Kuliah: Tantangan untuk Penelitian Ekologi Politik

Memilih penelitian ekologi politik dan menerapkannya pada topik yang kompleks seperti perselisihan atas sumber daya alam memiliki tantangan dan peluangnya sendiri.

Tantangan pertama adalah berkaitan dengan skala, yaitu cakupan isu yang dibahas dalam penelitian.

Seorang peneliti ekologi politik harus mempertimbangkan faktor-faktor yang sangat luas seperti keuangan atau modal, pengetahuan, dan kekuasaan. Hal-hal ini terpisah jauh dari keseharian warga yang mengalami konflik atas sumber daya alam.

Di sisi lain, peneliti ekologi politik juga memilki komitmen untuk bekerja secara lokal dengan warga yang terdampak konflik tersebut. Para peneliti harus mampu memperhitungkan pendapat dan pengetahuan mereka terkait dengan konflik, serta mampu mengartikulasikan (menggambarkan) dengan tepat pengalaman-pengalaman yang dialami masyarakat lokal berkaitan dengan konflik yang terjadi.

Cara yang dapat ditempuh untuk menggabungkan dua skala tersebut adalah dengan menghindari skala pertama yang lebih luas sebagai hal yang abstrak dan sukar diteliti. Contonya adalah dengan sekadar menyebut kekuatan-kekuatan raksasa tersebut dengan istilah seperti kapitalis, globalisasi, atau modernisasi.

Yang perlu dilakukan justru menganalisis bagaimana satu pola yang khusus kerapkali terjadi di banyak tempat. Misalnya, bagaimana dan di mana beragam aktor yang bertikai saling bekerja sama, melakukan negosiasi, atau berkonflik mengenai satu isu sumber daya alam tertentu.

Disarankan kepada para peneliti ekologi politik agar tidak menempatkan skala global dan lokal pada posisi saling berhadapan. Namun, isu-isu tersebut agar dipandang sebagai sebuah kesinambungan dari global, nasional, hingga tingkat lokal.

Tantangan kedua dalam melakukan penelitian ekologi politik adalah menentukan pihak-pihak yang mendapat keuntungan dari satu peristiwa, seperti pada sebuah konflik atas sumber daya alam. Contoh pihak tersebut adalah, perusahaan internasional dan multinasional, pemerintah, lembaga penelitian, NGO, pejabat, keluarga, atau ekologi itu sendiri.

Peneliti yang berfokus pada satu atau lebih faktor tidak berarti salah atau benar. Namun, tindakan ini menentukan bagaimana analisis akan dilakukan di setiap tahap penelitian.

Sebagai contoh adalah manakala seorang peneliti menempatkan kesepakatan global yang menentukan kepemilikan atau industri satu sumber daya alam. Pada kondisi ini, maka di saat yang sama biasanya peneliti tersebut akan melihat penduduk lokal sebagai pihak yang perlu ditolong, terpinggirkan, dan tidak memiliki kekuatan saat berhadapan dengan kekuatan global tersebut.

Contoh yang lain adalah manakala melihat upaya suku-suku di pedalaman yang hidup secara tradisional dan harus mencari makan di taman-taman nasional. Tanpa melihat konteks secara lebih luas, seperti proses mereka terpinggirkan dan harus merangsek masuk ke taman-taman nasional tersebut, maka peneliti ekologi politik bisa berujung pada pandangan yang keliru. Mereka cenderung akan melihat para anggota suku itu sebagai kriminal karena memanfaatkan taman nasional tanpa izin.

Pada kondisi demikian, maka banyak peneliti yang melakukan penelitian meliputi berbagai skala dan aktor serta menggunakan metode gabungan agar dapat memperoleh gambaran yang utuh atas suatu fenomena yang menjadi obyek kajian.

Para peneliti tersebut harus berkomitmen untuk menelusuri bagaimana kekuasaan berperan dalam sebuah konflik. Mereka juga mesti sibuk memandang sebuah proses bukan saja satu fenomena yang terjadi secara natural di luar kehidupan sosial, tetapi mereka harus mampu mengawinkan alam dan budaya dalam penelitiannya.

Hal itu penting dilakukan karena tujuan penelitian ekologi politik seharusnya adalah untuk membuka selubung dan mengungkapkan tabir satu fenomena ekologis. Mereka juga perlu memahami proses bagaimana kesenjangan antar manusia yang mengarah ke konflik dapat dihilangkan atau justru meningkat. Dengan demikian, maka para peneliti tersebut dapat menawarkan solusi yang tidak sekadar alamiah, tetapi bahkan mampu menata ulang tatanan kehidupan dan hubungan manusia dengan alamnya.

Daftar Pustaka:
Cloke, P. J., Crang, P., & Goodwin, M. A. (Eds.). (2005). Introducing human geographies. Routledge.

Picture is borrowed from Pixabay.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to Top
%d bloggers like this: