfaat. Terima kasih TS sudah mengizinkan catatannya tampil di blog ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to Top
%d bloggers like this: