Review: Factfulness

Setiap hari kita mendengar, membaca, dan melihat berita buruk dari berbagai belahan dunia. Benarkah dunia begitu kacau, sehingga seakan-akan tidak ada berita baik dan perkembangan kehidupan manusia?

Jangan-jangan, selama ini kita salah mengira….

Jika Anda penggemar Ted, maka mungkin sudah mengenal siapa itu Hans Rosling. Namun, jika belum, maka Anda perlu untuk melihat paparannya.

Rosling berhasil mengubah paparan berisi data statistik menjadi satu pertunjukan yang megah. Data yang biasanya membosankan mampu dikemas sedemikian menarik dan seru.

Rosling sudah meninggal beberapa waktu yang lalu. Namun, dia telah berhasil menulis bersama anak-anaknya yang juga ahli dan kemudian mewariskan sebuah buku untuk kita berjudul Factfullness.

The Guardian memuat Opini Rosling dan mengungkap sekilas isi buku tersebut untuk kita. Berikut ini terjemahan singkatnya dengan perubahan.

Menurut Rosling, sebetulnya kondisi dunia tidak seburuk yang kita kira.

Kita hanya perlu untuk melatih diri dan menempatkan berita yang kita baca, lihat, dan dengar ke dalam perspektif baru, yaitu factfullness agar ada perbaikan dari sudut pandang kita.

Menurut Rosling, pandangan kita pada kondisi dunia yang buruk terjadi karena ‘overdramatic overview’ atau pandangan terhadap dunia yang terlalu dramatis.

Sebab terlalu dramatis, maka sering menyebabkan kita stres dan salah paham. Kita menganggap dunia begitu berantakan dan penuh persoalan.

Padahal, kebanyakan penduduk dunia berada di tengah atau berada di kelas menengah. Memang ada sebagian masyarakat yang masih tinggal dalam kemiskinan, tetapi anak-anak mereka bersekolah dan menerima vaksinasi.

Sebenarnya, kondisi dunia perlahan-lahan semakin meningkat.

Pendek kata, kendati tantangan umat manusia masih banyak, tetapi kita juga mengalami kemajuan luar biasa.

Pandangan yang terlalu dramatis itu terjadi karena mekanisme otak manusia. Otak kita adalah produk evolusi jutaan tahun yang terlatih untuk menggunakan insting demi bertahan hidup pada masa berburu dan meramu.

Mekanisme tersebut memicu kita untuk mengumpulkan makanan sebagai mekanisme pertahanan hidup. Kita juga mudah tertarik pada gosip dan cerita yang dramatis sebagai satu-satunya sumber informasi dan berita pada saat itu.

Insting dramatis tersebut tetap masih diperlukan agar hidup berjalan normal. Namun, perlu dikendalikan seberapa banyak dan sejauh mana drama yang sebaiknya kita konsumsi.

Berita di sekitar kita dan kemudian meluas dalam skala global karena kemajuan teknologi informasi dan komunikasi menyadarkan kita betapa banyak persoalan di dunia yang terjadi. Dengan mudah kita terima berbagai berita kelam dari penjuru dunia mengenai perang, bencana, punahnya keanekaragaman hayati, melelehnya es di kutub dan lainnya.

Namun, sadar atau tidak, jarang sekali kita terima berita baik. Proses perbaikan dunia dan berita positif terlalu lambat dan terpencar-pencar untuk mengubah wajah pemberitaan di media dari kegemaran menyampaikan berita buruk.

Sejatinya ada tiga proses yang menyebabkan kita lebih sering terpapar berita buruk:
1. Kesalahan mengingat masa lalu
2. Laporan terseleksi oleh reporter dan aktivis
3. Perasaan jika sesuatu buruk, maka bertentangan dengan moral untuk memberitakannya sebagai perbaikan atau ada proses perubahan ke arah yang lebih baik.

Sebagai contoh, orang-orang yang lebih tua akan selalu bilang bahwa keadaan saat ini tidak sama dengan zaman mereka dulu. Kesalahan mengingat ini kemudian masih ditambah dengan berita buruk yang tak kenal henti dikirimkan dari seluruh dunia.

Perbaikan, meskipun dramatis dan memengaruhi jutaan orang jarang yang berada di halaman muka surat kabar atau menjadi ulasan khusus sebuah media.

Kemerdekaan di berbagai sektor dan kemajuan teknologi juga menunjukkan kemajuan, tetapi justru ditangkap secara berbeda oleh para pendengar, pembaca, dan pemirsanya. Tak jarang, kemajuan yang terjadi justru dianggap sebagai gangguan bagi status quo (kondisi mapan).

Memang tidak semua hal baik-baik saja, kita tetap perlu memberikan perhatian. Namun, tidak adil juga jika kita mengabaikan proses dan perbaikan yang dialami.

Akibat kekeliruan pandangan tersebut dapat sangat merusak karena orang telah kehilangan harapan. Tidak ada perubahan juga berbahaya karena orang menjadi tidak percaya pada parameter-parameter perbaikan.

Jadi, bagaimana seharusnya kita melihat dunia?

Jawabannya adalah secara berimbang, yaitu kondisi buruk dan perbaikan sama-sama terjadi di berbagai belahan dunia.

Selain itu, hal yang perlu diingat adalah fokus media dan aktivis yang sangat bergantung pada drama untuk menarik perhatian.

Jika membaca atau mendengar berita buruk, bertanyalah dalam hati, ’Jika ada berita positif dan perbaikan, akankah saya mendengarnya?’

Factfullness berarti memahami sumber kedamaian pribadi. Aktivitas ini hendaknya dilakukan setiap hari.

Lakukan facfullness sebagai aktivitas harian kemudian buatlah keputusan yang lebih baik. Namun, perlu tetap waspada pada bahaya dan kemungkinan yang tak pasti. Selain itu, janganlah berfokus pada hal-hal yang buruk.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to Top
%d bloggers like this: