Kiat: Public Speaking

Banyak tantangan untuk berbicara di depan umum

Narasumber Ahmad Zaini, Senior Trainer Rumah Public Speaker dan Vox Pop Media.

Berikut ringkasan paparan beliau:

1. Salah satu hambatan utama public speaking adalah gugup/grogi dan tidak lancar berbicara, misal “a….. a…. a…..” yang berkepanjangan.

2. Tahapan dari public speaking adalah: persiapan, pelaksanaan, dan evaluasi.

3. Tahap persiapan, menjadi kunci untuk menghilangkan gugup.

a. Selftalk (yes/no) ini upaya memotivasi diri sendiri dengan cara berpikir positif bahwa kita bisa menyelesaikan tugas yang diberikan untuk berbicara di depan publik.

b. Temukan ciri khas diri untuk menenangkan gugup, misalnya seseorang bertipe kinestetic, dia bisa tenang saat ada sentuhan, contoh Hari Tanoe. Auditif, manakala orang tersebut tenang ketika mendengarkan suara-suara. Deskriptif, seseorang akan tenang setelah merem dan membayangkan berbagai adegan yang menyenangkan. Anda tipe yang mana? Perlu berlatih sendiri.

c. Relaksasi dilakukan dengan cara melenturkan alat bicara (pemanasan), melenturkan otot-otot pendukung, menarik napas, dan berdoa.

4. Masih tahap persiapan,

a. Knowledge, siapkan materi yang akan dibawakan, ketahui tempat/lokasi acara berlangsung, mengetahui audience yang akan menjadi pendengar kita.

b. Tools, ketahui berbagai peralatan pendukung dan kesiapannya seperti audio, video, microphone.

c. Tujuan berbicara di depan, apakah akan memengaruhi, menginformasikan, menghibur, memotivasi, atau mengubah paradigma.

5. Pelaksanaan

a. Gesture (gerak tubuh) usahakan wajar dan tidak berlebihan, tampilkan smiling face dan smiling voice, perhatikan eye contact. Dua hal ini, yaitu smiling face/voice dan kontak mata menjadi kunci keberhasilan kita saat berbicara di depan.

b. Penampilan agar rapi dan sesuai dengan kondisi/situasi

c. Vocal, intonasi (lagu kalimat), artikulasi (kejelasan), aksentuasi (penekanan), power (kekuatan), dan speed (kecepatan berbicara).

6. Tambahan untuk tahap pelaksanaan

a. Attitude perlu diperhatikan, yang meliputi respect (menghormati orang lain), empati (menempatkan diri pada posisi orang lain), dan humble (rendah hati dan tidak sok tau).

b. Penyampaian dapat menggunakan metode naskah/manuskrip, hafalan, spontanitas/impromptu, kerangka.

c. Audible/clarity meliputi fokus, tidak melebar ke mana-mana, artikulasi kata dan kalimat harus jelas, suara jelas, alat bantu yang digunakan jelas.

7. Evaluasi

a. Dengar dan lihat kembali rekaman audio/video pembicaraan kita.

b. Open mind, artinya terbuka menerima kritik

c. Terus memperbaiki diri dan berlatih berdasarkan rekaman atau saran dan kritik dari orang lain.

8. Tambahan, latihan agar tercapai keseimbangan treble dan bass (tidak cempreng)

a. Tarik napas dalam-dalam dan keluarkan, simpan di antara rongga dada dan perut (diafragma).

b. Tarik napas dan keluarkan bunyi “Ssssssss” saat mengeluarkan napas.

c. Tarik napas dan keluarkan bunyi “A, I, U, E, O”

d. Tarik napas dan keluarkan bunyi “Do, Re, Mi, …. Do”.

e. Khusus untuk yang suaranya cempreng. Hal ini terjadi karena lebih banyak menggunakan alat bicara depan, harus berlatih menggunakan pernapasan dan suara diafragma. Disarankan juga untuk berlatih membuka dan menutup sebuah acara.

9. Tambahan: gestur penting, orang juga mendengarkan pembicara selain karena teknik juga karena reputasi, terkadang teknik tidak penting karena orang mencari informasi (lihat Johan Budi/Febridiansyah). Ingat, setiap orang punya kelemahan, sehingga perlu terus melakukan latihan.

Ps. untuk smiling voice, ini maksudnya adalah suara yang renyah, dapat terjadi seiring dengan senyuman yang mengembang di wajah kita.

Sumber gambar: Pixabay

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *