Opini: Smart City untuk Simeulue sebagai Kawasan Terluar Indonesia

Keindahan Pantai di Simeulue (Sumber: Kompasiana)

Simeulue Selayang Pandang

Pada medio September 2017 yang lalu, saya berkesempatan untuk mengunjungi Kabupaten Simeulue, Provinsi Aceh. Kabupaten Simeulue adalah salah satu daerah terluar di belahan Barat Indonesia. Kabupaten ini memiliki segudang potensi yang belum digali, namun juga tantangan yang mesti dihadapi.

Posisi Kabupaten Simeulue menjadi tantangan utama daerah ini. Selain berada di wilayah terluar Indonesia, Simeulue juga berada dekat dengan zona tumbukan lempeng yang rawan bencana gempa bumi dan tsunami. Tercatat beberapa kali kabupaten ini disapa gempa dan tsunami. Pada 1907, misalnya, tsunami menghantam pantai-pantai di Simeulue dan menyebabkan banyak korban jiwa.

Setelah itu, bersamaan dengan tsunami besar pada 26 Desember 2004, Simeulue pun turut dilanda tsunami. Namun, pada peristiwa ini tidak seperti daerah lain di Provinsi Aceh yang mengalami banyak korban. Simeulue memiliki kearifan lokal yang dinamakan smong yang memungkinkan warga di sana terhindar dari malapetaka tsunami.

Pada September lalu, saya menyusuri jalanan di Simeulue yang telah berhasil menghubungkan seluruh Pulau. Kendati begitu, belum semua jalan diaspal. Selain melalui jalur darat, infrastruktur transportasi di Simeulue juga didukung oleh transportasi udara sekali sehari dari Medan dan kapal ferry. Namun, lagi-lagi karena letaknya, maka faktor cuaca kerap mengganggu transportasi udara dan kapal dari dan keluar dari Simeulue.

Dari sisi kependudukan, warga Simeulue banyak yang meninggalkan daerahnya untuk bersekolah dan bekerja di Sumatera daratan, terutama ke Banda Aceh, Meulaboh, atau Medan. Akibatnya, Simeulue pun ditinggalkan di belakang.

Mereka yang tinggal di Simeulue harus berjibaku dengan berbagai keterbatasan. Sebut saja para nelayan di pedalaman yang tidak mampu memasarkan hasil tangkapan ikannya ke Kota Sinabang—ibukota Kabupaten Simeulue. Mereka terkendala pasar karena bergantung pada tauke dan untuk memasarkan hasil tangkapannya ke kota memerlukan banyak biaya. Mereka juga kerap menghadapi ketidakpastian karena melaut itu bergantung pada cuaca. Bila cuaca baik, mereka berani mengayuh robin—perahu kecil yang biasa digunakan oleh nelayan—ke tengah laut. Namun, jika cuaca sedang buruk, maka mereka hanya berani mengarungi perairan yang berdekatan dengan daratan.

Potensi Simeulue

Kabupaten Simeulue sangat perlu untuk dikembangkan karena beberapa alasan. Pertama keindahan alamnya dapat menjadi potensi wisata yang belum dikelola dengan baik. Saya berkesempatan bertemu dengan beberapa turis dari Argentina, mereka memilih ombak di Simeulue untuk berselancar karena mereka merasa di tempat lain seperti Bali sudah terlalu ramai. Keelokan alam dan ombak di Simeulue menanti untuk dikunjungi, namun perlu sarana prasarana pendukung dan promosi lebih gencar lagi.

Kedua adalah faktor sumber daya alam di Simeulue yang melimpah. Hutan-hutan di Simeulue menjanjikan berbagai kayu. Di Kabupaten ini juga ada perkebunan sawit. Selain itu, kekayaan lautnya pun belum banyak digali, sehingga lobster, teripang, kerapu, dan berbagai komoditas lainnya tidak terserap dengan baik.

Alasan ketiga bagi pengembangan Simeulue adalah karena posisinya sebagai salah satu pulau terluar Indonesia. Pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi) melalui program nawa cita salah satunya adalah menyasar pembangunan dari pinggiran. Selain itu, cita-cita Jokowi adalah agar Indonesia menjadi poros maritim dunia. Konsekuensinya, pembangunan daerah terluar Indonesia menjadi keniscayaan karena mengandung muatan politis yang menguntungkan bagi Jokowi bila digarap dan merugikan bagi beliau jika diabaikan.

Langkah yang Perlu Dilakukan untuk Pengembangan Simeulue

Saat ini tengah digelorakan Gerakan Menuju 100 Smart City. Gerakan ini berupaya untuk melakukan sinergi antara lembaga pemerintah dengan swasta untuk mengatasi berbagai persoalan di perkotaan. Cara yang ditempuh adalah pemerintah pusat memberikan pendampingan kepada kabupaten/kota untuk meletakkan dasar-dasar yang diperlukan bagi pengembangan Smart City.

Tahun ini, terpilih 25 kabupaten/kota yang menjadi sasaran program Smart City. Sayangnya belum ada di antara kabupaten/kota terpilih yang berada di posisi terluar negeri ini. Dalam dua tahun lagi, direncanakan ada 75 kabupaten/kota lain yang akan dipilih untuk program Smart City. Harapannya, semoga kabupaten/kota yang berada di posisi terluar Indonesia, seperti Simeulue, bisa turut serta menjadi bagian dari 75 kabupaten/kota yang terpilih tersebut.

Pelibatan kabupaten/kota yang berada di lokasi terluar Indonesia sangat penting untuk dilakukan. Berdasarkan pertimbangan kota/kabupaten terpilih untuk program 100 Smart City, maka terdapat beberapa faktor seperti dimensi pembangunan sektor unggulan, dimensi pembangunan pemerataan dan kewilayahan, serta nawa cita. Kabupaten pinggiran seperti Simeulue memenuhi pertimbangan pemerataan dan nawa cita, serta memiliki potensi daerah yang belum dikelola dengan baik. Dengan demikian, maka sudah selayaknya kabupaten ini menjadi bagian dari kabupaten/kota yang terpilih dalam program 100 Smart City nantinya.

Apabila Kabupaten Simeulue terpilih dalam 100 Smart City, maka langkah pertama yang harus dilakukan adalah dengan menyiapkan Framework for Smart City Readiness. Kerangka kerja untuk kesiapan Smart City ini sangat diperlukan bagi Simeulue. Pemerintah Pusat dapat mendampingi Pemerintah Daerah Kabupaten Simeulu untuk menyiapkan kerangka kerja Smart City.

Kerangka kerja Smart City yang dimaksud terdiri dari lima dimensi, yaitu nature yang meliputi sumber daya alam, kehidupan hayati, dan ekosistem. Selanjutnya dimensi structure yang meliputi sumber daya manusia, birokrasi, dan anggaran. Dimensi ketiga adalah infrastruktur baik itu fisik, teknologi informasi dan komunikasi, serta sosial. Selanjutnya adalah dimensi superstruktur yang terdiri dari kebijakan, kelembagaan, dan pelaksanaan. Adapun dimensi terakhir adalah culture yang terdiri dari masyarakat, tradisi, inovasi, dan interaksi.

Pemilihan Sektor Unggulan

Bersamaan dengan penyiapan kerangka kerja kesiapan Smart City bagi kabupaten pinggiran seperti Simeulue, maka langkah kedua yang perlu dilakukan adalah pemilihan sektor unggulan yang akan dikembangkan di kabupaten ini. Pilihan yang ada adalah sektor wisata, baik itu wisata alam, budaya, maupun pendidikan.

Wisata alam dapat dilakukan dengan melakukan eksplorasi pantai-pantai memesona yang ada di Simeulue. Wisata budaya dapat dikerjakan dengan menampilkan berbagai khasanah budaya Simeulue seperti pantun, tarian, bercerita, dan lain-lain. Terakhir wisata pendidikan dapat dikerjakan dengan menyodorkan kearifan lokal smong–yang mampu menyelamatkan ribuan warga Simeulue dari hantaman tsunami–kepada wilayah lain di Indonesia atau negara lain di dunia yang juga menghadapi ancaman bencana tsunami.

Sektor unggulan kedua yang dapat dipilih untuk dikembangkan di Kabupaten Simeulue adalah sumber daya alam. Kekayaan alam yang ada baik itu di darat maupun di laut dapat dimanfaatkan lebih jauh lagi dengan menciptakan pasar dan perbaikan infrastruktur agar lalu lintas komoditas dan uang dapat berjalan dengan lancar. Selain itu, promosi berbagai produk unggulan dari Simeulu juga perlu digalakkan. Terakhir, tidak kalah pentingnya, adalah dukungan kebijakan, pendanaan, dan keahlian dari Pemerintah Pusat.

Tantangan Pengembangan Simeulue

Apabila Pemerintah Pusat dan Daerah akan mengembangkan Simeulue, maka beberapa hal berikut ini bisa menjadi kendala. Pertama untuk sektor wisata. Simeulue sebagai bagian dari Provinsi Aceh menerapkan syariat Islam sebagai pelengkap peraturan daerahnya. Penerapan peraturan khusus ini mungkin bisa memengaruhi wisatawan yang akan berkunjung ke Simeulue terutama wisatawan asing.

Tantangan selanjutnya untuk sektor wisata adalah belum adanya pelibatan masyarakat Simeulue. Berdasarkan wawancara dengan nelayan di Teupah Selatan—salah satu kecamatan di Simeulu—wisata yang ada selama ini belum melibatkan masyarakat. Di Simeulue, masyarakat belum merasakan manfaat adanya hotel dan wisatawan yang datang ke sana.

Fasilitas pendukung untuk wisata, yaitu penginapan juga perlu mendapatkan perhatian untuk lebih dikembangkan. Saat ini, sangat sulit untuk mendapatkan informasi penginapan yang layak di daerah Simeulue ini. Sebab, pilihan yang ada dan tersedia di sini masih sangat terbatas.

Selain itu, fasilitas jaringan komunikasi juga menjadi kendala karena hanya ada satu provider yang sudah merata ke seluruh wilayah Kabupaten Simeulue. Provider yang lain ada, namun masih terbatas di sekitar Ibukota Kabupaten Sinabang.

Teknologi untuk Pengembangan Simeulue

Melihat arti penting Simeulue, potensinya, dan tantangan yang dihadapi, maka pengembangan Simeulue memerlukan dukungan teknologi. Adanya program 100 Smart City barangkali bisa menjadi jawaban bagi kebutuhan Simeulue dan daerah pinggiran lain di Indonesia agar lebih berkembang.

Pemerintah pusat dan pemerintah daerah dibantu oleh pihak swasta dapat mengembangkan teknologi yang mendukung pertumbuhan wilayah pinggiran Indonesia. Teknologi yang membantu wisatawan yang akan berkunjung ke wilayah pinggiran seperti Simeulue dengan memberikan informasi mengenai transportasi, akomodasi, dan destinasi wisata. Selain itu, diharapkan adanya teknologi yang mampu menyokong masyarakat setempat untuk lebih maju, berpendidikan, dan memiliki pasar bagi berbagai komoditasnya.

Dengan adanya dukungan kedua teknologi ini, diharapkan wilayah pinggiran Indonesia pun akan turut serta berkembang serupa dengan kota/kabupaten lainnya di Indonesia. Dari sini, maka pemerataan pembangunan di seluruh wilayah dan membangun dari pinggiran pun dapat terlaksana.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *