Opini: Kebutaan atau Pencerahan Digital?

Di era pasca kebenaran (post-truth) sekarang ini, berita bohong dianggap kebenaran dan sebaliknya, berita benar malah tidak dipercaya. Logika dijungkirbalikkan dan fakta dikesampingkan. Orang mudah percaya dengan berita yang mengandung sensasi dan populis.

Akibatnya hoaks pun merajalela dan menjadi industri. Berita bohong itu dengan cepat menyebar melalui jejaring media sosial atau grup percakapan semacam Whatsapp. Mereka yang terpikat pun tanpa pikir panjang segera klik ‘Like’ atau ‘Share’ tanpa memikirkan dampak di belakangnya.

Kegaduhan, kegelisahan, dan kebencian pun merebak bagaikan cendawan di musim hujan yang sulit diberantas. Makin parah ketika semua itu berubah menjadi tindakan seperti perundungan, penggerebekan, dan persekusi.

Muncul pertanyaan kemudian, bagaimana semua fenomena ini bermula dan apa yang bisa kita lakukan?

Proses tersebut dapat dijelaskan dengan merunut dan memerhatikan bagaimana pola orang atau pengguna internet memperoleh dan kemudian mengkonsumsi berita. Seperti sudah disebutkan di atas, pengguna internet masa kini lebih percaya berita yang dibagikan oleh teman-temannya di media sosial atau grup percakapan.

Kemudian mereka menelan mentah-mentah informasi tersebut tanpa proses klarifikasi atau pengecekan kebenaran informasi. Mereka pun segera membagikannya ke grup percakapan lain atau meneruskan berita tersebut di akun media sosial masing-masing.

Kondisi tersebut diperparah dengan algoritma media sosial yang mengelompokkan mereka dengan ideologi atau kegemaran sejenis dengan mereka yang berbeda. Begitu pun di grup percakapan, seringkali terbentuk kelompok-kelompok dengan paham yang sama dan mengesampingkan mereka yang memiliki pandangan berbeda. Dengan pola seperti itu, maka masyarakat menjadi dua kubu berseberangan yang terbelah semakin lebar.

Proses tersebut menunjukkan sebuah fenomena baru yang oleh Seth Godin, seorang penulis buku, blogger, dan pembicara dari Amerika Serikat sebagai mobile blindness (kebutaan mobile). Ide ini muncul karena kebanyakan pengguna internet saat ini menggunakan perangkat mobile (gawai) untuk mengakses, mengkonsumsi, dan membagikan berita.

Mengenai kebutaan, Seth menjelaskan bahwa banjir informasi yang diterima oleh seseorang justru membuatnya silau dan tidak mampu melihat dengah jelas. Kondisi ini serupa dengan kebutaan seseorang manakala berdiri di tempat yang bersalju dan matahari bersinar terik. Kebutaan tersebut dinamakan photokeratitis. Ini adalah kondisi ketika terlalu banyak pantulan sinar ultraviolet dari salju yang masuk ke mata dan tidak mampu diserap seluruhnya, sehingga menyebabkan kebutaan.

Dalam hal kebutaan mobile atau agar lebih luas bisa juga disebut kebutaan digital, maka bukan sinar ultraviolet yang berlebih, tetapi informasi-lah yang terlalu banyak masuk ke mata. Melalui perangkat genggam mungil yang berada di tangan kita, dunia seakan-akan menyerbu. Seth menulis, kondisi ini semacam tsunami yang riuh dan gelombangnya meminta perhatian kita terus menerus.

Lebih parah lagi, gelombang informasi dari situs berita, dari media sosial, atau dari grup-grup percakapan seperti Whatsapp dan Telegram tersebut tidak bisa kita hindari. Kemudian kita pun berdiri gamang sambil dihajar serangan informasi tersebut dari semua lini.

Dari beragam informasi tersebut, biasanya kita hanya melirik sekilas, memindai dengan cepat untuk melihat mana yang kira-kira penting, mencari kata-kata yang memantik perhatian dan minat. Pada kondisi ini, maka mental model–pengetahuan, ketertarikan, dan latar belakang kita–memegang peranan yang penting untuk menyaring, mana berita yang bisa diterima atau ditolak.

Di sisi lain, pemroduksi berita pun dengan pintar mengemas (framing) informasi tersebut agar dengan cepat merasuk ke alam bawah sadar kita dengan menggunakan kata-kata yang memicu sensasi, hingga memanfaatkan isu-isu primordial semacam agama. Akibatnya pun mudah ditebak, kita menyukai dan tak ragu untuk membagikan berita yang sesuai dengan minat kepada pengikut dan teman-teman di jejaring media sosial atau grup percakapan. Sebaliknya, kita mengabaikan berita dan informasi yang bertentangan dengan mental model yang kita bangun.

Dengan pola konsumsi dan diseminasi berita semacam itu, maka kendati tsunami informasi itu menerjang, ternyata kita hanya terombang-ambing di permukaannya saja. Kita jarang menyelam masuk ke dalam untuk benar-benar memahami apa yang kita baca. Kebutaan digital itu pun menyebabkan kita mudah terjebak pada umpan (click bait), membaca hanya pembuka (headline), bahkan sekadar judul.

Anehnya, dengan informasi yang sepotong itu, kita sudah merasa mengetahui kebenaran. Bahkan, anggapan mengenai kebenaran itu pun seringkali menjelma menjadi kesalahpahaman, ungkapan yang prematur, berita bohong, dan juga ujaran kebencian yang kemudian turut kita sebarluaskan menjadi semacam bola salju yang menggelinding makin lama makin besar.

Pada kondisi demikian, Seth menawarkan dua pilihan. Pertama kita dapat memperlebar cakrawala bacaan. Namun, langkah ini mengandung risiko, karena kita hanya di permukaan dan kembali terombang-ambing tanpa ketidakpastian dan sekadar menambah buih kebisingan.

Alternatif kedua adalah manakala kita dapat menyelam lebih dalam ke relung-relung informasi dan menemukan kedamaian, kepuasan, serta kebenaran yang lebih utuh. Di palung-palung informasi tersebut, kemudian kita dapat berhenti atau memperlambat laju gerak sebentar untuk lebih memahami dan memperoleh pengertian akan satu hal yang membuat kita penasaran dengan cara mendalami, membandingkan, dan melakukan penelusuran informasi lebih jauh.

Dengan cara ini, mata kita pun akan terbuka dan tidak buta karena mendapatkan pencerahan dan menemukan mutiara-mutiara pengetahuan sangat penting yang mungkin terserak di kedalaman bacaaan dan informasi. Kita juga tidak akan disilaukan dan mengalami kebutaan saat membiarkan lewat begitu saja informasi yang tidak penting dan sekadar mencari sensasi.

Di mana palung-palung informasi tersebut dapat ditemukan?

Sejatinya banyak tempat menyediakan informasi secara lebih utuh. Di buku, majalah, kemudian kantor atau situs berita ternama yang memiliki kredibilitas baik. Mereka ini konsisten menjaga metode memperoleh informasi yang tidak bias dan tidak tergoda untuk menggadaikan reputasinya untuk sekadar mencari sensasi.

Jika itu dirasa masih kurang, karena sekarang ini sulit sekali menemukan media yang tidak ditunggangi kepentingan, maka kita juga bisa membandingkan satu informasi pada media yang berbeda-beda. Seringkali informasi intinya sama, meskipun disampaikan dengan sudut pandang dan cara penyajian yang beragam.

Namun, jika itu dirasa masih terlalu merepotkan, sebenarnya di setiap media memiliki rubrik Opini, Kolom, atau Telatah yang bisa jadi membantu kita untuk menerima pencerahan. Di rubrik inilah, mereka yang ahli dan paham tidak hanya menulis dan berbagi dengan tekun, tetapi juga mengendapkan dan menyusun gelombang informasi yang riuh dan sepotong-sepotong menjadi senarai yang utuh. Seringkali, mereka menambahkan informasi, teori, atau gagasan lain yang sangat menarik dan bermanfaat. Tak jarang, mereka pun melengkapi dengan refleksi yang berasal dari dalam keluasan sanubari mereka sendiri.

Memang panjang dan melelahkan jalan yang harus ditempuh agar terbebas dari kebutaan mobile dan digital, tetapi sungguh sepadan dengan hasil dan pencerahan yang nantinya didapatkan. Semua pilihan sudah tersedia dan terserah kita mau pilih kebutaan atau pencerahan?

Sumber gambar dari Pixabay

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to Top
%d bloggers like this: