Refleksi: Belajar Kebahagiaan dari Dalai Lama Bagian II

Apa sesungguhnya kehebatan Dalai Lama yang membuatnya berbeda dengan orang lain?

Menurut Howard C Cutler, penulis buku yang bersama Dalai Lama menyusun ‘The Art of Happiness’, Dalai Lama memiliki kemampuan khusus.

Kemampuan tersebut adalah untuk membuat orang lain nyaman dan dia mampu membangun hubungan yang sederhana dan langsung dengan orang lain.

Selain itu, Dalai Lama pintar, tetapi tidak curang. Menyampaikan kebaikan tanpa dibumbui drama yang menguras emosi. Memiliki rasa humor tanpa kehilangan kesan serius. Terakhir, Dalai Lama menginspirasi orang lain tanpa menimbulkan kekaguman yang berlebihan.

Semua itu terjadi karena Dalai Lama belajar untuk hidup secara cukup dalam upaya mencapai ketenteraman hidup.

Misalnya dalam satu sesi diskusi, Cutler yang juga seorang psikologis menanyakan satu persoalan kepada Dalai Lama.

Sebagai ilustrasi, Cutler mengisahkan seorang wanita yang punya kebiasaan merusak dirinya sendiri, meskipun berdampak sangat negatif. Dia kemudian bertanya dan meminta penjelasan atas kebiasaan buruk tersebut serta meminta saran kepada Dalai Lama.

Namun, ternyata Dalai Lama hanya menjawab, “Tidak tahu….”

Kemudian Sang Lama menjelaskan, “Kadang sangat sulit menjelaskan kenapa seseorang melakukan apa yang dia lakukan. Tidak pernah ada penjelasan yang sederhana atas satu perbuatan karena pikiran manusia sangat kompleks.

Banyak faktor yang berperan pada setiap situasi, sehingga Anda mungkin tak selalu punya penjelasan secara penuh atas apa yang terjadi.

Analisis yang berasal dari dunia barat cenderung sangat rasional dan ada batasan karena satu atau dua pendapat atau teori yang diterima banyak orang begitu saja. Akibatnya analisis tersebut cenderung kaku dan kurang kritis.

Misalnya, pikiran manusia adalah hasil dari reaksi kimia, tetapi mungkinkah dibalik ketika pikiran memicu reaksi kimia di otak?

Pandangan yang berdasarkan teori dan parameter dapat membatasi kemampuan kita untuk menghadapi kenyataan. Misalnya, setiap hal dapat dijelaskan, tetapi ketika ada satu fenomena yang tidak bisa dijelaskan kemudian akan menyebabkan kontradiksi hingga akhirnya menyebabkan frustasi.

Kemudian Dalai Lama menjelaskan mengenai konsep cetakan. Ini adalah kenangan sangat kuat yang melekat pada manusia karena satu peristiwa yang terjadi di masa lalu. Cetakan tersebut kemudian memengaruhi perilaku seseorang, bahkan secara tidak sadar.

Satu perilaku tertentu terjadi secara tidak sadar, misalnya karena takut. Ketidaksadaran inilah yang sering disalahkan jika ada perilaku yang menyimpang.

Hal itu, kata Dalai Lama seperti mencari barang yang hilang di satu ruangan, padahal bisa jadi barang itu berada di ruang lain. Namun, kamu ngeyel dan menganggap barang itu masih berada di ruang tertentu itu.

Jadi kamu terus dan terus mencari di ruang itu, tetapi tidak juga kamu temukan. Namun, kamu terus berasumsi bahwa barang itu masih tersembunyi entah di mana dalam ruangan itu.

Bisa jadi, seperti itulah kita, saat mencari kebahagiaan di ruangan yang keliru, tetapi tetap keras kepala mencarinya dan tidak ketemu….

Jadi di ruang manakah kebahagiaan itu berada?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to Top
%d bloggers like this: