Penanggulangan Bencana: Menjabarkan Wisata Bencana

Pre-wedding berlatar belakang erupsi Gunung
Beberapa Pasangan Pengantin Memanfaatkan Fenomena Letusan Gunung untuk Foto Pre-Wedding (Sumber: @Sutopo_BNPB)

KARANGASEM–Mengubah fenomena alam yang menimbulkan bencana seperti letusan gunung atau banjir menjadi obyek bencana bukanlah perkara yang mudah dilakukan. Hal ini terjadi karena isu ini sangat sensitif. Salah sedikit dalam menyampaikan atau melaksanakannya dapat menimbulkan persoalan.

Contoh kasus yang sekarang terjadi adalah pada saat BNPB melakukan upaya untuk mempromosikan aktivitas Gunung Agung sebagai obyek wisata kepada wisatawan dalam dan luar negeri. Sebagian pihak memandang upaya ini perlu dilakukan. Namun, pihak lain tidak setuju. Mereka berpandangan upaya ini tidak sensitif pada penderitaan sebagian masyarakat yang sedang terdampak.

Di tengah sengkarut perdebatan antara perlu dan tidak perlu mempromosikan wisata bencana kepada khalayak, seorang pelajar Indonesia di The Australian National University, Karizki Hadyanafi, melakukan penelitian mengenai wisata bencana. Dia mengeksplorasi alasan seseorang berkunjung ke lokasi dan melakukan wisata bencana, menelisik pengaruh wisata bencana kepada warga terdampak, menyigi dampak wisata bencana dalam penanggulangan bencana, dan memberikan masukan bagaimana pengelolaan wisata bencana yang baik. Berikut ini ringkasan penelitiannya tersebut.

Sekilas Pandang Wisata Bencana

Wisata bencana oleh beberapa peneliti dianggap sebagai bagian dari the dark tourism atau wisata gelap. Jenis wisata ini berhubungan dengan kematian, bencana, atau penderitaan. Motivasi wisatawan yang datang pada the dark tourism adalah kenikmatan melihat penderitaan orang lain dan sebagai bentuk kontemplasi menghadapi kematian.

Kendati wisata bencana menjadi bagian dari the dark tourism, namun sejatinya terdapat perbedaan. Hal pertama yang membedakan adalah sifat wisata bencana yang sementara. Satu tempat menarik untuk dikunjungi sebagai wisata bencana manakala malapetaka melanda tempat tersebut. Setelah bencana itu lewat atau berhasil diatasi, maka tempat tersebut tidak lagi menarik.

Perbedaan kedua antara wisata bencana dengan the dark tourism adalah sifatnya yang spontan. Spontanitas ini menyebabkan infrastruktur dan layanan dalam wisata bencana tidak selengkap the dark tourism. Biasanya, infrastruktur dan layanan wisata bencana muncul dengan sendirinya. Di sisi lain, pada the dark tourism, berbagai infrastruktur dan layanan telah disiapkan dengan baik.

Namun begitu, wisata bencana dapat berubah menjadi the dark tourism. Ini adalah kondisi ketika malapetaka dilanggengkan dalam wujud monumen atau museum sebagai peringatan. Sebagai contoh, Museum Tsunami di Aceh adalah bentuk peringatan bencana yang melanda wilayah tersebut beberapa tahun yang lampau.

Selain perbedaan, terdapat kesamaan antara wisata bencana dengan the dark tourism, yaitu motivasi orang-orang yang hadir di lokasi. Rasa penasaran adalah motivasi utama para pengunjung. Mereka datang karena ingin memuaskan rasa penasarannya terhadap fenomena alam yang terjadi. Satu peristiwa bencana yang langka biasanya menarik orang-orang datang untuk menuntaskan rasa penasaran mereka.

Selain rasa penasaran, wisata bencana terjadi karena orang ingin terlibat langsung secara emosional dengan lokasi terdampak. Sebagai tambahan, motivasi yang lain adalah pendidikan. Tak kalah penting, perasaan senasib sepenanggungan dan ingin menolong korban bencana juga menjadi motivasi yang mendorong orang datang. Motivasi terakhir ini terutama dialami oleh wisatawan domestik yang merasa memiliki ikatan khusus dengan mereka yang terdampak.

Dampak Wisata Bencana

Banyaknya wisatawan yang datang ke lokasi bencana dapat menyebabkan beberapa akibat. Pertama, para pengunjung yang tidak dibekali pengetahuan risiko yang cukup dan kesiapsiagaan dapat menjadi korban bencana.

Kedua, para pengunjung dapat memengaruhi jalannya upaya penanggulangan bencana. Hal ini terjadi karena mereka juga memerlukan berbagai kebutuhan yang bisa menjadi tambahan beban dan tanggungan bagi penyelenggaraan penanggulangan bencana. Selain itu, hadirnya wisatawan di lokasi bencana dapat menghambat upaya penyelamatan atau pencarian korban, termasuk menghambat upaya pertolongan medis.

Ketiga adalah dampak psikologis terhadap warga terdampak. Hal ini bisa terjadi karena warga terdampak tidak nyaman dengan kehadiran orang asing. Mereka khawatir dengan keselamatan barang-barang miliknya. Mereka juga tidak suka saat para pengunjung mengambil gambar tanpa izin atau mengeluarkan pertanyaan dan komentar yang keliru.

Manfaat Wisata Bencana

Selain berbagai dampak negatif, bila dikelola dengan baik sejatinya wisata bencana memberikan banyak manfaat, bahkan dapat mengurangi risiko bencana. Pertama adalah keuntungan secara ekonomi dan perhatian. Sisi ekonomi ini sangat penting dan diperlukan untuk pemulihan mata pencaharian warga yang terdampak bencana.

Sementara itu, perhatian khalayak ramai dapat mendatangkan bantuan serta mampu memberikan tekanan kepada pemerintah untuk lebih baik lagi dalam melakukan upaya penanggulangan bencana. Bantuan pada masa bencana sangat bermanfaat untuk meringankan penderitaan pada masa tanggap darurat dan mendukung percepatan upaya rehabilitasi dan rekonstruksi.

Manfaat kedua dari wisata bencana adalah keuntungan non-materi. Manfaat ini berupa pendidikan pengurangan risiko bencana. Saat pengunjung datang langsung ke lokasi bencana dan berinteraksi dengan ancaman serta warga terdampak, mereka dapat belajar secara efektif mengenai pendidikan kesiapsiagaan menghadapi bencana. Hal ini lebih efisien dibandingkan sekadar memberikan teori. Bagi warga terdampak, wisata bencana mendorong mereka agar lebih siap manakala bencana susulan datang melanda.

Mengelola Wisata Bencana

Mengingat dampak dan manfaat yang ditimbulkan, maka pengelolaan wisata bencana harus dilakukan secara cermat. Beberapa prinsip yang perlu diperhatikan adalah prinsip tidak membahayakan (no harm principle). Berdasarkan prinsip ini, maka perlu ditinjau apakah menyelenggarakan wisata bencana akan memperburuk keadaan atau justru memberikan manfaat bagi lokasi bencana dan warga terdampak.

Prinsip kedua adalah analisis risiko dan manfaat. Berdasarkan prinsip ini, maka harus diperhatikan bahwa manfaat yang didapatkan dari aktivitas wisata bencana jauh melebihi risiko yang mungkin ditimbulkan.

Dari dua prinsip pengelolaan wisata bencana tersebut di atas, maka beberapa panduan berikut ini perlu mendapat perhatian.

Pertama adalah asas keselamatan, yaitu perhatian utama pada keselamatan warga terdampak dan petugas penanggulangan bencana. Keselamatan di sini bukan hanya fisik, namun juga psikologi warga terdampak. Berdasarkan asas ini, maka keselamatan wisatawan juga menjadi penting. Pembekalan pengetahuan dan informasi kesiapsiagaan kepada mereka perlu mendapatkan perhatian.

Asas kedua adalah penerima risiko. Hal ini berarti wisata bencana dan turis yang berkunjung tidak menimbulkan risiko tambahan bagi para pelaku penanggulangan bencana dan warga terdampak.

Asas ketiga adalah peraturan dan otoritas yang harus dipatuhi oleh para pengunjung. Sebagai contoh, saat ini di Gunung Agung masyarakat termasuk pengungsi dan wisatawan tidak diperkenankan untuk melakukan aktivitas di radius 8 dan perluasan sektoral 10 kilometer dari puncak gunung.

Asas keempat adalah manakala donasi yang datang bersamaan waktunya dengan wisata bencana harus dapat memberikan manfaat maksimal kepada warga terdampak. Donasi sebaiknya dalam bentuk uang tunai agar dapat menggelorakan kembali perekonomian lokal yang lesu karena bencana terjadi. Dalam hal ini, donasi dalam bentuk barang tidak direkomendasikan karena dapat menggangu perekonomian daerah dan seringkali tidak sesuai dengan kebutuhan warga terdampak.

Selain panduan wisata bencana tersebut, perlu juga ditentukan siapa yang nantinya akan mengelola wisata bencana. Hendaknya pengelola wisata bencana adalah warga terdampak. Dengan demikian, ketidaksetujuan warga terdampak terhadap wisata bencana dapat dihindari.

Selain itu, warga terdampak pun dapat menerima keuntungan secara ekonomi dan sebagai alternatif mata pencaharian yang dapat menambah pendapatan. Manakala pendapatan warga meningkat, maka upaya penanggulangan bencana akan lebih mudah dilakukan. Tak hanya itu, ketangguhan warga pun dapat tercipta.

Contoh Wisata Bencana

Di Indonesia, wisata bencana sejatinya bukanlah hal yang baru. Pasca letusan Gunung Merapi di Yogyakarta pada tahun 2010, warga terdampak bahu membahu secara mandiri menciptakan wisata bencana di tapak-tapak bencana.

Di Merapi, warga terdampak mengelola sendiri wisata bencana. Mereka melakukan bagi hasil dan tidak memperbolehkan warga dari luar turut serta memiliki usaha di bidang wisata bencana.

Hasil dari wisata bencana di Merapi memberikan beberapa manfaat. Pertama adalah alternatif pendapatan bagi warga yang lahan pertaniannya atau tambang pasirnya tidak bisa diakses karena erupsi. Keuntungan kedua adalah tambahan modal bagi warga dalam proses rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana.

Selain di Merapi, BNPB telah melakukan pendampingan wisata bencana di Kabupaten Bojonegoro. Di lokasi ini, banjir kerap terjadi setiap tahun karena meluapnya Sungai Bengawan Solo. Menyikapi hal ini, maka Bupati Bojonegoro, Suyoto memiliki ide wisata bencana.

Di Bojonegoro, penggunaan lahan di Desa Ngringinrejo, Kecamatan Kalitidu, bantaran sungai Bengawan Solo dan kerap dilanda banjir merupakan perkebunan belimbing. Melihat hal ini, maka Bupati mengajak wisatawan untuk memetik belimbing sambil naik perahu saat banjir. Dengan cara ini, banjir memberikan berkah. Belimbing yang harganya murah jika dipetik langsung akan naik harganya manakala dipetik menggunakan perahu saat banjir.

Dari uraian di atas, kita dapat melihat bahwa lokasi bencana tidak hanya menawarkan nestapa. Lebih dari itu, ternyata tapak bencana juga memberikan harapan yang nyata. Hal ini dapat tercapai melalui wisata bencana yang dikelola dengan saksama.

Bagaimana dengan Bali? Siapkah Bali mengubah narasi bencana Gunung Agung menjadi tambahan cerita keindahan dari Pulau Dewata?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *