Refleksi: Merasakan Nyepi

Saya baca kisah berikut ini beberapa waktu lalu di Harian Kompas. Trias Kuncahyono, Sang Penulis, juga mengutip dari sebuah buku. Kisah itu kurang lebih sebagai berikut:

Tersebutlah seorang petani yang sangat taat dan selalu berdoa. Satu persoalan muncul karena setiap kali berdoa petani tersebut harus membacanya dari Buku Doa.

Suatu hari, dalam sebuah perjalanan buku itu pun tertinggal. Manakala tiba waktunya berdoa, maka petani itu pun kebingungan. Bagaimana caraku berdoa tanpa buku doa? Tanya petani itu kepada dirinya sendiri.

Kemudian dia pun teringat bahwa Tuhan itu Maha Tahu sekaligus Maha Mendengar. Berangkat dari kesadaran ini, maka kebingungan petani itu pun perlahan hilang.

“Tuhan, karena Engkau Maha Tahu, maka aku percaya Kau sudah tahu apa isi doaku. Tuhan, Kau juga Maha Mendengar, maka aku percaya Kau mampu mendengar dan menerjemahkan semua perkataanku”.

Berangkat dari kepercayaan itu, maka meskipun tak seindah lantunan doa dalam Buku Doa, petani itu memulai doanya. “Tuhan, aku ingin A… B… C… dan aku percaya Engkau sendiri yang akan mengisi dan memenuhi keinginanku itu.


Dari kisah tersebut, seharusnya kita sadar, bahwa doa tak perlu dengan berdeklamasi layaknya orang yang sedang membaca puisi. Sebab itu sama saja menghina Tuhan yang Maha Tahu dan Mendengar.

Selain itu, karena Tuhan Maha Tahu, maka pastilah Dia tahu apa yang terbersit dalam hati sebagai pengharapan dari umatNya.

Bahkan, sebagian orang percaya, bahwa Tuhan begitu dekat dengan manusia. Lebih jauh lagi, ada pula manusia yang mempercayai bahwa setiap insan adalah percikan cahaya Tuhan. Sebab itu, manusia menjadi utusan bagi sifat-sifat ketuhanan. Bahkan, saking dekatnya dengan Tuhan, ada mereka yang mampu bertukar tangkap dengan lepas dan mampu bercakap-cakap dengan Tuhan.

Sayangnya, tak semua manusia mampu melakukannya, karena cahaya ketuhanan yang mestinya gilang gemilang tertutup kabut kemanusiaan.

Akhirnya, sifat kemanusiaanlah yang menonjol dan menutupi ketuhanan. Kemudian manusia pun kebingungan mencari keberadaan Tuhan. Bahkan, dalam rangka pencarian itu ada yang tak malu berteriak-teriak, hingga mengancam.

Padahal, seandainya manusia bersedia meneliti sanubarinya dan mendengarkan suara hati nuraninya, bisa jadi dia akan menemukan Tuhannya.

Dalam rangka pencarian Tuhan di relung-relung batin itu, manusia melakukan sembahyang, tapa brata, semedhi, atau meditasi. Dengan cara itulah, maka beragam kesibukan duniawi dapat dikesampingkan sejenak. Pada saat yang sama, berbagai sifat kemanusiaan pun luntur, hingga cahaya ketuhanan kembali bersinar terang dan mewujud dalam perilaku.

Sesungguhnya suara nurani hanya dapat didengar dan cahaya ketuhanan hanya dapat dilihat manakala seseorang menyepi, mengheningkan cipta, rasa, dan karsa agar tercipta keheningan. Dalam kondisi itulah, maka seseorang baru bisa merasakan Nyepi, sekaligus merasakan Tuhan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to Top
%d bloggers like this: