Refleksi: Kecoak, Dehumanisasi, dan Melembutkan Kebencian

Mari Bekerja Sama
Manusia, Kecoak, dan Kerja Sama

Di media sosial makin marak kita baca berbagai sebutan kepada lawan politik menggunakan nama-nama hewan seperti cebong, onta, sapi, dan lainnya. Ini sejatinya adalah sebuah tindakan ‘dehumanisasi’ atau penghilangan harkat manusia.

Seharusnya kita bisa belajar dari peristiwa penghilangan etnis (genosida) di Rwanda yang berawal dari upaya dehumanisasi manusia. Di sana, kata yang digunakan adalah ‘inyenzi’ yang berarti kecoak.

Sebutan kecoak disematkan kepada Suku Tutsi dalam hate speech atau ujaran kebencian terstruktur oleh Suku Hutu. Sebutan ini disampaikan melalui media oleh anggota masyarakat, pemerintah, dan paramiliter.

Akibatnya, kebencian pun merebak di Rwanda, bahkan terjadi genosida terhadap suku Tutsi oleh suku Hutu.

Pertanyaannya kemudian adalah bagaimana caranya untuk mengelola dan kalau bisa mengurangi kebencian?

Jehane Noujaim, seorang sutradara film dokumenter dan peraih nominasi Academy Award, berpendapat, “Jika Anda bisa tertawa dan terhubung dengan orang lain yang berbeda, maka tindakan itu mempersulit upaya dehumanisasi kepada mereka. Saya kira dehumanisasi terjadi saat ini ketika kita dibombardir di media oleh berbagai informasi yang mengarah ke pembentukan ‘liyan’ (the other), yang bukan lagi manusia. Hal ini telah mengarah kepada pembicaraan antara ‘kita’ dengan ‘mereka’.”

Saat kita terhubung dengan mereka yang berbeda, barangkali kebencian itu akan melunak dan menjadi pertemanan.

Sebab, sejatinya saat ini sangat sulit menemukan orang yang benar-benar fanatik, baik itu dalam bidang agama, politik, hingga paham yang diyakininya. Mereka barangkali memang masih meyakini pria adalah pria, dan wanita adalah wanita seperti di masa lalu.

Namun, ketika dihadapkan pada kenyataan hidup dan sosok orang yang sebenarnya, bisa jadi dihadapkan kepada anak, keponakan, keluarga, atau temannya yang berbeda, maka kadar fanatik itu pun akan melembut.

Apa kira-kira yang akan terjadi ketika orang yang berbeda-beda menghabiskan lebih banyak waktu bersama dalam satu lingkungan, bisa jadi lingkungan kerja atau pergaulan yang lain?

Apa yang kira-kira akan terjadi jika mereka yang berbeda-beda saling berbagi makanan?

Akankah semua kebencian yang seakan-akan terpisah itu mulai melunak dan membentuk jembatan pengertian?

Akan lebih baik lagi jika semua orang mulai membongkar benteng-benteng yang membatasi kita untuk kemudian saling menyapa.

Apa yang akan terjadi jika kita mulai mendengarkan dan berhubungan dengan orang-orang yang berbeda dengan kelompok yang selama ini selalu setuju dengan pendapat kita?

Menurut Dalai Lama, mengetahui latar belakang orang lain adalah salah satu jalan untuk memahami orang lain. Selanjutnya, dengan pemahaman ini, maka semoga kita bisa menerima mereka yang berbeda sebagai sesama manusia seperti juga kita.

Mereka adalah manusia dan bukan kecoak, cebong, onta, atau sapi.

Penerimaan sesama manusia sebagai manusia adalah kunci kebahagiaan dan pelembut kebencian.

#reflection #lessonslearned

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to Top
%d bloggers like this: