Refleksi: Hewan Kecil dengan Pelajaran Besar

Ada beberapa hewan kecil yang disebutkan dalam kitab suci umat Islam, Al Quran.

Pertama adalah lebah yang dalam Quran menjadi Surah An-Nahl. Dari lebah kita bisa mengambil beberapa pelajaran. Lebah akan menyasar hanya saripati bunga dan tidak mengermus keseluruhan bagian bunga. Ini mengandung arti manusia perlu mengambil apa yang menjadi haknya, bukan merusak sumber makanannya. Lebih jauh, manusia perlu memakan yang halal baginya dan bukan asal comot tanpa mempertimbangkan faktor halal dan haram.

Setelah memeroleh saripati, kemudian lebah mengubah saripati tersebut menjadi madu. Madu ini pun sangat bermanfaat bagi banyak orang, mulai dari bayi hingga lansia. Ini memberikan pelajaran kepada kita, bahwa hendaknya setiap orang memberikan manfaat yang sebesar-besarnya kepada orang lain.

Ingat, MANFAAT ya, bukan membawa petaka atau kabar buruk atau kebencian atau kematian bagi liyan. Nabi Muhammad (damai selalu untuk beliau), mengatakan bahwa orang yang paling baik adalah mereka yang paling bermanfaat untuk orang lain.

Kedua adalah semut yang dalam Quran menjadi Surah An-Naml. Dari semut manusia bisa belajar, bahwa saat bertemu dengan sesama manusia, maka janganlah menghindar. Hendaknya setiap manusia dan manusia yang lain saling berbalas senyum, sapa, dan kabar.

Namun, bagaimana kemudian kalau terjadi perbedaan di antara sesama manusia? Apa yang harus dilakukan?

Selain itu, seekor semut juga mengajarkan bahwa sebesar apa pun makanan yang ditemukan tidak pernah dia menghabiskan makanan itu sendiri. Ini mengandung pelajaran bahwa hendaknya seorang manusia tidak boleh tamak dan egois memakan-makanan sendiri dan pelit berbagi kepada manusia lainnya.

Gambaran itu juga menunjukkan bahwa setiap kita memerlukan orang lain. Manusia yang satu membutuhkan bantuan manusia yang lain, sehingga sangat penting untuk saling tolong menolong tanpa melihat berbagai perbedaan yang dimiliki.

Ketiga adalah laba-laba yang dalam Quran menjadi Al-Ankabuut. Hewan ini memberikan beberapa tamsil, terutama dari sangkarnya. Rumah laba-laba itu begitu rapuh dan menjadi perlambang kerapuhan seseorang yang tidak beriman dan mudah dirusak oleh berbagai ganguan.

Namun, sarang laba-laba yang rapuh itu juga mengandung pelajaran, bahwa setiap kita diuji dengan berbagai hal yang memerlukan kesabaran dan kegigihan dalam menghadapinya. Laba-laba tak kenal lelah menenun sarangnya, meskipun akan rusak kembali.

Winston Churcill, panglima Inggris Raya pada Perang Dunia II justru sosok yang mampu mengikuti kegigihan dan kesabaran laba-laba tersebut. Menurut Churcill, kesuksesan diraih dengan melewati kegagalan demi kegagalan tanpa pernah kehilangan antusiasme.

Hewan terakhir adalah nyamuk yang disebut di Surah Al-Baqarah. Kendati kecil, tapi nyamuk memberikan pelajaran kepada kita akan keagungan dan kebesaran Tuhan.

Kurang lebih demikian catatan saya saat mendengarkan khutbah siang tadi daripada mengantuk. Mohon maaf jika kurang lengkap karena tetap saja kantuk kadang menghampiri.

Semoga bermanfaat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to Top
%d bloggers like this: