Penanggulangan Bencana: Potret Longsor di Caturwulan Pertama 2018

Pada caturwulan pertama tahun 2018 antara bulan Januari hingga April, bencana hidrometeorologi tetap mendominasi. Data yang dihimpun oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana menunjukkan bahwa puting beliung dengan 406 kali menjadi jenis bencana paling sering. Selanjutnya adalah banjir (352 kali) dan tanah longsor (260) kali.

Kendati tanah longsor menempati urutan ke tiga paling sering terjadi, tetapi bencana ini paling banyak menimbulkan korban jiwa dengan 60 orang meninggal dunia.

Kejadian bencana per bulan
Kejadian Bencana Per Bulan di Caturwulan Pertama 2018 (Ratih Nurmasari)

Ditilik dari periode kejadiannya, maka bencana tanah longsor terjadi paling banyak di bulan Februari dengan 93 kali kejadian. Selanjutnya, bencana-bencana yang terjadi di bulan Februari juga menyebabkan jumlah korban meninggal dan hilang yang terbanyak.

Satu contoh kejadian bencana longsor adalah di Desa Pasir Panjang, Kecamatan Salem, Kabupaten Brebes yang menyebabkan 11 orang meninggal dunia dan tujuh orang lainnya hilang.

Grafik Kejadian Bencana per Provinsi
Grafik Kejadian Bencana per Provinsi (Ratih Nurmasari)

Secara spasial, provinsi yang paling banyak mengalami bencana longsor adalah Provinsi Jawa Tengah dengan 102 kali kejadian, disusul oleh Jawa Timur (60 kali), dan Jawa Barat (51 kali). Secara keseluruhan, 21 provinsi di Indonesia mengalami bencana tanah longsor pada caturwulan pertama tahun 2018.

Tanah longsor begitu mematikan karena beberapa faktor. Banyaknya penduduk yang tinggal di daerah rawan longsor karena berkaitan dengan mata pencaharian atau akses kepada lahannya. Kemudian seringkali longsor datang tiba-tiba tanpa peringatan dan terkadang pada saat malam hari. Selain itu, belum semua daerah memiliki dan memasang sistem peringatan dini di setiap daerah rawan longsor.

Hal yang tidak kalah penting adalah kalah cepatnya upaya pengurangan risiko bencana dengan faktor penyebab longsor, misalnya penebangan hutan tanpa memerhatikan kelestarian tanah dan lereng, sehingga perbukitan gundul, air tidak bisa meresap, dan lereng terjal mudah longsor.

Bencana tanah longsor dapat ditanggulangi dengan cara melakukan upaya mitigasi dan kesiapsiagaan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan ancaman longsor yang ada di sekitar mereka. Kemudian melakukan pendidikan kepada masyarakat agar pengetahuannya meningkat. Setelah itu dengan melibatkan mereka dalam upaya pengurangan risiko bencana tanah longsor.

Berbagai upaya untuk mengurangi risiko bencana tanah longsor di antaranya adalah dengan melakukan reboisasi, penghijauan, konservasi tanah dan air, sosialisasi, pemasangan sistem peringatan dini.

Sebagai tambahan, maka perlu perhatian khusus pada rencana tata ruang yang memerhatikan risiko bencana longsor dan emperkuat mitigasi baik itu struktural (dengan bangunan) atau non-struktural (dengan pengetahuan dan keterampilan) untuk menghadapi longsor.

Semua itu dilakukan untuk menciptakan ketangguhan masyarakat menghadapi bencana.

Berikut ini Tujuh Sub-Sistem Peringatan Dini Longsor yang terdiri dari:
a. Penilaian risiko (survei geologi, kelembagaan, sosial, budaya, ekonomi, dan lainnya).
b. Pembentukan tim siaga bencana di tingkat desa/dusun.
c. Pembuatan peta kerentanan longsor dan jalur evakuasi oleh tim siaga bencana desa/dusun.
d. Penyusunan prosedur tetap (protap) evakuasi. e. Instalasi alat deteksi dini (EWS) dan training operasi dan pemeliharaan aat EWS bersama masyarakat.
f. Pelaksanaan geladi evakuasi oleh masyarakat.
g. Membangun komitmen pemerintah daerah dan masyarakat dalam pengoperasian dan pemeliharaan sistem.

Beberapa langkah dapat dilakukan secara mandiri oleh masyarakat sebagai antisipasi longsor, yaitu dengan melakukan beberapa hal di antaranya:
a. Sebelum kejadian perlu mengenali tanda-tanda akan longsor seperti kondisi hujan terus menerus dengan intensitas sedang s/d tinggi, terdapat retakan, terdengar suara bergerak, kenampakan tanaman/pohon yang miring, evakuasi penduduk yang terancam longsor, hubungi pihak berwenang yang menangani longsor.
b. Pada saat kejadian, maka perlu menghubungi pihak yang berwenang, evakuasi korban dengan mereka yang memiliki keahlian.
c. Setelah bencana, perlu diamankan lokasi kejadian dari adanya penduduk yang masih tinggal di daerah agar terhindar dari longsor susulan, relokasi penduduk ke tempat aman, penelitian sebab-sebab longsor dan gunakan hasil penelitian untuk antisipasi kejadian selanjutnya, pemulihan daerah longsor.

Berikut ini disampaikan juga beberapa rekomendasi Pengurangan Risiko Bencana Longsor yang meliputi:
a. Implementasi penataan ruang dan pemanfaatan ruang untuk mengurangi risiko bencana longsor.
b. Pengarusutamaan risiko bencana dalam pembangunan nasional.
c. Peningkatan budaya sadar bencana baik struktural maupun non-struktural.
d. Peningkatan upaya peringatan dini longsor, sosialisasi, penegakan hukum.
e. Pemilihan lokasi permukiman yang aman dengan mempertimbangan analisis risiko bencana dan tata ruang detail.
f. Penanaman pohon yang memiliki perakaran dalam dan mampu menahan longsor untuk buffer zone (ruang antara daerah rawan longsor tinggi dan zona budidaya) secara rapat sehingga membentuk sabuk hijau. Tanaman lokal yang terbukti tumbuh dengan baik di suatu daerah seperti Puspa, Rasamala, Huru, Surian, Bambu Manggong, dan Kayu Baros.
g. Lahan dengan kelerengan di atas 40% dipertahankan sebagai kawasan lindung berupa ekosistem hutan alam dengan kerapatan pohon yang tinggi (1 hektar untuk 400 pohon).
h. Perlu dibangung sistem peringatan dini longsor.

Sebaga catatan tambahan, sistem peringatan dini longsor yang baik tidak hanya pada peralatan yang berdiri sendiri tetapi pada akhirnya sistem tersebut dapat saling terkait sebagai suatu sistem peringatan dini yang efektif. Komunitas sangat penting sebagai bagian inti dari sistem tersebut karena merekalah yang akan mendapatkan ancaman.

“Komunitas harus menjadi bagian dari sistem dan harus paham bagaimana sistem ini bekerja.” Demikian dikatakan Kepala BNPB, Willem Rampangilei pada saat menerima ISO untuk sistem peringatan dini longsor buatan BNPB dan UGM.

Sumber:
Data Bencana diolah oleh Ratih Nurmasari (Statistisi, BNPB)
Narasi mengenai Longsor oleh Suprapto, Majalah Gema BNPB, April 2018.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to Top
%d bloggers like this: