Refleksi: Muslim Perlu Meneladani Mo Salah

Saya tidak pernah tahu siapa itu Mo Salah sampai hari Sabtu (26/05)  kemarin saat Rama Sindhu menuliskan tentangnya di harian Kompas.

Kemudian malamnya saya turut sedih saat Salah cidera dan Liverpool kalah dari Madrid di Final Liga Champion.

Saya yang sudah lama tidak pernah mengikuti informasi sepak bola sampai meluangkan waktu di tengah sahur hanya untuk menonton aksi Salah yang ternyata hanya sebentar.

Sebelumnya, nama Salah ini sering membuat bingung saat berseliweran di lini masa Twitter atau dinding Facebook, misalnya ‘Salah mencetak gol.’ Batin saya, kok ‘salah’ bisa mencetak gol?

Rama Sindhu menuliskan bahwa Islam-Salah is great, frasa itu menunjukkan pemujaan kepada Islam dan Salah sekaligus. Prestasinya di dunia bola menjadikan Salah seorang pahlawan tidak hanya di negerinya, Mesir, tetapi juga di seluruh Arab.

Salah dikenal sebagai seorang muslim yang taat menjalankan perintah agamanya.

Dalam sepak bola, dia pun dikenal sangat disiplin dan memiliki kemauan keras. Pas baca bagian ini, mungkin contohnya adalah dia tidak berlama-lama tidur siang setelah shalat di siang hari dan segera kembali bekerja.

Kehadiran, prestasi, dan penampilan yang apa adanya menjadikan Salah sebagai satu teladan yang baik kepada anak-anak Muslim di seluruh dunia. Mereka tetap bisa berprestasi tanpa menutupi asal-usul dan agamanya.

Bagi pendukung Liverpool, ada lagu untuk Salah, “Jika dia membuat gol lagi, aku akan menjadi Muslim. Dia duduk di masjid. Di sana pula aku ingin berada.”

Salah dengan begitu telah mengubah ketakutan pada Islam menjadi keakraban yang kemudian masuk ke stadion dan menyambutnya dengan suka cita dan gembira.

Menurut Rama Sindhu, fenomena Salah telah menyebarkan warta tentang Islam yang terbuka, membanggakan, tawadu’, mau berbagi, dan dicinta.

Saya kira Islam membutuhkan lebih banyak Muslim (pemeluk Islam) yang seperti Salah.

Islam perlu lebih banyak Salah dan lebih sedikit penista agama seperti teroris yang menggunakan Islam sebagai kendaraan untuk menebarkan teror.

Islam juga perlu lebih banyak Salah dan lebih sedikit penista agama seperti politikus yang memakai Islam sebagai kedok untuk meraih kekuasaan.

Demikian, jangan lupa nanti kalau buka puasa tunggu kumandang Adzan Maghrib dulu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to Top
%d bloggers like this: