Opini: Aplikasi Pintar untuk Hadapi Macet

Macet yang setiap hari terjadi di kota-kota besar (source: cnn.com)

Gerakan Menuju 100 Smart City

Diperkirakan pada tahun 2040 nanti, 80% penduduk Indonesia akan tinggal di perkotaan. Lonjakan jumlah penduduk tersebut jika tidak ditanggapi dengan baik akan menimbulkan banyak persoalan seperti kemacetan, pengangguran, lingkungan kumuh, kemiskinan, dan persoalan sosial lainnya.

Sinergi di antara lembaga pemerintah dan swasta diperlukan untuk mengatasi berbagai persoalan di perkotaan. Salah satu program yang dilakukan adalah Gerakan Menuju 100 Smart City. Inti dari gerakan ini adalah adanya dukungan pemerintah pusat kepada pemerintah kabupaten/kota untuk meletakkan fondasi yang diperlukan guna pengembangan Smart City.

Gerakan Menuju 100 Smart City dimulai di Makassar dan dipilih 25 Kabupaten/Kota sebagai tahap pertama. Selanjutnya, pada dua tahun ke depan akan dipilih lagi 75 Kabupaten/Kota, sehingga pada tahun 2019 tercipta 100 kota yang pintar.

Kota Bekasi dan Tangerang sebagai Smart City

Di antara 25 kota yang terpilih dalam program awal Gerakan Menuju 100 Smart City adalah Kota Bekasi dan Tangerang. Sebab lokasinya yang berdekatan dengan Jakarta, maka dua kota ini memiliki peran yang sangat strategis. Keduanya menjadi kota-kota penyangga Jakarta yang ditandai dengan pesatnya pembangunan, kesempatan kerja, dan penyediaan fasilitas lainnya.

Di sisi lain, Kota Bekasi dan Tangerang juga mengalami persoalan yang mirip dengan Jakarta. Dua kota dihadapkan pada berbagai problem khas kota besar, yaitu kemacetan, kemiskinan, ketimpangan sosial, hingga kriminalitas.

Di antara berbagai persoalan tersebut, barangkali kemacetan adalah yang paling terasa. Sebagai contoh, pembangunan yang dilakukan di berbagai ruas jalan di Tol Cikampek telah menyebabkan kemacetan yang parah di ruas tol tersebut. Akibatnya, waktu tempuh warga Bekasi yang bekerja di Jakarta menjadi berlipat ganda. Baru-baru ini Presiden Jokowi meresmikan tol Bekasi-Cawang-Kampung Melayu (Becakayu) yang sudah mangkrak selama bertahun-tahun, namun masih perlu dilihat perannya dalam mengatasi kemacetan Jakarta-Bekasi.

Dilema Kemacetan

Sekadar berbagi pengalaman pribadi, pada arus mudik tahun 2017, saya bersama keluarga melintasi Tol Cikampek arah ke Jakarta. Saat itu, kami sangat bergantung pada aplikasi Google Maps dan Waze untuk menunjukkan lokasi-lokasi yang macet. Saat kami sampai di Cipali, kedua aplikasi menunjukkan warna merah penanda macet di sepanjang tol dari Cikopo hingga Jakarta. Dengan berat hati, maka kami pun memilih untuk keluar dari tol dan mengambil jalur Pantura melalui Karawang kemudian Bekasi.

Sayangnya, kami justru terjebak kemacetan yang sama parahnya dengan di tol. Melalui jalur Pantura hingga Bekasi persaingan tak hanya dengan sesama mobil, namun juga dengan sepeda motor dan berbagai kendaraan lainnya.

Pelajaran yang kami petik pada saat itu adalah jangan terlalu bergantung kepada aplikasi untuk menunjukkan kemacetan. Sebab, aplikasi tersebut seringkali tidak lengkap. Misalnya, dia menunjukkan kemacetan yang terjadi di ruas tol, namun tidak menunjukkan kemacetan yang terjadi di jalur Pantura. Sebagai akibatnya, kami pun membuat keputusan yang keliru. Selanjutnya, kami harus menderita di tengah kemacetan dan waktu tempuh yang lebih lama. Kerugian pun terjadi dari sisi waktu dan juga tambahan biaya untuk makan dan bahan bakar.

Pengalaman menghadapi kemacetan tersebut juga sering dihadapi oleh rekan kerja di kantor. Sebelum pulang, biasanya teman-teman akan memeriksa aplikasi yang menunjukkan jalan-jalan yang macet. Terlihat jelas mereka frustasi karena semua jalur menunjukkan kemacetan.

Aplikasi Pintar untuk Menghadapi Kemacetan

Menghadapi persoalan tersebut, maka diperlukan sebuah aplikasi yang pintar untuk menghadapi kemacetan. Dalam bayangan saya, aplikasi tersebut tidak hanya menunjukkan ruas-ruas jalan yang macet. Lebih dari itu, aplikasi pintar tersebut juga mampu menunjukkan rute-rute alternatif yang mungkin dilalui oleh seorang pengguna. Dengan demikian, maka seorang pengguna tak hanya mengetahui ruas jalan yang macet, namun juga memiliki pilihan-pilihan jalur alternatif yang bisa dilalui dan tidak macet.     

Aplikasi yang pintar untuk menghadapi kemacetan juga tidak terpaku pada informasi jalan semata. Saat ini, sudah banyak tersedia aplikasi untuk angkutan umum seperti kereta api Commuter Line Jabodetabek, Transjakarta, bahkan Angkutan Kota (Angkot). Dengan demikian, sebuah aplikasi pintar untuk menghadapi kemacetan juga mesti mampu memberikan saran atau alternatif kepada penggunanya mengenai angkutan umum yang tersedia dan berada paling dekat dengan lokasi pengguna. Bisa jadi, sebuah aplikasi pintar juga mampu terintegrasi dengan layanan ojek dalam jaringan yang kini telah banyak tersedia di kota-kota seperti Bekasi dan Tangerang.  

Selain itu, aplikasi yang pintar juga bisa memberikan saran kepada pengguna mengenai waktu yang paling tepat untuk berkendara agar tidak terjebak kemacetan. Berdasarkan data-data yang ada, kemacetan biasanya terjadi pada waktu-waktu tertentu. Oleh sebab itu, dapat diprediksi kapan waktu yang tidak macet. Nah, informasi inilah yang kiranya bisa dimanfaatkan oleh aplikasi pintar tersebut.

Manakala seseorang telah memutuskan untuk menempuh satu perjalanan, namun kemudian di tengah jalan dia terjebak macet, maka orang ini memerlukan informasi lain yang menarik, misalnya tempat-tempat istirahat atau kafe atau pom bensin yang dilengkapi toilet. Aplikasi yang pintar untuk menghadapi kemacetan seharusnya dilengkapi dengan informasi tempat-tempat menarik yang terdekat dengan penggunanya. Harapannya, pengguna dapat segera memutuskan, apakah ia akan tetap mengarungi kemacetan atau menunggu di tempat-tempat yang menarik?

Tantangan Bagi Aplikasi Pintar Menghadapi Kemacetan

Berbagai fitur yang diharapkan ada dalam sebuah aplikasi pintar untuk menghadapi kemacetan seperti sudah disebutkan di atas tak lepas dari berbagai kendala. Sebut saja manakala semua jalur macet pada waktu yang sibuk atau karena ada satu peristiwa penting yang menyebabkan kemacetan. Pada kondisi demikian, barangkali aplikasi pintar tersebut tidak mampu memberikan alternatif jalan yang bisa dilalui.

Kendati aplikasi pintar itu tidak mampu memberikan alternatif rute, namun dia bisa menyarankan layanan trasportasi umum yang tersedia, barangkali informasi tempat parkir, dan juga tempat menarik untuk menunggu. Dengan begitu, seseorang yang menggunakan aplikasi pintar tersebut tidak perlu menghabiskan waktu terlalu lama dan energi yang telampau besar serta biaya yang begitu banyak hanya untuk mengarungi kemacetan. Dia bisa saja menghabiskan waktu di tempat nongkrong yang asyik sambil menunggu macet atau menyelesaikan pekerjaan.

Kendala lainnya serupa dengan tantangan yang dihadapi berbagai aplikasi yang lain. Sebut saja kuota internet yang harus tersedia dan baterai gawai yang boros. Guna menghadapi hal ini, maka bisa diatasi dengan menggunakan modem dan power bank. Kiranya hambatan ini tidak terlalu berpengaruh pada warga kota besar yang sering menghadapi cobaan ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *