Penanggulangan Bencana: Pesan Loretta Girardet untuk Pengurangan Risiko Bencana

Loretta Hieber Girardet adalah Kepala Kantor Lembaga PBB untuk Pengurangan Risiko Bencana (UNISDR) untuk Kawasan Asia Pasifik. Pada saat Peringatan Bulan Pengurangan Risiko Bencana (PRB) Tahun 2018 yang dilaksanakan di Kota Medan, Provinsi Sumatera Utara, Loretta menjadi salah satu pembicara kunci. Dalam sambutannya, Loretta menyinggung berbagai hal dan berikut ini beberapa inti pesan darinya.

Pertama, Loretta menyoroti semakin meningkatnya kejadian bencana karena pengaruh perubahan iklim. Sementara itu, pertumbuhan penduduk dunia terus meningkat dan semakin tinggi laju urbanisasi. Sebagai akibatnya, semakin banyak kelompok rentan, seperti anak, lansia, dan wanita yang terancam bencana. 

Kedua, Loretta menyampaikan bahwa bencana bukan hanya persoalan kemanusiaan. Namun, bencana juga mengurangi kemampuan suatu negara untuk mencapai target pembangunannya. Sebagai contoh, data UNISDR menunjukkan bahwa selama 20 tahun terakhir kerugian ekonomi akibat bencana mencapai 3 trilyun dollar. Dengan jumlah tersebut, maka tidak ada satu pun negara di dunia yang mampu membiayai pemulihan pasca bencana sekaligus membangun kembali kondisi sosial ekonominya. 

Dalam kondisi demikian, maka upaya PRB menjadi investasi yang efektif secara pembiayaan (cost effective) dibandingkan respon kemanusiaan pada saat tanggap darurat dan pemulihan. Melalui upaya PRB, maka kerugian ekonomi dan dampak sosial yang mungkin timbul karena bencana dapat ditekan secara nyata. Contoh dari upaya ini adalah pemberlakuan kaidah bangunan tahan gempa (building code) dan investasi pada sistem peringatan dini. 

Loretta menyampaikan bagian mengenai PRB tersebut sebagai pesan ketiganya. Menurut Loretta, PRB seharusnya menjadi upaya lokal karena di tingkat nasional umumnya sudah ada rencana penanggulangan bencana nasional. Tujuan dari upaya lokal ini untuk memberikan pengertian yang lebih baik mengenai risiko bencana yang harus dihadapi. Selain itu, perlu juga dilakukan identifikasi kelompok rentan. Hal ini perlu dilakukan karena dampak bencana berbeda-beda untuk tiap orang, sehingga kebutuhannya pun akan berbeda. 

Adapun berkaitan dengan rencana penanggulangan bencana (RPB), Loretta mengingatkan perlunya melakukan uji terhadap rencana tersebut. Contoh kegiatan yang dapat dilakukan adalah dengan menyelenggarakan simulasi dan identifikasi berbagai hambatan bagi kelompok tertentu manakala proses evakuasi harus dilakukan. 

Hal yang tidak kalah penting adalah melakukan investasi untuk PRB dan pelaksanaan RPB. Alokasi anggaran untuk implementasi RPB menjadi investasi yang tepat bagi pemerintah di tingkat pusat atau daerah, sebab 1 dollar untuk upaya PRB akan menghemat 7 dollar saat upaya tanggap darurat (UNDP, 2012). 

Keuntungan yang sama juga berlaku untuk dunia usaha. Lembaga usaha perlu memahami bahwa investasi dalam PRB menjadi langkah yang tepat karena dengan memerhatikan risiko, maka investasi yang tadinya menjadi biaya akan berubah menjadi keuntungan di masa yang akan datang. 

Berkaitan dengan masifnya pembangunan infrastruktur, maka pembangunan berbagai konstruksi tersebut bisa menjadi pintu masuk bagi PRB. Dengan melakukan pembangunan yang memerhatikan risiko bencana, maka diharapkan akan terbangun gedung yang tahan bencana baik saat ini, maupun di masa yang akan datang. 

Pesan Loretta berikutnya adalah menyangkut pendidikan. Dengan memasukkan upaya PRB dalam dunia pendidikan, maka peningkatan kesadaran masyarakat sejak dini dapat dilakukan melalui promosi berbagai hal yang harus dilakukan manakala bencana terjadi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to Top
%d bloggers like this: