Refleksi: Isra Mikraj, Agama, dan Sains

Isra Mikraj adalah peristiwa yang sangat luar biasa. Di suatu malam, Nabi Muhammad diperjalankan (isra) dari Masjidil Haram di Mekah ke Masjidi Aqsha di Palestina. Kemudian dinaikkan (mikraj) dari Masjidil Aqsha ke Sidratal Munthaha.

Haedhar Nashir, Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, dalam opininya di Harian Kompas (13/04/18) menuliskan bahwa diukur dari rasionalitas manusia biasa, peristiwa isra mikraj adalah aneh dan tidak masuk akal.

Peristiwa tersebut jika diceritakan akan ditentang dan didustakan oleh bangsa Arab pada saat itu. Kaum yang menentang tidak hanya menganggap Muhammad telah berdusta, bahkan mereka bilang Muhammad telah gila. Sebagian yang telah menganut Islam pun kemudian ada yang murtad.

Fenomena yang tersebut menunjukkan, betapa sulit menjelaskan satu peristiwa yang mustahil diterima akal manusia karena memerlukan kadar keimanan yang tinggi. Isra mikraj juga menjadi salah satu titik pertentangan paling seru antara agama dan ilmu pengetahuan (sains)

Pertentangan Agama dan Sains

Dan Brown, penulis novel ‘Da Vinci Code’ dan berbagai novel lainnya yang sangat terkenal memilih pertentangan agama dan sains sebagai tema novelnya. Bahkan di novel terbarunya ‘Origin’, Brown lebih dalam lagi mengungkap pertentangan tersebut melalui konflik di antara para tokohnya.

Pertentangan itu dimulai karena otak manusia bekerja untuk menghindari kekacauan dan menciptakan keteraturan. Manakala ada fenomena semesta yang tidak bisa dijelaskan oleh manusia pada masanya, maka mereka pun mencari dan menciptakan keteraturan.

Contoh dari fenomena tersebut adalah manakala sebuah gunungapi meletus, maka orang percaya itu adalah ulah Vulkan, pandai besi para dewa yang sedang menempa besi dan mengeluarkan asap dari cerobongnya. Jika terjadi tsunami, manusia pun mempercayai bahwa Poseidon, Sang Dewa Laut sedang marah.

Kepercayaan itu kemudian lambat laun tumbuh makin kuat dan menjadi keimanan. Bahkan, keimanan tersebut dengan prosesnya masing-masing menjadi awal dari hadirnya agama-agama yang sekarang ini banyak kita kenal.

Dalam perkembangannya, kemudian orang mulai memahami fenomena alam dan mampu menjelaskannya secara ilmiah. Inilah yang dinamakan ilmu pengetahuan atau sains.

Hadirnya sains banyak menghapuskan mitos-mitos agama, misalnya mengenai bumi yang menjadi pusat semesta, atau aktivitas pergerakan magma penyebab letusan gunungapi dan tsunami. Sains kemudian menjadi anti tesis dari iman dan agama. Sains berupaya untuk mencari bukti-bukti fisik bagi sesuatu yang belum dikenal atau didefinisikan dan menolak takhayul atau mitos.

Di sisi lain, banyak terjadi pertentangan di antara agama-agama yang dianut oleh manusia. Contohnya pada pertanyaan besar umat manusia, yaitu dari mana manusia berasal dan ke mana akan pergi?

Jutaan orang percaya bahwa mereka sudah tahu jawaban atas kedua pertanyaan ini. Namun, karena jawaban dari agama berbeda-beda, akhirnya dipertengkarkan jawaban mana yang benar dan versi Tuhan mana yang menjadi kisah sejati.

Melihat pertentangan antara agama tersebut, sains makin mendapat tempat. Sebagian berpikir, jika semua orang menyembah gravitasi, maka tidak akan ada pertentangan ke arah mana ia menarik kita.

Bagi sebagian ilmuwan, kondisi yang diimpikan adalah manakala agama-agama menghilang dan sains yang berkuasa.

Menyadari mulai menguatnya sains dan melemahnya agama, maka para pemuka agama pun tidak tinggal diam. Mereka menggunakan segala cara agar gairah keagamaan tidak luntur. Mereka berupaya agar gairah agama mampu menekan gairah ilmiah termasuk dengan menggunakan dogma semacam dosa, surga, dan neraka.

Agama yang selalu ditentang oleh sains itu pun setelah sekian lama tetap mampu bertahan. Keimanan kuat para pemeluknya mampu melawan gempuran tak kenal henti sains.

Sinergi Agama dan Sains

Pertentangan antara agama dan sains tersebut seharusnya menjadi sarana untuk mencapai keluhuran kemanusiaan. Sebab, agama dan sains sebenarnya mampu bersinergi dengan baik.

Sains dan agama, tulis Brown, tidak saling bersaing. Mereka adalah dua bahasa berbeda yang berupaya menceritakan kisah yang sama. Ilmuwan dan tokoh agama, kerapkali menggunakan kosakata yang berbeda untuk menjelaskan misteri jagad raya yang persis sama. Oleh sebab itu, selalu ada ruang untuk berkomunikasi di antara keduanya.

Sinergi antara sains dan agama itu akan makin berkembang jika didukung oleh semua pihak. Misalnya, karena agama punya dua rasa, yaitu yang gelap dan dogmatis serta yang terang dan luas, maka yang kedualah yang perlu lebih dikedepankan. Sebab, agama yang gelap menekan pemikiran kreatif, sementara yang terang mendukung introspeksi dan kreativitas.

Tidak Ada yang Tunggal

Dalam dimensi sains atau ilmiah, Nashir menekankan tidak adanya pendekatan ilmiah yang tunggal. Selalu ada yang berbeda, bahkan bertentangan. Sains juga tidak selalu dapat menyesuaikan diri dengan sesuatu yang berkenaan dengan keimanan.

Menurut Nashir, dalam peristiwa luar biasa seperti isra mikraj hendaknya mampu menginspirasi para ilmuwan untuk mengungkap berbagai rahasia alam. Sains agar tetap memiliki relativitas, sehingga dapat rendah hati terhadap fenomena yang bersifat imani atau ilahiah.

Di sisi lain, Brown menulis, bahwa ketidakpastian selalu menjadi pencetus perubahan besar. Transformasi selalu diawali dengan pergolakan dan ketakutan.

Misalnya di tengah ketidakpastian dan pergolakan serta ketakutan yang terjadi karena pertentangan antara agama dan sains, manakah yang akan Anda pilih, dunia tanpa agama atau dunia tanpa sains?

Dialog Agama dan Sains

Menurut Nashir, dialog antara agama dan sains perlu terus dilakukan untuk mengungkap rahasia alam semesta. Dialog yang menjadikan semesta sebagai tempat manusia hidup secara harmoni untuk menuju keutamaan peradaban semesta.

Dialog dapat berlangsung jika para ilmuwan rendah hati dan tidak angkuh dengan kebenaran yang diyakininya, sementara pemeluk agama juga mau membuka diri. Dengan begitu, maka manusia semakin maju sebagai khalifah di muka bumi untuk menyelamatkan masa depan kehidupan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to Top
%d bloggers like this: