Pelatihan: Menggunakan UAV untuk Monitoring dan Evaluasi Proses Rehabilitasi dan Rekonstruksi

Upaya penanggulangan bencana di berbagai tahap dari mulai pra, saat, hingga pascabencana telah memanfaatkan Teknologi Unmanned Aerial Vehicle (UAV)/Drone. Salah satu pemanfaatan UAV/Drone ini adalah untuk melakukan pemantauan kondisi pascabencana, yaitu untuk memantau proses rehabilitasi dan rekonstruksi di daerah terdampak bencana.

Narasumber untuk tulisan ini adalah Danang Wijaya, pilot drone yang dimiliki oleh Pusat Data, Informasi, dan Humas, Badan Nasional Penanggulangan Bencana.

Kenapa menggunakan Drone untuk memantau proses rehabilitasi dan rekonstruksi?

Dibandingkan kamera digital (pocket camera, DSLR, adventure camera, dan lainnya), maka UAV/Drone lebih efektif untuk mengetahui proses rehabilitasi dan rekonstruksi. UAV/Drone memiliki kemampuan untuk menangkap gambar dengan jangkauan lebih luas dibandingkan kamera digital.

Kamera digital terbatas oleh jangkauan pandangan yang sempit, sementara UAV/Drone jangkauan pandangannya tidak hanya luas, tetapi dapat diatur dengan sudut pandang tertentu. Dengan kemampuannya ini, maka UAV/Drone dapat menjangkau bagian-bagian tertentu obyek yang tidak dapat dijangkau oleh pengambilan gambar secara terestris atau dari posisi pemotret di darat.

Dengan menggunakan UAV/Drone, maka pengambil gambar yang sekaligus bertindak sebagai pilot UAV/Drone tidak perlu bergerak ke tempat tertentu, sehingga lebih hemat tenaga apalagi jika jarak satu obyek ke obyek lainnya berjauhan. Dengan cara ini, maka pilot tidak perlu berpindah tempat dan menghabiskan banyak tenaga.

Kamera Biasa dan Drone
Perbandingan hasil foto menggunakan kamera biasa (kiri) dan UAV/Drone (kanan) (Foto oleh Meysita Noormasari dan Danang WIjaya)

Bagaimana Prosedur Pemanfaatan UAV agar Efektif?

Sebelum terbang, pilot UAV/Drone perlu melakukan koordinasi dengan pihak-pihak yang memberikan pekerjaan untuk mengetahui keluaran (output) seperti apa yang diharapkan. Setelah memiliki pengetahuan output yang diharapkan, barulah dilakukan penyusunan rencana eksekusi pengambilan gambar dan pengaturan durasi terbang.

Penyusunan strategi terbang dapat dikomunikasikan dengan pihak yang menguasai obyek rehabilitasi dan rekonstruksi. Dari koordinasi tersebut, kemudian dapat direncanakan berapa konsumsi baterai yang akan digunakan, berapa lama durasi waktu perekaman yang akan diambil, serta keamanan penerbangan UAV/Drone itu sendiri.

Langkah pendahuluan ini lebih efektif dilakukan jika dibandingkan melakukan observasi lapangan tepat pada saat akan menerbangkan UAV/Drone.

Setelah ditentukan rencana penerbangan, setibanya di lapangan pilot perlu melihat kondisi lingkungan sekitar untuk menentukan lokasi tersebut kondusif atau tidak untuk melakukan pengambilan gambar menggunakan UAV/Drone.

Beberapa faktor yang harus diperhatikan saat penerbangan UAV/Drone antara lain:

  1. Sikap yang tepat dalam menerbangkan UAV/Drone perlu diperhatikan agar terjamin keselamatan pilot dan Drone. Pilot perlu membaca berbagai referensi keselamatan dalam penerbangan Drone, sehingga tidak membahayakan bagi pilot, orang, dan obyek di sekitar.
  2. Adanya beberapa macam penghalang seperti : bangunan tinggi, pohon, kabel listrik, dan lainnya.
  3. Adanya interferensi (pengganggu) yang akan mengganggu transmisi sinyal radio dalam penerbangan sehingga UAV/Drone bergerak tidak sebagaimana mestinya dan sulit untuk dikendalikan.

Agar dapat bekerja dengan baik, maka UAV/Drone perlu dicek kelayakan terbangnya dengan melakukan pemantauan dan pembaruan sistem secara berkala, serta penggantian perangkat yang sudah rusak.

Apa hasil UAV pada upaya rehabilitasi dan rekonstruski?

Hasil yang didapatkan dari pemantauan menggunakan UAV/Drone adalah video, oblique photo, orthophoto, dan model 3 dimensi. Pilot dapat membatasi hasil keluaran sesuai target yang ingin dicapai agar tidak membuang waktu saat berada di lapangan.

Misalnya dalam kegiatan monitoring dan evaluasi, maka hasil yang diharapkan adalah oblique photo dan video. Namun, jika keluaran ingin digunakan untuk bahan perencanaan pembangunan, maka orthophoto dan model 3 dimensi dapat menjadi pilihan.

Berikut ini beberapa hasil pemotretan UAV/Drone:

  1. Video

Video merupakan salah satu hasil UAV/Drone yang paling banyak digunakan untuk memantau kondisi lapangan. Dari video dapat dipantau proses pembangunan, konstruksi bangunan, dan tahapan  pembangunan dari suatu obyek.

Berikut ini contoh video hasil UAV/Drone di lokasi Hunian Tetap Siosar di kaki Gunung Sinabung:

  1. Oblique Photo

Oblique Photo atau Foto Condong dibuat dengan memanipulasi sudut kemiringan kamera dari ketinggian tertentu. Sudut kemiringan dan ketinggian diatur oleh pegambil gambar untuk memperoleh hasil yang optimal. Pengambilan gambar dengan teknik ini dimaksudkan untuk mendapatkan hasil foto dengan cakupan yang lebih luas, sehingga satu foto dapat mengambarkan kondisi keseluruhan obyek sebenarnya.

Contoh Foto Condong :

Bagaimana hasil foto Oblique itu?
Contoh foto Oblique Akibat Gempa di Pidie, Aceh (Danang Wijaya)
  1. Orthophoto

Merupakan teknik pengambilan gambar dengan memposisikan sudut kamera tegak lurus dengan permukaan bumi. Biasanya teknik ini banyak digunakan untuk melakukan pemetaan. Foto jenis ini dapat dimanfaatkan untuk perencanaan pembangunan suatu kawasan.

Contoh orthophoto:

Seperti apa tampilan Orthophoto?
Kawasan Relokasi Siosar, Kab. Karo Tahun 2015 (Danang Wijaya)
  1. Model 3 Dimensi

Model 3 dimensi merupakan hasil pengolahan beberapa foto condong (oblique photo) yang digabungkan menjadi satu sesuai konsep fotogrametri digital. Model 3 dimensi lebih spesifik ke 1 jenis bangunan,  misalnya jembatan, gedung, rumah, dan lain sebagainya. Hasil pemotretan ini dikombinasikan dengan sketchup dalam tahap perencanaan konstruksi bangunan. Foto berikut ini menunjukkan hasil pengolahan 3 Dimensi untuk kantor BPBD Jawa Tengah yang dapat juga dilihat dalam format interaktif di sini.

Contoh model 3 dimensi :

Seperti apa kenampakan foto 3D menggunakan UAV/Drone?
Foto 3 Dimensi Bangunan Kantor BPBD Provinsi Jawa Tengah (Danang Wijaya)

Apa kelebihan dan kekurangan menggunakan UAV untuk memantau proses rehabilitasi dan rekonstruksi?

Penggunaan UAV/Drone untuk memantau rehabilitasi dan rekonstruksi memiliki beberapa kelebihan antara lain:

  1. Lebih efektif dalam pengambilan gambar
  2. Mampu menjangkau daerah yang sulit
  3. Dapat memilih sudut pandang tertentu yang sulit dijangkau kamera terestris
  4. Luasan gambar yang lebih lebar daripada kamera terestris.
  5. Jenis keluaran banyak, sehingga dapat dimanfaatkan untuk berbagai hal.

Akan tetapi ada beberapa kekurangan yang dimiliki, antara lain:

  1. Harganya relatif mahal dan perawatannya sulit
  2. Membutuhkan kemampuan khusus untuk menerbangkan UAV/Drone
  3. Pengolahan hasil membutuhkan komputer/laptop berspesifikasi tinggi
  4. Saat dibawa bepergian menggunakan pesawat baterai sering dianggap Dangerous Goods di pemeriksaan bandara.

Apa UAV yang cocok untuk memantau proses Rehabilitasi dan Rekonstruksi?

Jenis UAV/Drone multirotor/copter sangat sesuai untuk memantau proses rehabilitasi dan rekonstruksi. Jenis ini mampu diam dalam posisi tertentu (hover) untuk melakukan pengambilan gambar secara optimal sesuai keinginan pengguna. Kemampuan ini juga memungkinkan jenis ini untuk pengambilan video dan foto condong. Dimensinya yang kecil serta ringkas sangat praktis untuk dibawa dalam perjalanan.

Jenis UAV/Drone dari pabrikan yang paling diminati di pasaran dan dapat dimanfaatkan untuk pemantauan rehabilitasi dan rekonstruksi adalah DJI Phantom 4 Pro.

Seperti apa penampakan DJI Phantom 4 Pro?
DJI Phantom 4 Pro (https://thebizloft.com)

Drone tersebut adalah keluaran dari perusahaan DJI. Seri 4 Pro merupakan pembaruan dari seri Phantom sebelumnya, yaitu DJI Phantom 2 Series dan DJI Phantom 3 Series.

Drone ini mampu merekam video kualitas 4K dalam kecepatan 60 fps dengan memanfaatkan kamera beresolusi 20 megapixel sensor CMOS. Kamera dalam drone ini mampu menyeimbangkan kontras sehingga hasilnya bagus.

Kemampuan baterai juga diperbaharui dari seri sebelumnya. Baterai dapat bertahan selama 30 menit terbang dalam kondisi normal. Hal tersebut menempatkan DJI Phantom 4 Pro sebagai drone yang memiliki waktu terlama dalam terbang pada kelas drone untuk konsumen.

Drone ini dilengkapi sensor-sensor yang mampu menambah fitur keselamatan. Drone mampu menghindari halangan dari depan, belakang, kanan dan kiri. Sehingga para pengguna lebih tenang dan leluasa saat menerbangkannya. Dengan mengaktifasi sensor tersebut drone mampu terbang dengan kecepatan hingga 49 Km/Jam.

Fitur GPS sudah disematkan pada Phantom ini dan sebelumnya. Hal tersebut menjadi salah satu fitur yang membuat pilot merasa nyaman saat menerbangkan, karena drone lebih stabil. Selain itu, hasil dari pengambilan gambar sudah dilengkapi dengan informasi posisi koordinat atau geotagging.

Dari foto dengan informasi koordinat tersebut, maka dapat digunakan untuk pemetaan. Bahkan, dengan menggunakan aplikasi gratis berbasis Android dan IOS, pemetaan secara cepat dapat dilakukan. Aplikasi yang dapat digunakan adalah Drone Deploy atau Pix4D Capture.

Di pasaran, Drone ini dibanderol dengan harga sekitar 20-25 Juta Rupiah. Namun, harga tersebut dapat bervariasi sesuai dengan kelengkapan yang ditawarkan. Ada yang sudah dilengkapi dengan layer pada Remote Controlnya dan ada yang belum.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to Top
%d bloggers like this: