Penanggulangan Bencana: Pelajaran Ketangguhan dari Pos Pengungsi di Bali

Ketangguhan Pengungsi di Bali
Seorang Pengungsi di GOR Swecapura, Klungkung, sedang membuat kerajinan (BNPB).

Pengungsi Gunung Agung yang berada di berbagai lokasi pengungsian tidak hanya berdiam diri menunggu uluran bantuan. Mereka adalah para penyintas (survivor) yang tetap berusaha aktif untuk mengisi hari-harinya.

Kita bisa menengok aktivitas penyintas tersebut di Pos Pengungsi Pasar Sinduwati di Desa Sinduwati, Kecamatan Sidemen, Kabupaten Karangasem, Bali. Di sana, para penyintas tersebut disibukkan oleh kegiatan membuat kerajinan tangan dari bambu.

“Kami sudah membuat kerajinan ini sejak dulu, bahkan sebelum Gunung Agung meletus pada 1963.” Kata Dewa Putu Dharma (39) yang ditemui di lokasi pada Jumat (1/12).

Membuat kerajinan dari bambu adalah pekerjaan umum bagi kaum wanita. Kerajinan yang mereka buat adalah tokasi, yaitu wadah bagi berbagai macam keperluan sembahyang.

Saat belum pindah ke lokasi pengungsi tersebut, para penyintas telah memiliki keterampilan menganyam. Di dusun asalnya, Taman Darma, Desa Pringsari, Kecamatan Selat, Kabupaten Karangasem, Bali, para wanita sudah biasa menganyam bambu menjadi tokasi.

Sementara itu, para pria menyiapkan berbagai bahan dasar yang diperlukan untuk membuat kerajinan tokasi. Sebut saja menebang bambu dari rumpunnya, memotong bambu menjadi lebih kecil, hingga mengiris-irisnya menjadi bilah bambu yang siap untuk dianyam.

Di halaman Pos Pengungsi Pasar Sinduwati, kita dapat menyaksikan bilah-bilah bambu itu tengah dijemur. Sebagian yang sudah jadi juga dijemur dan ditumpuk dengan cara memasukkan tokasi yang lebih kecil ke dalam tokasi lain yang lebih besar.

Pos pengungsi ini sejatinya adalah pasar yang baru selesai dibangun dan belum digunakan. Terdapat ruang parkir yang longgar dan dapat memuat beberapa mobil sekaligus. Saat kami datang, tempat parkir itu dimanfaatkan oleh anak-anak yang sedang bermain bola.

Di pinggir tempat parkir, dapat dijumpai trotoar yang lebar, namun saat ini dinaungi terpal dan menjadi tempat duduk puluhan ibu-ibu yang sedang sibuk menganyam topasi. Kandang burung digantung di tiang-tiang terpal. Sementara kandang ayam dijajarkan rapi di depan mereka yang menganyam.

Bangunan utama pasar ini terdiri dari loss dua lantai tanpa penyekat dan menyerupai aula. Di lantai dua, 57 kepala keluarga (KK) dari Dusun Taman Darma. Sementara di lantai satu, 72 kepala keluarga dari Dusun Babakan harus tinggal bersama dan berbagi dengan yang lain. Kedua dusun secara administratif berada di Desa Pringsari, Kecamatan Selat.

Ditilik dari lokasinya, kedua Dusun tersebut berada delapan kilometer dari puncak Gunung Agung. Artinya memang lokasi tersebut berada dalam zona bahaya dan harus mengungsi.

Sangat menarik mendengarkan cerita Dewa Putu Dharma pada saat dia dan keluarga mengungsi untuk kedua kalinya pada periode Awas yang kedua Gunung Agung ini.

Evakuasi Mandiri

“Ini kali kedua kami mengungsi. Kami ke sini pada hari Minggu (26/11) yang lalu.” Dewa bercerita sambil matanya menerawang.

Pada periode pertama pengungsian, medio September-Oktober yang lalu, Dewa tinggal di pengungsian selama 37 hari. Di antara hari-hari tersebut, Dewa pulang ke rumahnya beberapa kali.

“Selama delapan malam saya beranikan diri untuk pulang karena anak yang terakhir tidak betah di sini. Dia tidak mau makan dan nangis terus.” Dewa bercerita mengenai anaknya yang terakhir, Dewa Komang Agus (13 bulan). Waktu itu dia pulang bersama dengan istrinya Dewa Ayu Widiati (29). Sementara itu, putra pertamanya, Dewa Putu Alit (13) dan putri keduanya, Dewa Ayu Dharmayanti (10) tetap tinggal di lokasi pengungsian.

Kini, pada periode kedua status Awas Gunung Agung, Dewa tak menunggu diperintah untuk mengungsi. Dia bahkan menyingkir sehari lebih dulu sebelum status Awas ditetapkan pada Senin (27/11).

“Bau belerang begitu kuat, kami tak tahan dan memutuskan mengungsi.” Dewa mengisahkan upaya pengungsian mandiri yang dilakukannya bersama warga sedusun. Dia menggunakan sepeda motor untuk turun, sementara istri dan anak-anaknya menumpang mobil.

Di Dusun Taman Darma, hanya ada empat kendaraan roda empat yang bisa digunakan untuk mengungsi. Warga pun harus bolak-balik menggunakan sepeda motor untuk mengangkut berbagai barang bawaannya, termasuk Dewa.

Pada periode pengungsian kedua ini, Dewa dan warga sedusunnya beruntung karena mereka sudah memiliki lokasi pengungsi tujuan dan tak harus bingung ke mana bernaung. Dengan pasti mereka menuju Pos Pengungsi di Pasar Sinduwati, meminta izin kepada kepala desa, dan menempati untuk sementara bangunan pasar itu.

Kondisi ini mirip konsep sister village yang dikembangkan oleh BNPB dan UNDP di Gunung Merapi, Yogyakarta. Ini adalah persaudaraan desa-desa di lereng Merapi. Manakala satu desa diminta mengungsi, maka sudah ada desa tujuan yang bersedia menampung mereka.

Di Bali, persaudaraan antar desa pun terjadi. Masyarakat Bali menjunjung tinggi semangat menyama braya saat mereka bahu membahu mengupayakan kedamaian dan keharmonisan dengan tidak berseteru, berbagi penderitaan dan kebahagiaan bersama-sama.

Merangkai Bambu, Menganyam Kehidupan

Masyarakat Bali dikenal sangat religius. Setiap hari, mereka melakukan persembahyangan di rong telu, pura keluarga yang berada di rumah masing-masing; khayangan tiga atau pura desa; dan melakukan upacara keagamaan di khayangan jagad atau pura-pura besar yang ada di Bali.

Di hampir semua prosesi persembahyangan, masyarakat Bali akan mempersembahkan canangsari, ini adalah persembahan yang terdiri dari bunga, buah, uang koin, dan beras. Kemudian canangsari tersebut dimasukkan ke dalam tokasi bersama buah, berupa pisang, kacang, saut atau kelapa disangrai, dan dupa.

Penyintas yang tinggal di Pasar Sinduwati memenuhi kebutuhan masyarakat akan tokasi. Ini adalah anyaman dari bambu yang terdiri dari wadahnya sendiri dan dilengkapi dengan tutup. Memudahkan mereka yang akan bersembahyang membawa persembahan.

Menurut Dewa, karena letusan Gunung Agung, maka harga tokasi turun. Semula tokasi dijual antara 5.000 sampai dengan 15.000 rupiah bergantung ukuran. Saat ini, harganya 2.000 sampai dengan 10.000 rupiah. Padahal, mereka harus mengambil bahan baku dari desa asalnya, sehingga ongkos bahan baku naik.

Tantangan bagi para pengrajin seperti Dewa dan saudara sedusun juga menyangkut pemasaran produk tokasi. Saat ini tidak banyak upacara keagamaan yang diselenggarakan di Karangasem, tempat tokasi biasa dipasarkan.

Dewa dan para penyintas yang ada di Pasar Sinduwati adalah contoh ketangguhan menghadapi bencana. Mereka tak duduk diam dan berpangku tangan menunggu bantuan. Mereka sekuat tenaga tetap berusaha untuk menghidupi dirinya sendiri.

“Lumayan hasil dari tokasi dapat kami gunakan untuk beli lauk pauk.” Kata Dewa di siang yang berangin itu. Menurutnya, lauk sangat penting untuk melengkapi bantuan dasar seperti beras dan minyak yang disalurkan oleh pemerintah.

Sejatinya, kesibukan menganyam bambu lebih dari sekadar lauk pauk. Itu adalah wujud ketangguhan masyarakat di tengah krisis yang mengganggu kehidupan mereka sehari-hari. Penyintas merangkai bilah-bilah bambu menjadi tokasi, pada saat yang sama, mereka sebenarnya sedang menganyam kembali kehidupannya.

Berbagai pihak dapat membantu para penyintas ini dengan mencarikan pasar bagi produk mereka. Dukungan dapat pula berupa pelatihan agar anyaman yang dihasilkan tak hanya tokasi.

Kegiatan di pos pengungsi pun dapat ditularkan ke pos pengungsi yang lain. Harapannya, fenomena alam tak sampai mengganggu kehidupan dan penghidupan penduduk di Bali.

Pemberdayaan masyarakat di pos pengungsi ke depannya juga bermanfaat bagi masyarakat di wilayah lain di negeri ini. Warga di lereng-lereng gunung yang aktif, di bantaran sungai yang kerap banjir, di pesisir yang rawan tsunami tak lagi menganggap peristiwa alam sebagai bencana. Mereka adalah masyarakat yang tangguh dan dapat hidup secara harmonis dengan alam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *