Review: Pelajaran dari Bohemian Rhapsody

“Aku memenuhi takdirku, memberikan apa yang orang-orang inginkan.” Freddie Mercury, Bohemian Rhapsody.

Kutipan dari Freddie tersebut terus terngiang setelah saya selesai menonton filmnya.

Seperti biasa, saya terlambat menonton film luar biasa tersebut.

Namun, dengan begitu justru saya bisa lebih menikmati dan merekam semua pelajaran tanpa ‘terganggu’ oleh berbagai ulasan yang biasanya terbit setelah rilisnya sebuah film baru.

“Good thoughts, good words, good deeds.”

Berpikiran baik, berkata baik, dan berperilaku baik adalah pelajaran yang Freddie dapatkan dari Bapaknya.

Namun, apakah dia selalu melakukan hal itu?

Sepertinya tidak, bahkan dia pun seringkali harus repot karena beberapa keputusannya.

Barangkali kesalahan yang paling ‘berat’ adalah manakala dia memutuskan untuk bersolo dan hengkang sebentar dari Queen.

Alih-alih mendapatkan ketenangan, Freddie justru dicekam gelisah. Hanya bersama manajer dan juga (mungkin) kekasihnya Paul Prenter, Freddie membusuk dan kehilangan keluarganya.

Saat itu, dia mengibaratkan dirinya laksana buah yang sudah busuk dan dihinggapi lalat-lalat. Ketika tak ada lagi yang tersisa, lalat itu pun kemudian pergi.

Beruntung Mary Austin, cinta sejati dan sepanjang hidup Freddie datang serta menyadarkan.

Hubungan pun kembali dijalin antara Freddie dengan keluarganya, yaitu orang tua, adik, dan juga anggota Queen yang lain.

Beberapa hal saya kira bisa menjadi pelajaran untuk kita.

  1. Totalitas

Freddie seperti kebanyakan orang yang mengetahui waktunya di dunia tak lama karena ajal yang akan menjemputnya, maka dia menunjukkan totalitas yang luar biasa.

Steve Jobs, Curt Cobain, Marthin Luther King Jr, dan Jimmy Hendrix mungkin adalah beberapa nama yang pergi dari dunia dengan inspirasi besar sebagai peninggalannya.

Mereka itu seolah tak punya waktu untuk bersantai dan menunjukkan dedikasinya yang luar biasa pada berbagai hal yang menjadi pemantik gairah (passion) masing-masing.

Dalam istilah Freddie, dia hanya menjalankan takdirnya untuk memberikan apa yang diinginkan orang-orang darinya.

  1. Keluarga dan Teman

Freddie, sudah disebutkan di atas, kehilangan teman dan keluarga. Seperti pengakuannya pada Jim Hutton–kekasih yang menemani hingga meninggalnya–, Freddie mengaku bahwa dirinya tersesat.

Dia menyadari dan harus menebus kesalahan arah itu lama kemudian setelah membusuk dan bercumbu dengan Aids. Ini berarti semuanya seakan-akan sudah terlambat.

Namun, kesadaran itu justru memacu Freddie lagi ke penampilan terbaiknya dan totalitas (lihat poin pertama).

  1. Apa menurut Anda pelajaran dan hal paling menarik lainnya dari film ini?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to Top
%d bloggers like this: