Penanggulangan Bencana: Membangun Kembali Pesisir Timur Aceh

Ada dua pandangan yang bertolak belakang dalam hubungan antara bencana dan pembangunan. Pertama, bencana mengganggu jalannya pembangunan yang sedang gencar dilakukan di sebuah negeri. Kedua, bencana menjadi peluang untuk membangun kembali dengan lebih baik dan aman.

Di Indonesia, kedua pandangan tersebut terjadi pascabencana melanda sebuah wilayah….

Di pesisir timur Aceh, setelah gempa dengan magnitudo 6,5 yang terjadi di Pidie Jaya pada 7 Desember 2016, mengakibatkan pembangunan di tiga kabupaten, Bireun, Pidie Jaya, dan Pidie terganggu.

Saat itu, bencana telah merusak permukiman warga dan berbagai fasilitas umum seperti sekolah, tempat ibadah, dan sarana kesehatan. Selain itu, sarana pendukung perekonomian warga seperti jembatan dan pasar pun turut mengalami kerusakan. Bencana yang terjadi waktu itu telah mengganggu kehidupan, penghidupan, dan aktivitas harian warga.

BNPB mencatat, gempa menyebabkan 104 orang meninggal dunia dan hampir seribu orang terluka. Kerusakan yang terjadi terdiri dari 22.758 rumah rusak berat hingga ringan. Di bidang infrastruktur, bencana merusak 292 fasilitas ibadah, 277 fasilitas pendidikan, 129 fasilitas kesehatan, 144 kilometer jalan, dan 83 jembatan.

Tepat setelah bencana melanda, maka upaya penanggulangan bencana pun segera dilakukan. Tahap ini dinamakan fase tanggap darurat. Di tahap ini, fokus utama adalah pencarian, pertolongan, dan pemenuhan kebutuhan dasar.

Setelah masa darurat selesai, tahapan selanjutnya adalah masa rehabilitasi dan rekonstruksi (RR). Di tahap inilah rumah-rumah yang rusak dan fasilitas umum yang porak poranda mulai dibangun.

Kini, setahun lebih berselang setelah terjadinya bencana, jejak-jejak kerusakan karena gempa itu sudah tak lagi tampak. Di mana-mana justru terlihat geliat masyarakat yang sedang sibuk membangun.

Kabupaten Bireuen

Di sebuah Dayah atau pesantren di Kecamatan Samalanga Bireuen, pada Selasa (03/04) siang, ratusan santri duduk tafakur di Masjid Jami’. Sebagian yang lain hilir mudik di sekitar masjid berjalan atau mengambil wudlu untuk kemudian bergabung di dalam masjid.

Pada saat gempa terjadi, Masjid Jami’ sedang dibangun dan kubahnya runtuh. Beberapa santri terluka, bahkan ada yang patah tulang karena berebutan keluar baik dari dalam masjid atau dari asrama.

Kemarin, kubah besar di masjid itu sudah bertengger lagi dengan gagahnya. Tak jauh dari situ, sedang dibangun pula Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Aziziyah. Proses pembangunan sudah 80%, struktur bangunan sudah lengkap dan tinggal penyelesaian beberapa bagian kecil. Gedung STAI itu terdiri dari lima lantai, berbentuk seperti huruf ‘U’ dan dilengkapi dengan dua tangga darurat.

Di Bireuen, telah dibangun pula sebuah jembatan yang sebelumnya putus karena gempa. Memang Jembatan Blang Radi tersebut belum rapi benar karena masih perlu diperhalus, tapi tak henti-henti warga yang melewati jembatan itu dengan mobil dan sepeda motor yang berjalan perlahan-lahan.

Foto proses pembangunan RSUD Pidie Jaya
Proses pembangunan RSUD Pidie Jaya (Danang Wijaya)

Pidie Jaya adalah kabupaten yang bertetangga dengan Bireuen. Di sinilah kerusakan paling parah karena gempa terjadi. Di sektor ekonomi, misalnya, pasar ikan di Ulee Glee dan Meureudu harus roboh dan menimbulkan banyak korban jiwa.

Selain korban, dampak yang harus ditanggung masyarakat juga gangguan pada sektor mata pencaharian karena pasar tempat mereka mencari nafkah telah roboh diterjang gempa. Di Ulee Glee, pedagang yang tadinya berjualan di pasar ikan kini terserak.

Selasa (03/04) siang dan selama satu tahun terakhir, para pedagang menggelar dagangannya di bawah terpal warna-warni. Mereka memenuhi gang yang sempit dan panas di sekitar pasar ikan. Aktivitas jual beli pun tak lancar karena para pembeli seperti ingin segera angkat kaki dari pasar itu.

Namun, harapan para pedagang mekar saat mereka melayangkan pandangan ke bekas pasar ikan. Di tempat yang sama, kini sudah berdiri konstruksi baja kokoh yang sebentar lagi akan selesai. Bangunan ini nantinya akan menjadi loss-loss pasar yang siap menaungi aktivitas jual beli warga.

Proses pembangunan kembali juga sedang digalakkan di Pidie Jaya untuk permukiman, Kantor Dinas Pekerjaan Umum, RSUD Pidie Jaya, dan Masjid Attaqarub. Laju pembangunannya bervariasi, namun khusus untuk peribadatan seperti masjid dikebut agar bisa selesai sebelum Idul Fifri sesuai arahan Presiden Jokowi pada saat berkunjung ke wilayah ini.

Kabupaten Pidie

Selanjutnya adalah proses pembangunan kembali pascabencana di Kabupaten Pidie. Di sini obyek yang dibangun tidak sebanyak di Pidie Jaya. Kantor kecamatan, rumah warga, dan satu gedung kebidanan sebagai bagian dari RSUD Pidie adalah beberapa bangunan yang dibangun kembali setelah mengalami kerusakan karena gempa.

Capaian Proses Rehabilitasi dan Rekonstruksi di Aceh

Sampai dengan bulan Maret 2018, proses RR di Aceh telah menghasilkan berbagai capaian. Di sektor permukiman, telah dibangun 2.247 unit hunian sementara. Rumah yang direhabilitasi dan rekonstruksi sejumlah 6.744 unit di Pidie Jaya, 287 unit di Pidie, dan 622 unit di Bireuen.

Selanjutnya di sektor infrastruktur, telah dibangun 6 unit jembatan, 10 ruas jalan evakuasi, dan jaringan irigasi.

Di sektor ekonomi, proses RR dilakukan oleh BNPB bekerja sama dengan berbagai Kementerian/Lembaga. Di antaranya adalah:

  • Kementerian Koperasi dan UKM yang memberikan penundaan pembayaran pokok, penguatan modal koperasi, peningkatan kapasitas.
  • Kementerian Perdagangan melakukan rehabilitasi pasar di tiga kabupaten.
  • Kementerian PUPR melalui dana cadangan (SABA-PU) membangun pasar Ulee-Glee.
  • Kementerian Perikanan mendukung fasilitas gudang pendingin terintegrasi, kapal, alat penangkap ikan, asuransi, benih ikan, tempat pelelangan ikan, dan prasarana perikanan di tiga kabupaten.
  • Kementerian Pertanian melakukan rehabilitasi saluran irigasi tersier, bantuan benih dan pupuk, rehabilitasi lahan pertanian, serta pengembangan bawang merah dan kakao.
  • Kementerian Pariwisata menyalurkan dana alokasi khusus pariwisata untuk pembangunan panggung kesenian dan perbaikan sarana wisata.

Di sektor sosial, BNPB juga melakukan kerja sama dengan beberapa Kementerian/Lembaga, seperti:

  • Kementerian PUPR membangun sekolah dan madrasah, RSUD, Masjid Attaqarub, STAI Al Azizah.
  • Kementerian Kesehatan memberikan dukungan alat kesehatan, gudang, dan peralatan lainnya.
  • Kementerian Agama membangun rumah tumbuh, pondok pesantren, dan madrasah.
  • Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan pembangunan kembali sekolah.
  • Kementerian Ristekdikti merehabilitasi satu universitas swasta.
  • BNPB melalui dana RR melakukan pembangunan kembali RSUD, sekolah, dan Polindes.

Sektor terakhir adalah RR lintas sektor yang membangun kembali beberapa hal, yaitu:

  • Dana Hibah RR BNPB digunakan untuk membangun kantor pemerintah, kantor camat, dan aula kecamatan.
  • Kementerian Agama membangun kembali Kantor Urusan Agama (KUA).
  • Kementerian Pertanahan dan ATR mengalokasikan anggaran untuk penyusunan tata ruang rawan bencana.
  • Kementerian ESDM melakukan kajian rawan bencana.
  • TNI merehabilitasi gedung perkantoran terkait sektor keamanan dan ketertiban.

Dari proses RR dan pembangunan berbagai infrastruktur di pesisir timur Aceh itu, kita bisa belajar, bahwa petaka tak hanya berisi kisah duka lara. Bencana juga seringkali mengandung cerita tentang sinergi pemerintah, dunia usaha, dan warga untuk bangkit bersama.

Lebih dari itu, proses RR di Aceh telah dilakukan secara sistematis dan terencana. Pertama, upaya pembangunan kembali dibagi-bagi ke dalam beberapa sektor, seperti permukiman, infrastruktur, ekonomi, sosial, dan lintas sektor.

Kedua, proses RR telah melalui rute yang panjang, yaitu dari pembuatan rencana, pencairan dana, pelaksanaan pembangunan, hingga proses pengawasan. Ketiga, proses RR dilakukan dengan mengikuti kaidah dan rambu dari Kerangka Kerja Internasional untuk Pengurangan Risiko Bencana Sendai, yang meliputi: pembangunan kembali yang lebih baik dan aman, serta pembangunan kembali yang memerhatikan pengurangan risiko bencana.

Semua hal itu dilakukan untuk mencapai tujuan upaya penanggulangan bencana, yaitu membentuk masyarakat yang tangguh menghadapi bencana. Ini adalah masyarakat yang memilki daya lenting dan mampu beradaptasi setelah mengalami gangguan karena bencana.

Keterangan:

Foto Masjid Attaqarub diambil oleh Meysita Noormasari

Foto proses pembangunan RSUD diambil menggunakan Drone DJI Phantom 4 Pro oleh Danang Wijaya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to Top
%d bloggers like this: