Kepemimpinan: Manajer dan Pemimpin

Pilih mana, pemimpin atau manajer?
Apakah Anda melakukan aksi seorang pemimpin atau manajer? (Pixabay)

Pada tulisan terdahulu, saya telah menuliskan metode untuk menjadi pemimpin yang besar. Pemimpin besar adalah mereka yang dipercaya oleh para pengikutnya. Lebih lanjut, para pengikut ini pun sangat setia untuk mengikuti berbagai perintah dan arahan dari seorang pemimpin besar. Anda dapat membaca tulisan tersebut di sini.

Setelah menerbitkan tulisan tersebut, saya kemudian berbagi di beberapa akun media sosial. Di Facebook, seorang kawan kemudian bertanya, jika seorang pemimpin tidak melakukan visi, misi, dan aksi, apakah dia lantas menjadi seorang politisi?

Guna menjawab pertanyaan tersebut, maka berikut ini uraiannya….

Dari buku ‘Start With Why’ karya Simon Sinek, kita mengenal dua tipe pemimpin. Tipe pertama adalah mereka yang memimpin (those who lead) atau manajer. Adapun tipe kedua adalah pemimpin (leaders).

Manajer

Manajer atau tipe pertama bukanlah sebenarnya pemimpin. Mereka menjadi pemimpin karena berbagai mekanisme seperti warisan atau jabatan.

Mereka menggunakan berbagai instrumen agar anak buah atau pengikut bersedia menuruti perintah. Instrumen yang kerap mereka gunakan untuk memimpin contohnya adalah insentif dan hukuman. Mereka memberikan hadiah kepada pengikut yang berhasil. Di sisi lain, mereka menggunakan ancaman dan hukuman kepada anak buah yang tidak menurut.

Akibat dari penggunaan instrumen tersebut cukup merugikan mereka yang memimpin. Pertama, loyalitas tidak tercipta. Pengikut melaksanakan perintah dari seorang pemimpin bukan karena mereka ingin, namun karena mereka harus melakukannya. Di sini ada unsur keterpaksaan.

Kedua, manajer cenderung mengeluarkan biaya besar sebagai insentif agar diikuti. Pemberian insentif agar para pengikut bersedia melakukan perintah lama kelamaan justru menjadi beban bagi mereka yang memimpin. Sebab, biasanya insentif tersebut akan makin besar seiring berjalannya waktu. Jika hadiah yang diberikan tidak sesuai bahkan makin kecil, maka para pengikut pun akan enggan melaksanakan perintah. Hasil akhirnya pun sama, yaitu ketidaksetiaan. Pengikut melakukan apa yang diperintahkan oleh seorang pemimpin bukan karena mereka ingin melakukannya, namun karena mengharapkan adanya hadiah.

Pemimpin

Tipe kepemimpinan yang kedua adalah para pemimpin. Mereka ini adalah para pemimpin yang besar. Mereka mampu mengubah dunia.

Bagaimana cara para pemimpin tersebut memimpin?

Pertama, mereka tidak menggunakan berbagai instrumen seperti hadiah/insentif dan hukuman/ancaman.

Kedua, para pemimpin besar menginspirasi orang lain untuk melakukan tindakan. Mereka memberikan motivasi agar para pengikut bersedia untuk beraksi.

Manakala seseorang ingin menjadi pemimpin, maka dia perlu mengetahui alasan (why) dan tujuannya memimpin. Tujuan ini bukanlah tentang dirinya, namun tentang orang lain di sekitarnya atau untuk dunia di mana dia hidup.

Kesamaan tujuan dan alasan seorang pemimpin dengan orang lain dan lingkungannya ini sangat penting. Sebab, dengan demikian orang lain pun akan mudah melihat kiprah atau tindakan pemimpin tersebut. Pengikut dan anak buah pun dapat dengan mudah melihat tujuan yang ingin dicapai. Pada gilirannya, mereka merasa menjadi bagian dari sebuah pergerakan. Hal ini terjadi karena tujuan yang ingin dicapai oleh seorang pemimpin adalah tujuan mereka sendiri.

Seorang pemimpin yang memiliki kejelasan alasan dan tujuan kemudian akan menginspirasi orang lain untuk melakukan tindakan. Orang lain bersedia melakukan hal tersebut karena dorongan dari dalam dirinya sendiri. Mereka tidak terombang-ambing dalam ketidakpastian, namun terinspirasi oleh kejelasan tujuan, alasan, cara, dan tindakan yang dilakukan oleh seorang pemimpin.

Pada kondisi demikian, orang lain, pengikut, dan anak buah akan termotivasi untuk melakukan pekerjaan bukan karena dorongan insentif atau ancaman yang menakutkan. Mereka melakukan apa yang mestinya dilakukan berdasarkan inspirasi yang diperoleh dari pemimpinnya. Inspirasi ini kemudian menjadi dorongan pribadi yang kuat untuk melakukan tindakan.

Ketika seseorang terdorong untuk melakukan suatu hal, katakanlah perintah, dari dalam dirinya sendiri, maka dia rela untuk membayar lebih, merasakan ketidaknyamanan, bahkan mungkin menderita.

Hasil yang Diharapkan

Jika Anda adalah seorang pemimpin atau sebuah organisasi dan mampu menginspirasi orang lain untuk melakukan tindakan, maka hasilnya sangat menguntungkan bagi Anda sendiri dan organisasi.

Mereka yang terinspirasi oleh Anda akan berubah menjadi pekerja, pemilih, pendukung, dan pelanggan yang setia. Mereka akan melakukan perintah, memilih, mendukung, dan membeli berbagai produk yang Anda tawarkan dengan sukarela. Mereka melakukan tindakan itu bukan karena harus melakukannya, namun karena mereka ingin melakukannya.

Pada saat pekerja Anda sukarela melakukan perintah, ketika konstituen Anda sukarela memilih, ketika pendukung Anda sukarela memberikan dukungan, dan ketika konsumen Anda sukarela membeli, maka keuntungan yang Anda peroleh pun menjadi berlipat ganda.

Anda tak akan ragu dan canggung untuk melakukan berbagai perintah, kebijakan, keputusan, dan inovasi produk. Anda yakin akan selalu ada pelaksana, pemilih, pendukung, dan pelanggan berbagai produk dan kebijakan yang Anda hasilkan.

Keuntungan lainnya adalah kesuksesan yang bisa Anda dapatkan untuk jangka waktu lama. Para pekerja, pemilih, pendukung, dan pelanggan Anda tidak terpesona oleh iming-iming sesaat. Mereka setia dengan Anda meskipun berbagai godaan datang menghadang, beragam promosi disodorkan, dan bermacam program yang menarik disampaikan.

Seorang pemimpin atau organisasi yang mampu merebut kesetiaan pekerja, pemilih, pendukung, dan pelanggan, serta mampu melakukan hal itu untuk waktu yang lama, maka mereka akan mampu mengubah dunia.

Manfaat untuk Pekerja

Apabila Anda mampu menjadi seorang pemimpin yang menginspirasi, maka para pekerja pun akan merasakan manfaatnya. Mereka tidak hanya bersedia bekerja dan mengorbankan berbagai kenyamanan termasuk gaji yang lebih besar untuk tetap setia mengikuti Anda. Mereka mencintai Anda dan dengan demikian juga pekerjaan.

Perhatikan kata ‘mencintai’ di atas. Kemudian bandingkan dengan kata ‘harus’ pada pengikut yang menjadi bawahan mereka yang memimpin.

Kata-kata seperti ‘cinta’ memiliki makna yang dalam. Kata ini tidak mengandung unsur keterpaksaan seperti pada kata ‘harus’. Kata ‘cinta’ juga lebih daripada sekadar ‘ingin’. Apabila sudah cinta, maka kemudian ingin melakukan berbagai hal yang diperintahkan, ditawarkan, dan disampaikan.

Lebih dari itu, seorang pekerja yang mencintai pekerjaannya akan cenderung lebih produktif dan kreatif menyelesaikan berbagai persoalan dan tantangan. Efek selanjutnya adalah dia lebih bahagia di tempat kerja.

Kebahagiaan ini kemudian akan terasa pula manakala dia kembali ke rumah, bertemu dengan anak, istri, atau suaminya. Dengan begitu, keluarga mereka pun akan bahagia.

Dalam sebuah perusahaan, pekerja yang bahagia juga memberikan manfaat kepada kantornya. Dia akan memperlakukan pekerja lainnya dengan lebih baik. Tak hanya itu, dia pun akan memperlakukan pelanggan dengan lebih baik, sehingga kepuasan pelanggan pun akan terjaga.

Manakala pekerja dan pelanggan bahagia, maka perusahaan pun akan lebih kuat menghadapi berbagai kompetisi yang menghadang. Kemudian, dari perusahaan-perusahaan yang tangguh ini, maka akan tercipta kehidupan perekonomian yang lebih kuat pula.

Tulisan ini pertama kali terbit di Kumparan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to Top
%d bloggers like this: