Refleksi: Tentang Waktu

“Berapa lama lagi waktu yang kumiliki?”

“Hidup yang tak diperiksa, tak layak untuk dijalani”. Kata Socrates.

Memeriksa kehidupan ketika datang hari lahir adalah satu hal yang pantas untuk dilakukan.

Dari mana kita berasal, sudah sampai di mana kita melangkah, apa saja jejak yang kita tinggalkan, dan ke mana kita akan menuju? Adalah beberapa pertanyaan yang penting untuk diajukan.

Pada saat itu, kita juga menyadari betapa cepat waktu berjalan. Waktu adalah satu sumber daya yang tak bisa diperbarui. Jika ia telah pergi, maka tak akan pernah kembali lagi.

Benjamin Franklin, seorang pendiri Amerika Serikat dikenal sangat menghargai waktu. Caranya adalah dengan membuat jurnal setiap hari.

Dalam jurnal tersebut, dituliskan bagaimana dia akan menghabiskan waktu dalam satu hari. Pada bagian atas, ditulis apa hal baik yang akan dilakukannya pada hari itu. Sementara di bagian bawah, ditulis apa hal baik yang telah dilakukan pada hari itu.

Dengan cara demikian, Benjamin memiliki rencana setiap hari dan pelajaran yang bisa dipetik setelah dia menjalani harinya.

Setiap manusia pasti menginginkan kebahagiaan. Dalai Lama mengajarkan bagaimana meraih kebahagiaan itu, yaitu dengan melakukan berbagai kebaikan yang membuat kita senang, dan tidak melakukan hal-hal yang membuat kita tidak bahagia.

Sangat sederhana resep kebahagiaan darinya, namun juga sangat rumit.

Memeriksa kehidupan, memanfaatkan waktu, membuat jurnal, dan meraih kebahagiaan sepertinya adalah ide yang melompat-lompat.

Namun, kita dapat mengaturnya sebagai berikut: kita membuat jurnal untuk mengatur waktu dan memeriksa aktivitas harian agar didapat kebahagiaan.

Mengingat waktu yang tersedia untuk kita di dunia ini sangat terbatas, maka saya seringkali gelisah ketika menghabiskannya untuk hal-hal yang kurang bermanfaat. Sebagai contoh, terlalu banyak menghabiskannya untuk bermedia sosial yang tidak jelas ujungnya. Menghadiri rapat yang hasil akhirnya hanya menuju ke rapat berikutnya.

Sangkil dan mangkus atau efektif dan efisien dalam memanfaatkan waktu adalah kunci yang bisa kita lakukan agar waktu yang berjalan begitu cepat itu dapat kita manfaatkan secara maksimal.

Sebagai contoh adalah dengan menggunakannya untuk membaca sembari menunggu kereta datang dan di sepanjang perjalanan. Berjalan dari stasiun kereta ke kantor sambil memikirkan ide-ide yang begitu saja bermunculan di kepala. Mengirimkan bahan rapat sebelum rapat yang sebenarnya dilakukan, sehingga saat rapat yang sebenarnya kita tidak perlu mengulang lagi berbagai hal yang seharusnya bisa dibaca sebelum rapat tersebut.

Tapi, banyak di antara aktivitas itu yang sering juga terlewat karena di luar kemampuan kita untuk mengatasinya. Misalnya, hujan mengganggu aktivitas jalan pagi atau kebiasaan jam karet dari orang lain.

Lantas apa aksi yang bisa kita lakukan?

Pada dasarnya kita tidak mampu memengaruhi orang lain untuk sesuai dengan keinginan kita. Oleh sebab itu, kita dapat fokus pada aksi kita sendiri untuk menyesuaikan dengan keadaan yang kurang menyenangkan itu.

Jangan pula lupa, waktu adalah sumber daya yang anak-anak minta dari orang tuanya. Pastikan kita mengalokasikan waktu bersama mereka, meskipun hal ini berarti mengurangi waktu untuk melakukan hobi kita.

Embun, anak saya akan meminta buku yang saya pegang, menutupnya…..

“Mbun, kan papa mau baca…..” Kata saya yang ingin segera menyelesaikan satu buku.

Lalu, Embun bilang, “Kan Embun mau main sama Papa.”

Lalu setelah Embun berhasil mengalihkan perhatian saya dari buku, dia pun akan segera sibuk bermain-main dengan kembarannya, Bening. Mereka pun tak lama lupa kepada saya dan kemudian saya membuka buku. Nanti, jika ketahuan, buku itu pun akan ditutup lagi oleh Embun.

Kepada Mamanya, mereka berdua juga melakukan hal yang sama. Jika terlihat sibuk menonton film korea atau mainan hape, maka mereka akan giat mengganggu dengan melakukan berbagai kegiatan tidak jelas, hahaha. Sepertinya mereka sedang meminta perhatian dan itu wajar setelah seharian ditinggal bekerja.

Pekerjaan yang menyita waktu dari anak-anak tak bisa kita tinggalkan. Oleh karena itu, sangat penting untuk membagi waktu yang tersisa ketika kita sampai di rumah untuk mereka. Media sosial masih akan tetap aktif tanpa kita hadir di sana dan nanti kita bisa membacanya. Film korea pun akan tetap tayang dan nanti kita bisa mengaksesnya. Tetapi anak-anak akan segera beranjak dewasa dan kita tidak sadar telah melewatkannya.

Saya dan istri sering berganti bepergian ke luar kota. Terpaksa anak-anak pun harus ditinggal di rumah bersama dengan pengasuhnya. Namun, anak-anak kita sebenarnya dapat tetap bahagia kendati ditinggal lama.

Simon Sinek, penulis buku Leaders Eat Last menulis, bahwa bukan durasi kerja atau lama waktu kita keluar kota yang memengaruhi kebahagiaan anak-anak ketika bertemu dengan kita selepas bekerja. Namun, bagaimana lingkungan kerja kita yang kemudian memengaruhi kebahagiaan kita ketika sampai di rumah.

Rekan kerja yang menjengkelkan, tugas yang menumpuk, pemimpin yang buruk adalah beberapa satu contoh lingkungan kerja yang kurang menyenangkan. Inilah sumber ketidakbahagiaan kita yang dapat menular kepada hubungan kita dengan anak-anak.

Namun, kita tidak dapat menghindarinya.

Pernah ada satu cerita, seorang pekerja akan menaruh semua beban kerja di pohon depan rumahnya dan baru memasuki rumah untuk bertemu anak-anaknya. Besok pagi, dia akan ambil kembali beban kerja itu. Dengan demikian, dia tidak akan menganggu kebahagiaan anak-anak mereka.

Bertambah usia, lebih banyak ide yang dipikirkan, lebih banyak cita-cita, lebih banyak pekerjaan, lebih banyak tanggung jawab, tetapi makin sedikit waktu.

Apakah kita siap?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *