Opini: Bangsa Pembenci

Kebencian yang merajalela
Apa jadinya sebuah bangsa yang saling membenci? (Pixabay)

Kebencian kini menjadi narasi yang lumrah kita temukan di berbagai sendi kehidupan. Bagaimana proses perubahan menjadi bangsa pembenci tersebut berlangsung dan apa yang seharusnya perlu kita lakukan?

Berikut ini saya bantu meringkas Opini oleh Pak M Subhan yang dimuat di Kompas Cetak tanggal 6 Maret 201806/03)

Kita membenci apa yang sering kita takuti, William Shakespeare, dalam Antony dan Cleopatra.

Kebencian sangat kentara, terutama di media sosial.

Media sosial malah terjerumus menjadi media asosial. Media sosial bukan menjadi medium penghubung, tetapi malah menjadi pemecah.

Di panggung politik sekarang ini, betapa sulit tersemai watak-watak baik, di sisi lain lebih memperlihatkan watak galak. Politik bukan menjadi ladang menyemai kebaikan untuk kemaslahatan publik, tetapi justru lebih terlihat sebagai ajang pertarungan dan mengumbar kebencian.

Lebih jauh lagi, para politikus tidak memberikan keteladanan. Bahkan, banyak di antara mereka tampak ikut memanas-manasi situasi. Tidak sedikit komentar mereka (termasuk di media sosial) yang ikut membakar emosi pendukungnya.

Media sosial dan penyesatan informasi

Dalam konteks ini, media sosial menjadi ruang penyesatan informasi. Riset The Omidyar Group (”Is Social Media a Threat to Democracy?”, 2017) mengidentifikasi enam hal yang menyebabkan media sosial menjadi ancaman terhadap cita-cita demokrasi.

Pertama, media sosial berkombinasi dengan media partisan sehingga memperburuk perpecahan politik dan polarisasi. Media sosial menciptakan ruang gema yang dipenuhi informasi bias.

Kedua, media sosial menjadi saluran distribusi informasi palsu dan menyesatkan. Hal itu menimbulkan ancaman untuk dialog publik dan memperburuk kebenaran, fakta, dan bukti.

Ketiga, konversi popularitas menjadi legitimasi. Respons likes atau retweets dapat digunakan untuk mengukur dukungan massa bagi seseorang, pesan atau organisasi yang kemudian menciptakan sistem terdistorsi untuk mengevaluasi informasi dan memberikan dorongan palsu pada popularitas.

Keempat, manipulasi oleh pemimpin populis, pemerintah, dan aktor pinggiran. Terkadang mereka berkomunikasi langsung dengan pemilih mereka. Dengan media sosial, mereka meruntuhkan prosedur protokoler, meminggirkan suara minoritas, membuat normal pandangan kebencian, menampilkan momentum palsu untuk pandangan mereka, dan lain-lain.

Kelima, pengambilan data pribadi dan target pesan atau iklan. Ada manipulasi dan perubahan perilaku. Tidak semua pesan ini terlihat seperti iklan apa adanya, seperti iklan Facebook yang disponsori Rusia selama pilpres AS. Model ini semakin memperluas kesenjangan (termasuk pendapatan) dengan penerbit berita arus utama yang memegang tanggung jawab.

Keenam, gangguan di ruang publik dengan ujaran kebencian, seruan teroris, rasialis, dan pelecehan seksual, hingga perdebatan yang tidak beradab.

Hasil riset tersebut tentu menjadi pengingat bagi mereka yang gemar bermedia sosial. Sebab, di zaman digital sekarang, banyak orang yang tidak mencari kebenaran. Bahkan, barangkali gerakan jemarinya lebih cepat daripada akal pikirannya.

Padahal, ada pepatah yang sangat bagus, yaitu ”pikir itu pelita hati”. Istilah sekarang barangkali pikir dulu sebelum membagikan di media sosial (think before share). Karenanya, perilaku itu selama ini telah membawa bangsa ini terbelah. Demi kekuasaan, sepertinya kita menjadi bangsa pembenci. Kita saling membenci yang justru hanya berakhir menjadi ”arang atau abu”.

”Seandainya ada orang yang mempunyai banyak pengetahuan tetapi tidak berbudi, maka semua pengetahuannya itu menjadi sia-sia. Pengetahuan tanpa budi tak ada artinya…. Bahwa orang yang berbudi tidak mungkin melakukan hal bukan-bukan. Jika terpaksa harus melakukannya, kemudian ia akan berusaha membebaskan diri, kalau perlu dengan muslihat, oleh karena orang berbudi selalu berhitung ke depan, apakah sesuatu yang sedang dilakukannnya akan menimbulkan kesulitan bagi diri sendiri atau tidak” (Akira Nagazumi, ”Bangkitnya Nasionalisme Indonesia”, 1989).

Pada masa kemerdekaan, kita saling bersatu dan bahu membahu, namun seabad kemudian, bangsa ini lebih mempertontonkan sikap saling membenci, yang sangat tidak produktif bagi perjalanan bangsa ke depan.

”Kita membenci apa yang sering kita takuti,” kata pujangga William Shakespeare (1564-1616). Bisa jadi mereka yang suka menebar kebencian karena takut calonnya kalah dalam pilkada atau pilpres. Yang ketika sudah benci, dapat melakukan tindakan apa saja.

Filsuf dan ilmuwan Ibnu Rush (1126-1198) pun mengingatkan, ”Ketidaktahuan menyebabkan rasa takut, ketakutan menyebabkan kebencian, dan kebencian mengarah pada kekerasan.”

Mereka yang masih diliputi kebencian barangkali telah kehilangan ”budi”. Inilah ancaman terhadap bangsa. Ingat, bangsa ini dibangun di atas fondasi keluhuran budi pekerti.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to Top
%d bloggers like this: