Kiat: Beriklan yang Dimulai dari ‘Kenapa’

Berbagai perusahaan biasanya akan menawarkan produknya dengan cara yang seragam, yaitu dengan memaparkan apa produk tersebut dan berbagai nilai lebih yang ditawarkan.

Sebagai contoh, iklan tersebut kurang lebih sebagai berikut:

Kami sebagai perusahaan komputer bulan depan akan mengeluarkan produk terbaru. Komputer rilisan terbaru tersebut memiliki layar lebar, komposisi monitor sekian kali sekian, ram sekian, dan kapasitas harddisk sekian giga bite. Tidak diragukan lagi, komputer kami berbeda dan lebih baik daripada komputer lain dengan harga sama, Anda mau membelinya?

Dari iklan di atas, kita dapat melihat pola yang digunakan, yaitu produk (apa) yang dibuat, bagaimana produk ini berbeda dengan yang lain dengan menjelaskan spesifikasi atau karakteristik istimewa, dan call to action atau tindakan yang diharapkan dari calon konsumen, yaitu adanya pembelian.

Formula yang digunakan dalam iklan tersebut sebenarnya tidak terlalu menggoda, namun pola tersebut telah demikian lazim digunakan dan seolah-olah tidak ada alternatif yang lain.

Bahkan, karena saking seringnya digunakan, maka cara beriklan tersebut tidak hanya digunakan untuk sebuah produk dari perusahaan. Di dunia politik, pola iklan serupa juga dipakai baik oleh politikus untuk menawarkan dirinya atau untuk partainya.

Apakah semua perusahaan dan pemimpin menggunakan pola beriklan tersebut?

Menurut pakar komunikasi dan kepemimpinan Simon Sinek, tidak semua pemimpin yang menginspirasi dan perusahaan yang berpengaruh menggunakan pola iklan itu.

Alih-alih menggunakan metode apa, bagaimana, dan meminta orang membeli, maka para pemimpin dan perusahaan yang istimewa tersebut menggunakan pola dari dalam keluar.

Pada tulisan terdahulu, kita telah berkenalan dengan konsep The Golden Circle. Nah, pola komunikasi dan iklan dari dalam, dari Why, inilah yang digunakan oleh para pemimpin dan perusahaan besar untuk menawarkan produknya.

Iklan dari mereka kira-kira seperti ini:

Semua yang kami lakukan bertujuan untuk menantang kemapanan dan kami melakukannya dengan berpikir secara berbeda. Cara kami menantang kemapanan dan tampil berbeda adalah dengan membuat produk kami memiliki layar yang lebih lebar, ram dan harddisk yang lebih besar. Anda mau beli satu?

Sebenarnya inti pesan yang disampaikan sama mengenai produk yang dihasilkan oleh sebuah perusahaan. Namun, komposisi pesan dan urutannya berbeda, sehingga rasanya pun berbeda.

Ingat, kendati orang memiliki kemampuan berpikir, namun lebih sering mereka mengedepankan perasaan. Dengan demikian, maka pesan yang memiliki rasa berbeda akan lebih mengena bagi para calon konsumen.

Jika diperhatikan, maka tujuan dari perusahaan atau kenapa mereka berdiri tidak selalu berhubungan dengan produk yang dihasilkan. Hal ini berarti ‘Why’ tidak selalu berkorelasi dengan ‘What’.

Produk atau ‘What’ adalah perwujudan atau bukti yang terukur dari ‘Why’ atau alasan sebuah perusahaan berdiri. Oleh karena itu, desain yang menarik, spesifikasi yang berbeda dengan yang lain, memang beberapa hal yang penting, namun sayangnya sekadar menonjolkan beberapa karakteristik tersebut belum mampu menciptakan kesetiaan dari konsumen.

Contoh dari perusahaan yang secara efektif menggunakan metode ini adalah Apple. Mereka sejak awal berdirinya mencoba menantang status quo, menantang mereka yang sudah mapan. Sebut saja kehadiran iPhone yang mengubah pasar telepon genggam dari semula penuh dengan tombol seperti Blackberry menjadi layar sentuh dan hanya dengan satu tombol. Demikian juga kehadiran iTunes yang mengubah industri musik dunia, dari konsumsi album menjadi lagu.

Apakah metode Apple untuk menciptakan produk yang baru, unik, dan berbeda dapat ditiru oleh perusahaan lain? Tentu saja jawabannya dapat dan sudah banyak yang melakukannya. Bahkan, tidak hanya produk, namun juga para pekerja dan ahli di Apple dapat dibajak oleh perusahaan lain. Namun, apakah mereka yang meniru, mencontoh, dan membajak itu mampu berhasil?

Sebagian besar para peniru itu mengalami kegagalan karena melupakan satu hal utama, yaitu alasan dan tujuan Apple berdiri atau Why-nya Apple.

Alasan, tujuan, dan niat awal ini lebih dari apa pun dan tidak mudah ditiru oleh semua perusahaan.

Hal ini terjadi karena orang tidak membeli apa yang Anda buat, tetapi mereka tertarik pada alasan Anda membuat produk itu.

Pernyataan dari buku Simon Sinek ‘Start With Why’ ini layak diulang, ‘Orang tidak membeli produk Anda, tetapi mereka membeli alasan, kenapa Anda membuat produk tersebut?’

Apakah Anda selalu tahu tujuan sebuah perusahaan dan tujuan Anda sendiri atas pembelian sebuah produk?

Tulisan ini pertama kali tayang di Kumparan

Gambar pinjam dari Pixabay

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to Top
%d bloggers like this: