Penanggulangan Bencana: Pesan Presiden Jokowi di Wonogiri

Kepala BNPB Konferensi Pers
Kepala BNPB Memberikan Keterangan kepada Pers (BNPB)

WONOGIRI – Waktu baru menunjukkan pukul 05.00 WIB ketika rombongan Kepala BNPB berangkat dari Solo untuk menuju Wonogiri, Jawa Tengah pada (10/12/2017). Kepala BNPB, Willem Rampangilei, akan meninjau, mengkomando, dan mengkoordinasikan berbagai persiapan kunjungan Presiden Republik Indonesia Ir. H. Joko Widodo (Jokowi) di Wonogiri.

Jalur perbukitan yang sepi dan berkelok di Kecamatan Tirtomoyo, Wonogiri menyambut rombongan. Kabut masih menyelimuti punggung perbukitan. Di sawah yang berundak, batang-batang padi yang menghijau bergoyang perlahan ditiup angin. Suasana yang disajikan di Wonogiri begitu menenangkan jiwa.

Namun, hampir dua minggu yang lalu, tepatnya pada tanggal 28 November 2018, suasana di Wonogiri jauh berbeda. Waktu itu, ekor Siklon Tropis Cempaka menyapa Wonogiri dan sekitarnya. Langit muram, angin berhembus kencang, dan hujan lebat yang tercurah demikian deras adalah sebagian perwujudan Cempaka saat itu.

Air hujan itu pun sebagian menelusup ke pori-pori tanah, bertemu dengan lapisan lempung yang kedap air, dan menjadi pemicu longsor di lereng-lereng terjal. Tercatat ada 51 titik longsor di Wonogiri. Sebagian air yang lain tak mampu lagi ditampung oleh saluran air dan dilesapkan ke dalam tanah yang telah jenuh. Banjir pun terjadi di 92 titik, menggenangi permukiman dan menimbulkan dampak lainnya.

Dampak Cempaka di Wonogiri

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat berbagai akibat Cempaka di Wonogiri. Sampai dengan Sabtu (9/12) tercatat empat orang meninggal dunia, tujuh orang luka-luka, dan hampir 2.500 warga harus mengungsi karena rumahnya rusak.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kab. Wonogiri melaporkan bahwa rumah yang roboh sejumlah 30 unit. Selain itu, 163 unit rusak berat, 59 unit rusak sedang, dan 389 unit rusak ringan. Kala banjir menerjang, hampir 1.500 unit rumah terendam. Saat ini, 127 unit rumah terancam oleh bahaya longsor yang mungkin terjadi di masa depan.

Selain korban jiwa dan kerusakan rumah, tanah longsor dan banjir yang melanda Wonogiri juga menyebabkan kerugian yang lain. Ratusan ternak warga yang terdiri dari sapi, kambing, dan unggas mati atau sakit. Selain itu, ribuan hektar lahan pertanian yang sedang ditanami padi, jagung, dan kacang pun turut rusak.

Arahan Presiden RI dan Upaya Penanggulangan Bencana

Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah menaruh perhatian yang sangat besar pada bencana banjir dan longsor yang terjadi di Wonogiri serta berbagai lokasi lain di pesisir selatan Pulau Jawa. Bahkan, Presiden Jokowi telah berkunjung ke Pacitan pada Sabtu (09/12). Sedianya, Presiden pun akan hadir di Wonogiri pada Minggu (10/12), namun urung terlaksana karena pada saat yang sama harus memimpin Pembukaan Peringatan Hari Hak Asasi Manusia (HAM) Internasional di Solo.

Presiden pun kemudian menyampaikan pesan kepada warga Wonogiri melalui Kepala BNPB yang didampingi oleh Bupati Wonogiri, Joko Sutopo. Dalam kesempatan tersebut, Presiden menyampaikan permohonan maaf yang sebesar-besarnya karena tidak bisa hadir di tengah-tengah warga. Presiden meminta masyarakat yang terdampak agar tetap sabar menghadapi cobaan yang tak bisa ditolak tersebut.

Presiden telah memerintahkan BNPB dan Kementerian/Lembaga terkait dari tingkat pusat hingga daerah untuk segera melakukan pemulihan atas terganggunya kehidupan dan penghidupan masyarakat yang terdampak banjir dan longsor. Presiden memberikan perintah agar pemulihan dilakukan secara cepat, sehingga masyarakat yang terdampak dan harus mengungsi tidak terlalu lama tinggal di pos pengungsian.

Selain itu, berbagai sektor lain yang mengalami kerusakan juga diharapkan segera bisa pulih. Pertama adalah sektor kesehatan masyarakat harus terjamin. Kepala Pelaksana BPBD Kab. Wonogiri Bambang Hariyanto mengatakan bahwa saat ini telah diberikan pemenuhan kebutuhan dasar dan kesehatan bagi pengungsi.

Kedua perbaikan infrastruktur seperti jalan atau jembatan yang rusak agar transportasi dan akses masyarakat tidak lagi terganggu. Ketiga sektor pendidikan agar sekolah dan proses belajar mengajar segera berlangsung dengan normal kembali.

Khusus untuk sektor pendidikan, siswa-siswa sekolah dasar termasuk di Dlepih pada Senin (11/12) ini akan menghadapi ujian. Oleh karena itu, secara khusus Presiden telah memerintahkan kepada Menteri Pendidikan dan Kebudayaan untuk melakukan pembersihan sekolah yang kotor dan perbaikan sekolah yang rusak.

Menurut Noviana Kusumadewi, Guru SDN 1 Dlepih yang diwawancara di lokasi, semua persiapan menghadapi ujian sudah dilakukan sejak dua minggu yang lalu. Namun, karena sebagian ruang sekolah digunakan untuk keperluan pengungsi, maka terjadi kekurangan ruang kelas untuk ujian.

Upaya di sektor permukiman bagi warga yang rumahnya roboh atau rusak berat juga mendapatkan perhatian. Namun, sebelum pembangunan rumah kembali dan bantuan diberikan ada beberapa tahapan yang terlebih dahulu harus dilakukan.

Kepala BNPB dalam rapat koordinasi bersama dengan jajaran Pemerintah Daerah Wonogiri di Pos Pengungsi SDN 1 Dlepih menjabarkan bahwa urutan yang harus dilakukan untuk pemulihan sektor permukiman adalah sebagai berikut. Pertama dilakukan penilaian kerusakan dan kerugian (Damage and Loss Assessment). Kedua dilakukan kajian oleh Badan Geologi, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, terhadap daerah yang rawan longsor dan daerah yang aman longsor.

Jika lokasi relokasi aman, maka pembangunan rumah bisa segera dilakukan. Sementara itu, sambil menunggu proses pembangunan, warga bisa disewakan rumah. Adapun bagi warga yang rumahnya rusak dan perlu perbaikan, maka akan diberikan dana stimulan. Besaran dan siapa yang akan melaksanakan semua proses ini masih akan dibicarakan dan dikoordinasikan lebih lanjut.

Kemarin, Pemerintah Pusat telah memberikan bantuan berupa perlengkapan sekolah 310 paket, sembako 1.750 paket, hygiene kit 1.000 paket dan paket sandang. Bantuan ini masih ditambah 100 paket perlengkapan keluarga dari Pemerintah Provinsi Jawa Tengah. Gubernur Jawa Tengah juga telah mengucurkan dana sejumlah 149 juta untuk pemenuhan kebutuhan dasar dan 200 juta untuk operasional upaya penanggulangan bencana.

Kepala BNPB menyampaikan bahwa warga Wonogiri adalah masyarakat yang tabah dan tawakal dalam menghadapi cobaan. Beliau berpesan agar semua pihak, baik itu korban dan penyelenggara penanggulangan bencana senantiasa menjaga kesehatan. Disampaikan pula prediksi dari Badan Meteorologi dan Geofisika (BMKG) bahwa cuaca ekstrim akan terjadi sampai dengan akhir Februari. Oleh sebab itu, kewaspadaan dan kesiapsiagaan masyarakat untuk menghadapi bencana harus terus ditingkatkan.

Awan-awan pembawa hujan kembali hinggap di bahu-bahu perbukitan di Wonogiri ketika rombongan Kepala BNPB beranjak pulang ke Jakarta siang itu. Angin bertiup sepoi-sepoi dan melenakan siapa saja. Namun, diharapakan bangsa Indonesia tidak terlena dan selalu waspada menghadapi ancaman bencana.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *