Refleksi: Potensi Indonesia Bubar

Selama dua minggu berturut-turut di akhir Maret dan awal April, saya berksempatan mengunjungi dua wilayah Indonesia yang jauh berbeda.

Pertama, saya berkunjung ke Kota Ternate di Provinsi Maluku Utara. Menurut survey dari BPS, kota ini berada di provinsi yang paling bahagia.

Kedua, saya mendapatkan kesempatan untuk mengunjungi Aceh dan Sumatera Utara. Di sinilah kopi dan gaya hidup yang santai saya temukan.

Melirik kembali ke judul di atas, maka dari kedua wilayah tersebut saya temukan banyak sekali perbedaan.

Ternate adalah sebuah wilayah di timur Indonesia. Sedangkan Aceh adalah wilayah paling barat.

Warga yang tinggal di kedua daerah itu dan saya sendiri memiliki perbedaan penampilan, dari mulai warna kulit, hingga tebal, tipis, keriting, atau lurusnya rambut.

Jika ditelisik lebih jauh, maka suku, agama, hingga cara beribadah di antara kami bertiga pun ada yang tak sama.

Seorang kawan dari Amerika pernah bilang, “Negaramu itu punya sangat banyak alasan untuk bubar.”

Dalam hati saya tidak percaya dan cenderung marah kepada kawan saya tersebut, karena bukankah selama lebih dadi 72 tahun negeri ini aman-aman saja?

Namun, jika direnungkan, maka pernyataan kawan saya dan kenyataan di lapangan yang saya temukan ada benarnya juga.

Kita memiliki begitu banyak perbedaan yang bisa menjadi bermacam alasan untuk bubar. Bahkan, kalau disepakati, tak perlu menunggu 2030, besok juga bisa saja negeri elok di khatulistiwa ini tercerai-berai.

Namun, selain alasan untuk bercerai, kita juga punya banyak impian yang sama. Inilah alasan yang dahulu menyatukan para bapak bangsa untuk membentuk satu negara Indonesia.

Sekali lagi, kesamaan impian, cita-cita, dan tujuan itulah yang menyatukan mereka di Ternate dengan Aceh dengan Jawa dan dengan wilayah-wilayah lain di nusantara untuk membentuk satu negara bernama Indonesia.

Apakah kesatuan tujuan itu saja cukup untuk menyatukan negeri yang demikian luas ini?

Tentu saja jawabannya tidak cukup. Diperlukan upaya terus menerus dari semua anak bangsa untuk bahu membahu mencapai tujuan dan cita-cita berbangsa tersebut.

Selain itu, diharapkan agar semua warga negara rela dan bersedia untuk mengedepankan kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan golongan, pribadi, suku, bahkan partai.

Pada kondisi tersebut, saya teringat Ben Anderson yang dikutip oleh Profesor Ariel Heryanto, seorang dosen di salah satu universitas di Australia, yang mengungkapkan bahwa banyak warga Indonesia yang menganggap negeri ini sebagai warisan dan bukan cita-cita bersama.

Sebab, dengan memandang Indonesia sebagai warisan, maka akibatnya akan sama dengan barang-barang warisan yang lain. Barang tersebut cenderung akan segera dibagi-bagikan di antara para pewarisnya. Terjadi pertengkaran tentang siapa yang paling berhak atas warisan itu, kadang bahkan dengan kekerasan.

Sangat jarang barang warisan yang tetap utuh dan justru lebih sering tercerai-berai. Jika cara pandang yang sama digunakan, yaitu sebagai warisan, maka tidak menutup kemungkinan bangsa yang besar pun akan terpecah menjadi wilayah-wilayah yang lebih kecil.

Merawat Indonesia

Agar perpecahan tak terjadi, maka barangkali slogan (tagline) dari Beritagar, yaitu upaya untuk merawat Indonesia harus terwujud dalam semangat bersama yang tak boleh kendur (J Kristiadi dalam kolomnya di Harian Kompas, 12 April 2018).

Banyak hal dapat mengendurkan semangat tersebut, misalnya karena perebutan kekuasaan dan kehidupan politik yang mudah disulut. Cara-cara yang dipakai guna meraih kekuasaan tersebut, misalnya dengan mengumbar kebencian, membakar emosi publik, dan memainkan politik identitas juga harus dihindari agar tidak terjadi kebangkrutan kepercayaan publik terhadap peradaban politik.

Dalam riuhnya diskusi hingga ujaran kebencian, maka diperlukan pula upaya untuk mengendalikan amuk gelegak jiwa (Kristiadi, 2018). Menggunakan kearifan lokal yang dimiliki bangsa ini, maka Kristiadi menawarkan empat cara, yaitu:

  1. Neng (meneng), artinya diam dan merenungkannya saat menghadapi persoalan yang rumit dan membakar emosi.
  2. Ning (wening), artinya jernih dalam memikirkan dan mencari jalan keluar untuk memecahkan persoalan.
  3. Nung (dunung), artinya pencarian tempat, sebuah upaya untuk mencari dan menemukan inti persoalan dari Neng dan Ning.
  4. Nang (menang), jika semua upaya sudah dilakukan, maka akan dicapai kemenangan dan ketenangan batin.

Kristiadi juga menjabarkan tiga agenda untuk merawat Indonesia, yaitu:

  1. Membangun kekuatan untuk menghadirkan kemauan politik para pemegang mandat rakyat agar sungguh-sungguh membuat kebijakan yang menyejahterakan rakyat.
  2. Tidak menganggap lumrah korupsi politik dan penyalahgunaan kekuasaan.
  3. Berhenti memuja kedangkalan, seperti mengelola kekuasaan negara hanya dengan retorika politik.

Di akhir kolomnya, Kristiadi mengingatkan para elite bangsa dan kita semua untuk selalu menggelorakan asa, memadamkan prasangka, tidak memproduksi bualan politik yang membuat rakyat putus asa.

Semoga Indonesia tetap jaya!

Sumber gambar dari Pexels

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to Top
%d bloggers like this: