Kiat: Apa yang Dibeli oleh Konsumen?

Konsumen tidak membeli barang yang Anda jual, tetapi mereka membeli kenapa Anda menjual barang tersebut.

Permasalahan dalam dunia pemasaran saat ini adalah banyak perusahaan dan organisasi yang menggunakan beberapa fitur (fasilitas tambahan) pada sebuah produk. Selain itu, digunakan pula beberapa parameter terukur sebagai alasan yang rasional kenapa produk, perusahaan, dan ide yang mereka tawarkan lebih baik daripada orang lain.

Perusahaan menjual apa yang mereka hasilkan (produk). Pembeli, di sisi lain, membeli apa alasan perusahaan menghasilkan sebuah produk.

Sekali lagi ini menunjukkan penerapan dari ‘The Golden Circle’. Ini adalah pola pemikiran dari dalam keluar, dari ‘Why’, kemudian ‘How’, dan diakhiri ‘What’.

Dalam hal ini, kenapa (why) sebagai alasan untuk membeli sebuah produk dan apa (what) menjadi faktor yang terukur dari kenapa.

Apa yang dilakukan oleh sebuah produsen dan produk yang dihasilkan adalah beragam faktor eksternal. Namun, alasan atau kenapa perusahaan tersebut menghasilkan sebuah produk adalah faktor internal yang berurat-akar jauh ke dalam.

Perusahaan dapat saja memiliki kesamaan struktur, produk, hingga sistem yang bekerja. Mereka juga dapat saja mengakses berbagai faktor pendukung yang serupa seperti pegawai-pegawai bertalenta, sumber daya, agency, konsultan, hingga media.

Tetapi, para calon konsumen tidak membeli itu semua. Mereka membeli alasan, kenapa sebuah perusahaan membuat produknya?

Jika perusahaan tersebut mampu menjelaskan dengan jelas alasan-alasannya tersebut, maka akan menciptakan fleksibilitas, rasa nyaman untuk membeli, hingga kesetiaan.

Produk sebuah perusahaan (what) hendaknya menjadi bukti yang terukur atas apa yang mereka percaya (why). Dengan begitu, maka akan tercipta hubungan yang jelas antara ‘what’ dan ‘why’. Hasilnya kemudian adalah produk-produk yang otentik, karena menjadi penjelmaan why atau alasan dari perusahaan tersebut.

Perusahaan yang dapat menjadi contoh penerapan prinsip tersebut adalah Apple. Alasan (why) mereka adalah menantang status quo, yaitu melawan berbagai kemapanan yang sudah lama berlaku di industri.

Kemudian Apple mewujudkan alasan mereka tersebut ke dalam berbagai produk yang dihasilkan. Tak hanya itu, mereka juga berani berpikir dan bertindak berbeda. Pola ini kemudian menjelma terus menerus ke dalam berbagai produk yang dihasilkan, sebut saja iPad, iPhone, iTunes.

Sebuah perusahaan yang ‘why’-nya terlihat jelas kemudian mampu mengubah budaya. Contohnya, dalam hal Apple, mereka tidak akan mengumbar berbagai deskripsi produk secara detail. Sebaliknya, mereka justru sibuk menjelaskan kenapa mereka menghasilkan produk-produk tersebut.

Iklan mereka pun bukan lagi tentang perusahaan atau produk. Namun, pariwara mereka menyentuh siapa saja yang memiliki keinginan sama untuk menantang status quo. Iklan mereka menyentuh kita secara luar biasa.

Iklan tersebut kini bukan lagi tentang mereka, tetapi tentang para penggunanya. Pada kondisi ini, kemudian kita paham kenapa begitu menginginkan produk mereka dan sukarela untuk mengantri berjam-jam untuk sekadar mendapatkan satu produknya.

Dengan menampilkan dan menonjolkan (why), tujuan atau alasan sebuah perusahaan memproduksi hasil-hasilnya secara jelas, maka terbukalah pintu-pintu untuk melakukan inovasi, produk yang lebih berkualitas, dan kesuksesan di luar bisnis inti mereka sendiri.

Sumber gambar dari: Pexels

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to Top
%d bloggers like this: